Press "Enter" to skip to content

Aksi Hingga Bermalam di Kampus, Mahasiswa Korban DO Dibubarkan

Empat mahasiswa korban Drop Out (DO) di Universitas Khairun (Unkhair) yakni Arbi, Ikra, Fahrul dan Wahyudi kembali melakukan unjukrasa meminta Rektor Unkhair Husen Alting mencabut SK DO mereka. Aksi keempat mahasiswa ini berlangsung sekitar 11.30 WIT (siang) di Gedung Rektorat Unkhair hingga berujung dibubarkan oleh sejumlah keamanan kampus, Selasa malam (28/1).

Rencananya, keempat mahasiswa ini akan menginap di Pelataran Gedung Rektorat dan melakukan aksi mogok makan hingga tuntutan mereka dapat dijawab oleh pihak universitas.

Mereka kembali menuntut agar Rektor Unkhair segera mencabut Surat Pemberhentian Studi (SK DO) yang dikeluarkan sejak 12 Desember 2019.

Ikra S. Alkatiri, salah satu korban DO mengatakan, aksi bentang spanduk yang mereka langsungkan bertujuan meminta rektor untuk mencabut SK DO.

“Kami ingin bertemu rektor dan mendesaknya untuk mencabut kembali SK DO kami berempat” ujar mahasiswa jurusan PKN ini kepada mantra.

Ia menambahkan, aksi akan tetap dilangsungkan hingga ada kejelasan dari Rektor Unkhair, “Akan kami laksanakan hingga rektor memberi kejelasan”.

Empat mahasiswa ini di-drop out karena mengikuti aksi damai memperingati hari kemerdekaan West Papua pada 2 Desember 2019 lalu. Keempatnya disebut mencederai nama baik kampus dan mengancam integritas bangsa.

Pembubaran Oleh Pihak Keamanan

Sesuai pantauan mantra, sekitar pukul 21.20 WIT sejumlah pihak keamanan mendatangi keempat mahasiswa tersebut dan mendesak mereka untuk membubarkan diri tanpa kekerasan.

Menanggapi pembubaran aksi, Arbi M. Nur kepada mantra menyampaikan tindakan tersebut merupakan bentuk ancaman dari kebebasan berpendapat.

“Pembubaran ini merupakan tindakan yang tidak menghargai kebebasan berpendapat, karena kami duduk di Depan Rektorat dalam keadaan yang aman” katanya.

Menurutnya, tindakan tersebut juga dilakukan oleh salah seorang sopir pribadi rektor, “Keterangan lain menyebutkan dia juga ajudan rektor” tambahnya.

Sebagaimana diberitakan, Kuasa Hukum dari 4 mahasiswa korban DO, Rizkal Kunio, Pengacara Kantor Advokat Kuswandi Buamona, menyampaikan, gugatan perkara SK DO akan diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) di Ambon, Maluku, setelah tiga bulan mendatang.

“Di sana kita lebih mendapat kepastian, apakah SK itu dikeluarkan sudah sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik atau belum” ujarnya saat diwawancarai awak media di Pelataran Rektorat Unkhair, pada Senin 13 Januari 2020 (pekan lalu).

Reporter: Fadli Kayoa (magang)
Editor: Redaksi mantra
Foto: Fadli/Rian

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *