Press "Enter" to skip to content

Amarah Cinta Kiemalaha

Tiga Puisi Muhammad Diadi

AMARAH CINTA KIEMALAHA

Pernah kulihat tangisan Kiemalaha Kiema-Dudu di atas Julu-julu bersama ombak teluk Kao hingga suara tangisnya terdengar sampai ke kampung Dowingo-Jo

Di atas Julu-julu dia bercerita kepadaku tentang kekasihnya Ara-Lule yang berselingkuh dengan Bahder Musang seorang utusan dari Ternate yang sombong

Lalu ia menatapku sambil berkata ikutlah denganku akan kubunuh Ara-lule bersama lelaki kurus itu dengan kapak dan tombakku agar mereka tahu bahwa aku adalah Canga

Toni honenge! teriak Kiema-Dudu di atas perahu sontak langit menjadi gelap dan seketika ia membunuh Ara-lule dan Bahder Musang di dalam O’Halu dengan kejam

Dengan air mata yang membasahi kapak dan tombaknya Kiema-Dudu berkata bahwa cinta lelaki laut adalah mempertahankan harga diri lalu ia menaiki perahunya dan berlayar entah kemana.

(dibikin di Ternate, 17 April 2020)

Seorang pengantin dari Galela tiba di Teluk Kao di tahun 1910 untuk menikah dengan pria Modole. Foto Muhammad Diadi

KAPITA JAGUNA

Waktu angin pancaroba bertiup lalu di antara teluk dehegila ada
seorang kapita dengan mata penuh
amarah menerobos laut morotai

Kain merah terbaluti di kepalanya
samarang dan salawaku disisinya
mantra dan doa disimpan rapat-rapat
di antara sema-sema perahu pakata

Dia dengan lincah menari cakalele
di atas pasir hitam tiley sebagai tanda
keberanian dan kabijaksanaan seorang
lelaki morotai laksana galela majiko

Dengan keberanian dia menaiki
perahu canga menuju sulawesi
layar perjuangan telah berkibar
teriakan perjuanga bergema wotu ye

Tubuh-tubuh tentara belanda di cincang
kepala dipisahkan dari tubuh darah amis membanjiri laut sulawesi kapal uap kompeni
di bajak serta awak kapalnya di bunuh

Setelah itu ia kambali ke tanahnya
tanah dimana ia dibesarkan dengan
nama totodo disebuah desa kecil
di pulau morotai yaitu kampung tiley.

(dibikin di Ternate 13 April 2020)

Perahu Pakata Tobelo (voorgrond) dan rorehe, Tahun 1920. Foto: Muhammad Diadi

MENJAGAMU DALAM DOPO-DOPO

Engkau itu perempuan Halmahera
yang cantiknya bak Talaga Galela
matamu serupa ngo’osa i’tokola
senyummu serupa leru capaka
manjamu serupa namo gotopo

Masih tersimpan jelas di ingatan
tentang hikayat cinta marasamalukahi
yang meminang perempuan Igobula
sungguh cintanya tak meragu kekasih
ia lelaki ngidiho yang berhati khodoba

Kemarin aku bertemu dengan pemuda
bernama Sipanyong di Pulau Tomia
dia bercerita tentang kekasih lautnya
bernama Padatimu dengan nada sendu
sungguh ia membuatku cemburu kekasih

Aku tak mau cintaku serupa kiema-dudu
yang semalam suntut mabuk di atas julu-julu karena kekasihnya berselingkuh hingga ia menari cakalele bersama air mata betapa hatinya ditombak oleh pengkhianatan

Mendekatlah perempuanku akan
aku bacakan dopo-dopo topora ketika
laut Mamuya menjadi tenang serupa
aku yang menyatakan cinta dengan hati
dan kertas yang bertuliskan puisi untukmu

(dibikin di Ternate 04 April 2020)


OLEH
Muhammad Diadi
Pecinta sejarah dan puisi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *