Press "Enter" to skip to content

Angin ‘Lewe’ dan Narasi Kepercayaan Orang Kampung tentang Wabah

Liputan Rian Hidayat Husni


Matahari itu lekas menua di langit Patani. Sisa cahayanya masih berpendar di kulit laut. Sore itu, angin dari laut perlahan berhembus menerpa daratan di paruh waktu 18.20 Wit. Mama Saadia Hi. Jumati (51) di rumahnya yang menghadap ke pantai, sedang duduk di atas tumpuan dedaunan.

Duduk bersila, ia begitu tekun memotong (menghaluskan) daun-daun itu untuk dijadikan obat-obatan. Ramuan obat kampung yang dinamai rorano ini bila dikonsumsi diyakini dapat menangkal serta mencegah diri dari segala macam penyakit.

Bagi masyarakat Patani, angin yang berasal dari laut bisa saja datang membawa lewe, suatu penyakit menular yang tiba pada waktu tertentu. Lewe biasa terjadi saat peralihan musim yang tak menentu (pancaroba).

Jika dalam bahasa Indonesia terdapat istilah “wabah”, maka orang Patani umumnya juga memiliki tutur istilah tersendiri dalam menyebut nama penyakit itu. Bagi mereka, wabah sama halnya dengan lewe–yang dalam bahasa Patani memiliki arti penyakit yang dapat berjangkit apabila terjadi kontak antara para penderitanya.

Lewe juga diartikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh kondisi iklim yang tidak stabil pada daerah tertentu. Jenis penyakit yang disebabkan oleh lewe biasanya beragam, seperti flu, batuk, demam, sakit kepala hingga sakit perut.

Keyakinan akan musim penyakit ini dituturkan oleh Mama Saadia, saat diwawancarai sore itu juga, Selasa (28/7/2020). Perempuan paruh baya ini menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap lewe sejak dahulu telah menetap menjadi keyakinan mereka.

“Angin dari laut biasanya membawa lewe (penyakit). Ini sudah diajarkan oleh moyang kami sejak dulu. Pada musim tertentu, lewe akan hadir dan orang-orang mudah sakit” ujar warga Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara itu.

Prasangka tentang datangnya penyakit ini juga masih sering dijumpai lewat tutur cerita orang-orang tua kampung di sini. Lewe telah menjadi penyakit yang diafirmasi dapat menghubungkan manusia dengan keadaan alam.

Dikisahkan, pada tahun 1978, wabah kolera pernah menyerang beberapa wilayah di jazirah Patani dan Halmahera Timur (Haltim). Menurut Sirajuddin (52), daratan Patani yang terpapar wabah kolera kala itu adalah wilayah Gemia, Peniti, Tepeleo dan salah satu kampung di wilayah Halmahera Timur, yaitu Kampung Bicoli.

Di kampung Tepeleo sendiri, kata Sirajuddin, terdapat 41 orang meninggal dunia karena wabah kolera. Sementara di kampung Bicoli terdapat 150-an korban jiwa yang meninggal.

“Sebelum lewe itu menyerang, orang-orang mencium bau anyir yang datang dari laut (dibawa oleh angin). Itu adalah tanda datangnya lewe. Saat itu di Tepeleo ada 41 orang meninggal. Di Bicoli paling banyak. Sekitar 150-an” kata lelaki yang merupakan tokoh adat desa itu.

Keterbatasan tenaga medis dan obat-obatan kala itu menjadi kendala dalam menangani wabah yang bersumber dari bakteri dan basil tersebut. Maka obat-obat kampung yang diramu dari dedaunan menjadi solusi untuk mengobati pasien penderita kolera.

Sirajuddin pun menuturkan, dalam kepercayaan orang Patani, tanda-tanda alam diyakini memiliki hukum tersendiri. Sementara manusia hanya bisa menerka kemungkinan-kemungkinan itu dengan prasangkanya, “Entah baik atau buruk, begitulah cara alam mendidik kita” katanya.

Dengan bahan-bahan yang disediakan alam pula, masyarakat di sini memanfaatkan tumbuh-tumbuhan berupa dedaunan dan rempah-rempah yang diolah menjadi obat. Cara tradisional tersebut hingga saat ini menjadi tradisi pengobatan orang-orang di Maluku Utara secara umum.

Seperti yang dipraktikkan Mama Saadia di rumahnya. Aneka dedaunan dari kombinasi berbagai jenis tumbuhan itu kemudian direndam dengan air panas selama beberapa menit. Setelah daun-daun yang sudah dikeringkan itu meresap, ramuan pun dapat diseduh, “Rasanya pahit, tapi menyehatkan” kata Mama Saadia, sembari menuangkan air rendaman dedauanan untuk diminum.

Setiap minggu, paling tidak ibu dari 5 anak ini harus beranjak ke hutan untuk mengumpulkam jenis daun-daun itu. Rorano memang merupakan jenis obat-obatan tradisional yang penggunaannya masih lestari hingga sekarang. Dapat dijumpai di berbagai daerah di Maluku Utara.

Rian Hidayat Husni

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *