Press "Enter" to skip to content

Aswad Minggu Petani Tubo, Meraup Keuntungan Dari Daun Cengkeh

Last updated on Mei 8, 2022

Surga Cengkeh ada di timur kenapa tidak dimanfaatkan. Dari dulu hingga hari ini cengkeh menjadi tanaman bersejarah yang identik dengan tanah Maluku.

Aswad Minggu

Pagi itu, matahari mengeluarkan letupan cahayanya, suasana begitu cerah, jalanan Kelurahan Tubo begitu ramai, petani berlalu lalang pergi kekebun.

Aswad Minggu (51), pria asal Tubo bergegas ke kebun cengkeh miliknya. Ia biasanya memanfaatkan waktu luangnya di waktu libur untuk meraup pundi-pundi rupiah dengan daun cengkeh.

Daun cengkeh yang biasanya menjadi sampah organik bertaburan dibawah pohon di manfaatkan menjadi minyak melalui proses penyulingan oleh Aswad.

Dia menuturkan, kesehariannya sebagai pengurus mesjid Tubo dan staf kelurahan Tubo saat waktu luang setiap paginya ia mengumpulkan dedaunan cengkeh yang berserakan dibawah pohon cengkeh di kebunnya. Setalah mengumpulkan daun cengkeh, aswad kemudian membawa ke lokasi penyulingan.

“Saya biasa bangun pagi kalau ada waktu luang, saya manfaatkan untuk mengumpulkan daun cengkeh, kemudian saya bawa ke lokasi penyulingan minyak cengkeh tepat di kebun saya,” ujarnya pada,(16/4/22).

Sejak 2019 Aswad menjalankan rutinitasnya sebagai pembuat minyak daun cengkeh. Ia mengaku mendapat ide pembuatan minyak cengkeh sejak lama.

“2019 saya mulai memanfaatkan daun cengkeh untuk penyulingan minyak. Alhamdulillah berjalan hingga hari ini,” ujarn Aswad.

Dalam sebulan ia bisa empat kali menyuling minyak. Sekali penyulingan Aswad bisa menghasilkan 2 Liter minyak daun cengkeh. Rata-rata dalam setahun, Aswad mampu menghasilkan 24 Liter minyak hasil penyulingan daun Cengkeh.

Minyak daun cengkeh biasanya dijual dengan harga Rp. 20 per 15 mili liter. Metode pemasaran Minyak daun cengkeh dijual melalui pasar swalayan Tra No Ate yang menjual berbagai produk lokal dan unggulan khas Ternate.

Satu bulan Aswad bisa meraup pundi-pundi rupiah hingga mencapai ratusan sampai Jutaan rupiah. Pria dengan 3 anak ini merasa sangat terbantu dengan usaha penyulingan minyak cengkeh. Hasil dari usaha penyulingan minyak cengkeh biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Hasil penjualan minyak cengkeh hanya untuk kebutuhan sehari-hari, kalo lebih untuk anak-anak sekolah,” tuturnya.

Aswad bilang sejak unit usaha minyak cengkeh didirikan, ia baru mengantongi izin usaha pada medio 2022. Menurutnya yang menjadi kendala ia melancarkan usahanya adalah ketersediaan laboratorium BPOM yang bisa menguji Minyak cengkeh buatannya.

Aswad mengaku daun cengkeh biasanya ia punggut dari kebun cengkehnya yang luasnya 1 hektar. Selain menghasilkan minyak cengkeh dari kebunnga sendiri, ia juga sering membeli daun cengkeh dari petani setempat dengan harga Rp. 5000 per karung.

Sejarah Cengkeh dan Kejayaannya

Cengkeh merupakan tanaman endemik Maluku Utara. Kondisi alam yang subur membuat cengkeh tumbuh subur di lereng gunung Ternate.

Sejak abad ke III SM cengkeh sudah digunakan sebagai obat-obatan dan bahan pengawetan, hal tersebut telah dibuktikan dengan penemuan arkeologi Cengkeh di sungai Eufrat, Suriah, sebuah situs peradaban Babilonia.

Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai daerah penghasil rempah cengkeh terbaik dunia dan tempat dimana Cengkeh tertua didunia, yaitu cengkeh afo.

Tanaman yang bernama latin Syzigium aromaticum telah mengundang bangsa Eropa Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris menjelajahi samudra untuk menemukan pulau penghasil rempah-rempah di Timur.

Cengkeh telah berperan dalam perniagaan dan peradaban besar Ternate pada Abad XIV di masa Kolano Sida Arif Malamo. Ternate telah menjadi kota pelabuhan dagang yang mengundang bangsa asing, yaitu Cina, India dan Persia berlabuh di Ternate.

Ternate sejak berabad-abad lalu telah menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Cengkeh pada masanya, satu pon cengkeh dibandrol dengan harga yang sebanding dengan 7 gram emas, hingga cengkeh dijuluki sebagai emas hitam.

Di masa VOC harga cengkeh dikontrol pemerintah kolonial dengan memanipoli perdagangan cengkeh. Pemerintah VOC bahkan membuat kebijakan pemusnahan pohon cengkeh Hongi Tochten dengan tujuan mengontrol penjualan cengkeh kepada pedagang selain VOC. pelayaran Hongi menjadi titik penebangan pohon cengkeh besar-besaran di daratan Ternate dan Tidore, yang tersisa dari Cengkeh yang dimusnakan adalah Cengkeh Afo yang menjadi salah satu cengkeh tertua didunia.

Cengkeh di Ternate kembali ditanami setelah penjajahan usai. Masa Orde Baru harga cengkeh melambung tinggi karena meningkatnya permintaan dari pabrik rokok yang membutuhkan pasokan cengkeh sebagai bahan baku rokok. Para petani cengkeh waktu itu menjadi sejahtera karna harga cengkeh yang mahal.

Kesejahteraan petani masa itu, tidak lama bertahan karena pada tahun 1992 Soeharto mengeluarkan peraturan presiden yang mengatur penjualan cengkeh, melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin langsung oleh Tommy anak Soeharto.

BPPC menjadi salah satu badan yang mengontrol penjualan cengkeh, dengan aturan ini monopoli perdagangan cengkeh dikuasai keluarga cendana. Sebelum adanya lembaga BPPC harga cengkeh mencapai hingga Rp.20 per kilogram. Ini harga tertinggi pada masa itu. Setalah adanya lembaga BPPC, harga cengkeh merosot hingga Rp.2000 per kilogram.

Belakangan ketika Soeharto tumbang, harga cengkeh mulai stabil dan bahkan pernah naik hingga Rp. 200 per kilogram, dan akhirnya turun hingga Rp.80 sampai Rp.100 per kilogram.

Kini harga cengkeh dibawah standar, petani cengkeh berupaya untuk mengolah cengkeh menjadi berbagai macam produk lokal, semisal Aswad yang mulai memanfaatkan daun cengkeh untuk produk minyak cengkeh olahannya.

Kasiat Minyak Atsiri Daun Cengkeh

Di kelurahan Tubo salah satu kampung tua Kota Ternate, cengkeh menjadi tanaman yang ditanami oleh seluruh petani. Secara turun temurun petani cengkeh Tubo telah mengembangkan tanaman cengkeh secara massal.

Potensi Cengkeh bergelimpang membuat Aswad berusaha untuk memanfaatkan daun cengkeh yang kebanyakan orang menganggapnya sampah. Bagi Aswad cengkeh kaya akan manfaat, mulai dari pohon hingga daun dan batang mempunyai manfaat.

“Cengkeh ini banyak manfaat. Orang tua-tua dulu memanfaatkan cengkeh sebagai obat herbal. Bahkan orang cina, Arab, India, dengan Eropa datang kamari untuk cari tanaman surga itu, atas dasar itu saya punya semangat untuk bangun usaha penyulingan ini,” tutur Aswad.

Mengutip kshk.org, Minyak atsiri hasil penyulingan dari daun cengkeh memiliki manfaat sebagai bahan pembuatan parfum dan pemberi cita rasa makanan. Selain itu minyak atsiri juga menghasilkan antibakteri.

Aswad menuturkan bahwa, minyak daun cengkeh bermanfaat untuk mengobati berbagai sakit, ia bilang minyak cengkeh berkhasiat dalam mengobati sakit kepala dan pegal-pegal.

“Minyak cengkeh ini banyak manfaatnya, kalo kepala sakit, urut kepala dengan minyak daun cengkeh lansung sembuh, minyak daun cengkeh berguna untuk minyak urut saat badan pegal-pegal, dan sakit gigi serta masih banyak manfaatnya lainnya,” tuturnya.

Daun cengkeh yang biasanya berserekan dibawah pohon cengkeh memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan bermanfaat.

Penulis : Fadli Kayoa/Mantra

Referensi; Adnan Amal -Kepulauan Rempah-Rempah, Puthut Ea – Ekspedisi Cengkeh, Irfan Ahmad -Sejarah Asal Muasal Cengkeh.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *