Inisiasi program studi Antropologi Unkhair/LPM Mantra

Kegiatan inisiasi mahasiswa baru bukan hanya acara penyambutan, tetapi bagian dari proses belajar yang sesungguhnya. Di Jurusan Antropologi Sosial, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter dan kesadaran ilmiah bagi mahasiswa baru agar memahami hakikat manusia, budaya, dan lingkungan secara langsung. Himpunan Mahasiswa Jurusan Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun melaksanakan Inisiasi dan Pengenalan Alam Jurusan pada tanggal 24 sampai 26 Oktober 2025 di Desa Buku Bualawa, Halmahera Barat. Selama tiga hari kegiatan berlangsung, kami belajar tentang kehidupan, kebersamaan, dan makna menjadi calon antropolog yang berpikir terbuka dan kritis terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Desa Buku Bualawa menghadirkan suasana yang tenang, masyarakat yang ramah, dan budaya yang kaya nilai. Di tempat ini kami belajar bahwa antropologi tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga tumbuh di tengah masyarakat. Kami berinteraksi langsung dengan warga, mendengar kisah mereka, dan menyaksikan kehidupan yang berjalan dalam kesederhanaan. Dari pengalaman itu kami memahami bahwa manusia dan lingkungannya saling membentuk satu kesatuan sosial dan budaya yang tidak bisa dipisahkan.

Inisiasi ini mengajarkan arti kebersamaan. Kami hidup dan belajar bersama, makan bersama, bekerja bersama, dan saling membantu dalam setiap kegiatan. Nilai solidaritas tumbuh tanpa paksaan karena semua berawal dari kesadaran untuk menghargai satu sama lain. Kami memahami bahwa menjadi antropolog berarti siap hadir di tengah masyarakat dengan rasa hormat dan empati yang tinggi. Etika sosial bukan hanya aturan, tetapi sikap hidup yang akan terus dibawa selama menempuh perjalanan akademik.

 

Kepekaan lapangan dan pengalaman belajar

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa baru diperkenalkan dengan dasar-dasar kerja lapangan. Kami belajar mengamati, mencatat, dan memahami fenomena sosial secara langsung. Desa Buku Bualawa menjadi laboratorium awal yang mempertemukan teori dan realitas. Melalui pengalaman ini, kami mulai memahami bagaimana konsep-konsep antropologi yang dipelajari di kampus menemukan bentuknya di lapangan. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengetahuan tidak hanya diambil dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakat.

Selain belajar memahami manusia, kegiatan ini juga menanamkan rasa tanggung jawab akademik. Kami diajak untuk disiplin, menghargai waktu, dan menjaga nama baik jurusan di tengah masyarakat. Etika menjadi hal penting dalam setiap langkah, mulai dari berbicara, bertanya, hingga bersikap. Semua itu membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Dari seluruh proses yang dijalani, kegiatan inisiasi di Desa Buku Bualawa melahirkan banyak pembelajaran penting bagi mahasiswa baru. Pertama, tumbuhnya kesadaran antropologis yang menuntun mahasiswa untuk memahami manusia secara lebih mendalam. Kedua, meningkatnya solidaritas dan semangat kebersamaan di antara mahasiswa. Ketiga, kemampuan dasar observasi dan pencatatan lapangan mulai terbentuk. Keempat, tumbuhnya empati sosial dan penghargaan terhadap budaya lokal. Kelima, terbentuknya sikap tanggung jawab akademik dan kedisiplinan moral dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa antropologi sosial.

Inisiasi di Desa Buku Bualawa bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Ia adalah proses pembentukan jati diri dan kesadaran ilmiah bagi mahasiswa baru. Dari kegiatan ini kami belajar bahwa menjadi antropolog berarti belajar menjadi manusia yang mampu memahami manusia lain dengan hati dan pikiran terbuka. Alam, masyarakat, dan pengalaman hidup bersama menjadi guru yang sesungguhnya. Dan di sana, di antara cerita warga dan hembusan angin Halmahera Barat, kami menemukan arti sejati dari belajar dan menjadi bagian dari ilmu.

 


Penulis : M. TAMHIER TAMRIN/Magang

Editor  : Apdoni Tukang