Press "Enter" to skip to content

Berduyun-duyun ke Landmark Kota Ternate

Last updated on Maret 13, 2020

Tempat Memugarkan Jiwa

Kota Ternate merupakan sebuah ikon yang menggambarkan berbagai macam keberagaman. Padunya budaya, selarasnya harmoni antar umat beragama, pesona alam, jejak kolonial, dan yang lebih unik dari kota ini adalah tersedianya ruang publik seperti taman-taman kota (real space) yang dibangun dengan aneka kolaborasi antara keindahan alam dan arsitektur ruang taman yang sangat indah. Betapa tidak, kota yang pernah dijajah oleh bangsa Portugis dan Spanyol ini pada tahun 2017 lalu merupakan salah-satu di antara kota-kota di Indonesia yang diberi predikat Kota Layak Pemuda (KLP) oleh Pemerintah Pusat lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada tanggal 21 Oktober 2017.

Meskipun kota ini tidak memiliki gedung-gedung pencakar langit layaknya kota-kota lain di Indonesia, namun Kota Ternate, justru memiliki banyak tempat berkesan untuk dinikmati. Ruang publik seperti taman kota yang tersedia membuat pengunjungnya dapat memugarkan jiwa mereka dengan menikmati keindahan alam yang dipadukan dengan tata ruang taman. Terlebih, ruang terbuka publik yang disediakan itu dapat dijangkau oleh siapa saja yang ingin merawat pikiran dan jiwanya agar selalu terbahagiakan. 

Salah-satu tempat yang dapat memugarkan jiwa kita di Kota Ternate juga yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah ketika menjejakkan kaki di Landmark Kota Ternate. Jika Dki Jakarta memiliki Monumen Nasional (Monas), Bukit Tinggi di Sumatra Barat memiliki Jam Gadang dengan ratusan bahkan ribuan pengunjungnya, Kalimantan Barat dengan Tugu Katulistiwanya, Simpang Lima Gumul (SLG) yang terdapat di Kota Kediri, maka di Ternate, kita dapat menyaksikan riuhnya canda, harmoni, gelora romantisme, kegembiraan, tawa, jamu gagasan antar komunitas, dan rasa bahagia begitu meluap di atas lantai Landmark Kota Ternate. Bangunan yang berada tepat di dekat pantai di Jalan Pahlawan Revolusi itu diresmikan oleh Wali Kota Ternate, Dr. H. Burhan Abdurahman, Sh. Mm, pada 30 Juli 2017 lalu.

Demikian, hampir dua tahun sudah Landmark Kota Ternate memberi “Harmoni Sosial” untuk masyarakat dengan segala pesona keindahannya. Kehadiran Landmark Kota Ternate sendiri sejak awal diresmikannya hingga kini terus mendapatkan tanggapan positif, baik dari pemerintah dan masyarakat di Kota Ternate. Sungguh, sebuah ruang publik yang berada di pusat kota tersebut sangat muda dijangkau oleh siapapun dan memikat mata kita untuk segera menempatkan diri melihat keindahannya.

Bagi pengunjung, menempatkan diri di Landmark tanpa berswafoto (selfie) merupakan hal tabu sebagai masyarakat milenial yang terus menangkap lanskap indah di sekelilingnya kemudian segera mengunnggahnya di media sosial. Dari anak-anak, pemuda, remaja, hingga mereka yang sudah lanjut usia (lansia) pasti menyalakan lampu kamera Gawainya untuk mengabadikan jejak mereka di Landmark Kota Ternate. Di Antara banyaknya aktivitas pengungjung Landmark, berswafotolah yang dinomorsatukan.

Selain itu, corak warna-warni lampu yang meriasi taman di lokasi Landmark menjadi ilustrasi pemandangan yang sangat unik dan tentu membuat masyarakat tertarik untuk berkunjung di malam hari. Terlebih, bagi mereka yang sedang menjalani hubungan cinta dengan pasangannya. Malam minggu tanpa menginjak lantai Landmark rasa-rasanya tidak romantis dan kurang berkesan. Begitu juga kaum lansia. Mengenang masa muda dan menuturkan kisah asmara dahulu merupakan kelegahan hati yang luar biasa. Pasalnya, Landmark juga menyediakan tempat tongkrongan bagi pengunjung seperti kedai Kopi di dekat lokasi Landmark dan arena duduk yang bersih juga sangat nyaman untuk ditempati. Mereka yang lelah dan jenuh dalam bekerja, akan merehatkan diri sejenak mengunjungi Landmark dan melepaskan semuanya.

Mereka yang ingin berekreasi, bisa datang bersama keluarga untuk menghibur diri. Jika diidentifikasi, selain penduduk Kota Ternate, sebagian pengunjung Landmark adalah masyarakat urban dari Pulau Halmahera. Sebagai simbol visual yang melayani masyarakat dengan berbagai macam fasilitas, Landmark Kota Ternate sebagaimana memiliki tata ruang yang indah dan berada di tempat strategis. Karena berlokasi tepat di dekat pantai, kita dapat menyaksikan panorama laut dengan lanskap (view) gunung Tidore dan pegunungan di sekitarnya. Selain itu, kita bisa menikmati senja hari yang tiba lalu merubah warna kota menjadi merah. Di pagi hari, mereka yang berolahraga aerobik juga dijumpai pada halaman lantai Landmark. Demikian, berbagai aktivitas pengunjung yang ada, menjadikan Landmark sebagai salah-satu ikon Kota Ternate yang sangat digemari oleh pengunjungnya. Begitulah, jika hendak berduyun-duyun ke Landmark Kota Ternate.

Bukan Tentang Nama

“Ayo ke landmark!” begitulah ungkapan para pengunjung. Atau dengan kalimat perintah lain kita sering mendengar “Ayo ke taman kota ternate!”. Dua istilah tersebut: ‘Landmark’ dan ‘Taman Kota’ menjadi ujaran umum untuk menamakan tempat rekreasi itu. Hal ini menunjukkan penggunaan istilah untuk Landmark Kota Ternate sendiri masih beragam (tidak pada satu nama). Padahal Jika diketahui, pada umumnya istilah Landmark merujuk sebuah pengertian tentang suatu objek (tempat) yang muda dilihat atau dikenal. Sebuah tempat yang menonjol, memliki peristiwa penting, dan sangat muda dijangkau oleh masyarakat (Kamus.net). Sebuah Landmark kota juga memiliki sifat yang paten (tidak berpindah-pindah).

Pelajaran dari pengertian Landmark tersebut, bisa kita kecupi dari definisi yang disuguhkan beberapa ahli, menurut Prof. Hermawan Kartajaya, Landmark merupakan simbol visual yang mengidentifikasikan suatu kota berdasarkan bentuk visual tertentu yang kuat, memiliki ciri khas yang tidak terdapat di kota lain, dan berada pada tempat strategis di sebuah kota dimana arah dan aktivitas masyarakat saling bertemu. Sementara itu, pengertian yang sama juga diungkapkan oleh Thomas Gordon Cullen, yang menyatakan bahwa sebuah Landmark merupakan suatu simbol yang dibuat secara visual dan ditempatkan pada tempat yang menarik perhatian masyarakat, biasanya mempunyai bentuk unik atau menumental serta terdapat perbedaan skala dalam lingkungannya.  

Nah, bagaimana dengan penamaan Landmark Kota Ternate? Tentu saja masyarakat telah dipadankan dengan dua istilah yang telah disebutkan, yaitu Landmark dan Taman Kota. Sementara penamaan itu masih bersifat umum dan terdapat banyak daerah di Indonesia yang juga menggunakannya. Di Bandung, tepatnya di Jalan Braga, terdapat sebuah gedung warisan masa penjajahan Belanda yang saat ini digunakan sebagai arena pameran dan event-event lainnya. Gedung tersebut dikenal dengan nama Landmark Convention Hall  yang juga memiliki sebutan yang sama (travelling-qu.blogspot.com).

Begitu juga taman-taman kota di berbagai daerah di Indonesia yang menjadi tempat rekreasi masyarakat. Karena itu, untuk membentuk identitas Landmark Kota Ternate, barangkali lewat Pemerintah Kota dan berbagai Lembaga Adat di Kota Ternate, kita dapat mengusung sebuah nama dengan ciri khas yang bisa diambil dari kebudayaan lokal masyarakat Kota Ternate sendiri. Lain sisi, penamaan tersebut dimaksudkan agar memberi identitas tersendiri untuk tempat “Pemugaran” jiwa itu. Hal ini juga dikarenakan beberapa tempat rekreasi di Kota Ternate telah memiliki nama, seperti Taman Nukila Kota Ternate, Pantai Falajawa, dan Benteng Orange yang letaknya tidak begitu jauh dari Landmark Kota Ternate serta masih banyak lagi tempat rekreasi lainnya. 

Meskipun masih kerap menggunakan sebutan Landmark (juga pada tulisan ini), persoalan nama yang dimaksudkan bukan menjadi masalah utama. Hal ini dikarenakan kehadiran Landmark Kota Ternate sendiri telah menyediakan “Ruang kegembiraan” bagi semua kalangan. Keberagaman pengunjung yang datang dengan latar belakang yang berbeda menjadikan Landmark bukan sekadar ruang tongkrongan dan menghibur diri belaka, namun juga menjadi wadah yang menampung keberagaman etnik dari berbagai daerah di Maluku Utara. Sebut saja mereka yang datang dari Pulau Panjang (sebutan bagi Pulau Halmahera) ke Kota Ternate dan menyisahkan waktu untuk berkunjung ke Landmark.

Milenial di Kota yang Bersih

Semua yang tersedia di Landmark tentu saja difungsikan untuk kepentingan orang banyak, termasuk untuk pemuda. Karena itu, merawat dan menjaga kebersihan pada tempat-tempat rekreasi yang sudah disediakan oleh pemerintah menjadi pendukung utama untuk senantiasa menjaga keindahan tempat-tempat tersebut.

Tentu juga, yang membuat Kota Ternate dianggap sebagai Kota paling nyaman dan masyarakatnya paling bahagia adalah indikator dari kebersihan lingkungan yang terus dirawat. Tahun 2017 lalu, Komunitas Sadar Sampah Kota Ternate (Kossakate) dengan semangat merawat lingkungan menghelat kegiatan gerakan memungut sampah bersama sejumlah instansi dan Lembaga Pemerintah di Kota Ternate. Peringatan peduli sampah itu juga melibatkan berbagai kalangan pemuda dari Lembaga Pendidikan dengan mengikutsertakan para pelajar dan sejumlah organisasi pemuda di Kota Ternate seperti Pemuda Toboko dan lainnya. Keterlibatan pemuda untuk merawat lingkungan sangat antusias.

Pembersihan dilakukan pada bantaran kali mati (Barangka) di Kelurahan Kota Baru, Ternate Tengah (rri.co.id). Kemudian pada Tahun 2018, Kossakate juga kembali  menggelar gerakan memungut sampah bersama Komunitas Vespa Kota Ternate yang terdiri dari kalangan pemuda di beberapa tempat rekreasi di pusat Kota Ternate seperti di Taman Nukila dan sepanjang Jalan Sultan Zainal Abidin Sjah, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah (indotimur.com).

Keterlibatan pemuda pada upaya merawat lingkungan hidup lewat pembersihan halaman ruang publik yang telah disediakan oleh pemerintah tersebut mencerminkan peran kaum muda terhadap lingkungan masyarakat (sosial) sangatlah penting. Bagaimana tidak, kaum muda dengan energi yang kuat, memiliki pikiran jenih, serta mampu menggaung solidaritas yang kompak, akan merubah wajah kota yang semerawut karena sampah serta menjadikan kota yang ia pijaki begitu nyaman dan bersih.

Meskipun, pemuda pada sisi tertentu selalu diidentikkan dengan kaum perusak moral bangsa karena sangat muda digerus oleh kehidupan modernisme yang menjerumuskan kaum muda pada kasus-kasus seperti pecandu narkotika, kriminalisasi, pemerkosaan dan lainnya, akan tetapi mengajak kaum muda lewat program-program pemberdayaan pemuda untuk lebih mencintai lingkungan sekitarnya menjadi indikator untuk merubah karakter bangsa lewat pencanangan program-program tersebut. Demikian, lingkungan yang bersih akan melahirkan kenyamanan bagi siapa saja yang menjadi penikmatnya. Membuat kita lebih nyaman dan ramah dengan lingkungan. Karena, kebersihan lingkungan merupakan kebutuhan jasmani yang perlu dirawat juga dapat membuat kita menggeluti kebiasaan hidup sehat tanpa sampah. Terutama menjaga kebersihan lingkungan perkotaan seperti tidak membuang sampah sembarangan di jalan raya dan tempat-tempat rekreasi serta berbagai ruang publik yang menjadi sentral bertemunya masyarakat.

Selaras dengan hal itu, jika dijumpai, aktvitas kaum muda di Landmark Kota Ternate sangat beragam. Sebagai masyarakat milenial yang dipengaruhi situasi perkotaan, kehadiran pemuda di berbagai ruang publik tentu didasari oleh berbagai kepentingan. Pemanfaatan Ruang Publik oleh pemuda tentunya bisa kita lihat dengan gairah rekreasi yang sangat kompleks. Tak sedikit, ada yang berkunjung ke Landmark untuk menghibur pasangannya, ada yang berbondong-bondong untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, ada yang datang untuk berswafoto, menikmati pemandangan laut dan gunung, menghibur diri sendiri, bahkan menyatakan perasaan cintanya pada sang kekasih.

Sehingga, Landmark Kota Ternate seolah menjadi tempat yang menampung segala macam ekspresi manusia. Ragam ekspresi yang dapat dijumpai itu setidaknya memberi pengertian kepada kita bahwa kehadiran Landmark merupakan sebuah anugerah atas apa yang menjadi masalah-masalah dari ekspresi tersebut. Meleburkan canda dan tawa, menggaung kegembiraan, membaurkan gagasan, merupakan aktivitas sejumlah pemuda yang dapat kita saksikan di lokasi Landmark Kota Ternate. Agitasi pemuda dengan kesadaran menjadikan Ruang Publik sebagai ladang membaurkan gagasan juga tercermin ketika pemuda dengan afirmasi pengetahuannya dapat menjadikan Landmark sebagai tempat bersua wajah, bersilaturahmi, serta berdiskusi memecahkan masalah yang diangkat dan secara bersama dipetik solusinya.

Panggung Pertunjukan Kaum Muda

Landmark Kota Ternate sebagai ikon visual sebuah kota di samping menarik banyak perhatian masyarakat, juga menyediakan panggung atau tempat pertunjukan bagi berbagai kalangan. Walau usianya masih sangat muda, Landmark Kota Ternate telah menggaung sejumlah kegiatan kepemudaan yang digelar baik oleh komunitas pemuda, organisasi kemahasiswaan, hingga berbagai intansi pemerintahan yang menjadikan Landmark sebagai sentral perhelatan segala macam event dan kegiatan.

Pada tahun 2017, Landmark Kota Ternate dijamu dengan sebuah pagelaran kesenian bernama Festival Akustik. Perhelatan itu digelar dalam memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu. Disemaraki oleh kaum muda yang berprofesi sebagai musisi di Kota Ternate. Festival Akustik sendiri digelar oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD-KNPI) Maluku Utara yang bekerja sama dengan Satu Hati Community.

Dengan menghadirkan panggung terbuka di Landmark, para musisi yang terdiri dari kalangan pemuda itu menunjukkan bakat musisinya sekaligus menghibur para penikmat musik akustik di Landmark Kota Ternate (Kieraha.com). Selain itu, di tahun 2018, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Universitas Khairun (Unkhair) sebagai organisasi kemahasiswaan menggelar kegiatan pentas pertunjukan dalam memperingati hari ibu nasional. Kegiatan itu diberi tajuk “Malam seibu ekspresi” yang menghadirkan pentas pertunjukan di panggung terbuka Landmark Kota Ternate (medianasional.id)

Dari keindahan alam, kegemaran, keharmonisan, kesadaran merawat lingkungan, hingga kesenian yang didengungkan oleh kaum muda lewat panggung terbuka di Landmark Kota Ternate itu  setidaknya menjadi ilustrasi atas kemampuan kaum muda untuk terus mengaktualisasikan kreativitasnya di lingkungan masyarakat.

Peran pemuda dalam menjaga dan merawat ruang terbuka publik yang menjadi ikon keindahan Kota Ternate sebagaimana sangat antusias kita saksikan. Karena itu, pemanfaatan ruang publik sebagai ladang “Menjernihkan” pikiran harus senantiasa konsisten dan butuh pengawasan yang sangat ketat. Di samping itu, menanam kesadaran untuk tidak merusak segala fasilitas yang mendukung keindahan ruang publik tersebut menjadi sangat penting bagi siapa saja yang mencintai keindahan lingkungan Kota yang sangat eksotik untuk dinikmati.

Barangkali, dengan segala perpaduan alam dengan ketersediaan ruang publik yang terdapat di daerah Maluku Utara juga kegembiraan masyarakat kota serta keleluasaan jiwa kita saat usai berduyun-duyun ke Landmark Kota Ternate itulah yang menjadikan Maluku Utara sebagai daerah dengan Indeks Kebahagiaan Tertinggi di tahun 2017 (BPS Maluku Utara). Begitulah. Kebahagiaan memang tidak melulu datang dari situasi yang lain. Kebahagiaan dapat kita ciptakan lewat merawat lingkungan, menjaga kejernihan berpikir, meningkatkan kesadaran, serta menumbuhkan rasa syukur terhadap apa yang telah dianugerahi Tuhan kepada kita.


Penulis: Rian Husni

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *