Press "Enter" to skip to content

Cahaya Desaku yang Hilang

Tumbuh-tumbuhan berjejer rapi mengikuti arah eloknya lereng gunung. Jenis tumbuhan yang ditanam oleh petani kelas bawah hingga para angkatan burung menjadikan keragaman dan kekayaan begitu banyak dihasilkan. Mata air yang keluar dari sela-sela bebatuan dan akar pohon memberi kesuburan. Masyarakat pun menunggu masa kejayaan panen dan memetik hasil keringatnya.

Di laut, pesona alam pantai pun tak mau kala. Eksotik dan hadirnya hembusan angin membawa dan melelapkan tidur. Juga terdengar kicauan burung yang berdemonstrasi di langit-langit atas. Berbagai aktivitas laut sangat banyak untuk disaksikan. Saat air laut mulai surut, terlihat para gadis-gadis remaja berdiri di atas hamparan batu dan terumbuh karang. Mereka sedang sibuk mencari hasil biota laut, mereka membawa segala peralatan dan mulai mencari. Hasil-hasil laut berupa Duri Babi dan lainya dijadikan bahan penyedap mulut. Di laut yang begitu luas, kaum nelayan berlomba-lomba mencari hasil tangkapan, ada yang masih menggunakan alat tradisional dan ada juga yang menggunakan peralatan modern, unik dan begitu indah disaksikan.

Dunia laut menjadi ajang mata pencaharian yang memiliki banyak tenaga kerja. Seakan percikan surga kecil keluar dan terhampar disini. Di jalanan, ibu-ibu berjalan rapi membawa berbagai jenis makanan. Anehnya, makanan itu tidak jatuh saat di letakkan di atas kepala tanpa bertumpuh pada bantuan tangan. Tapi dengan semangatnya mereka berjalan tanpa merasakan beban. Makanan itu kemudian diantar di rumah duka atau kepada rumah orang-orang yang sedang mengalami musibah, seperti musibah kematian dan hajatan perkawinan.

Kebudayaan ini menjadi tradisi orang-orang desa. Biasa mereka menyebutnya “Susah Re Kapalang” atau saling membantu orang yang mengalami kesusahan. Desa yang kaya akan hasil alam dan kebudayaan ini, juga tersimpan cerita dan legenda yang sering di dongengkan orang-orang tua sebagai buah pengantar tidur. Sayangnya, cerita dan legenda tersebut tidak pernah di tulis. “Wah…Sungguh indahnya alam di desaku” Begitulah kata Herman saat berada di atas pohon cengke, sambil menyaksikan pemandangan alam di desanya. Herman adalah pemuda desa yang ber-usia belasan tahun. Selain menempuh pendidikan, ia juga sering membantu orang tuanya beraktivitas di kebun.

Suatu pagi, ia berangkat ke sekolah. Seperti biasanya, dengan modal jajan tiga ribu rupiah, cukup baginya untuk menangkis datangnya lapar. Di sekolah ia bertemu teman-temannya. Setelah mengikuti bel pagi, mereka pun masuk di dalam kelas dan duduk sambil menunggu guru mata pelajaran yang akan masuk. Herman melirik ke belakang dan melihat sala-satu bangku deretan belakang yang kosong. Ternyata itu adalah tempat ‘Jemi’. Ia pun bertanya kepada Sindi, “sin, kok Jemi tidak masuk sekolah hari ini?” Sindi menjawab “aku juga tidak tau Man”. Ia kemudian merasa kuatir dengan Jemi, teman karibnya yang sering tidak masuk sekolah.
Guru mata pelajaran kemudian masuk, mereka pun belajar. Tak lama, bel tanda istirahat berbunyi.

Ia langsung keluar dari kelas dan menuju tempat istirahat. Kemudian ia duduk di bawah pohon dengan udara yang sejuk dan melampiaskan rasa lelahnya saat belajar tadi. Rasa kekuatiran kepada Jemi terus menghampiri benaknya, yang belakangan ini sering bolos dan tidak masuk sekolah. Setelah lama beristirahat, ia kemudian berjalan mengelilingi halaman sekolah dan melihat lingkungan sekolahnya yang ramai serta terdapat banyak bunga. Kebetulan, di hari itu akan diadakan latihan ‘tarian lalayon’ di aula sekolah, yang merupakan salah-satu kearifan lokal yang masih terjaga dan sering di pentaskan di panggung.

Ia tersenyum melihat pemandangan tarian yang di peragakan oleh sepasang lelaki dan perempuan itu, dan diikuti musik tradisional. Mulai dari gerakan badan yang sama hingga rentakan kaki yang se-irama, mencerminkan dunia kasih sayang antara pihak lelaki dan perempuan. Namun begitu, kekuatiran tentang jemi masih saja terlintas. Setelah pulang sekolah, ia berniat mampir ke rumah Jemi untuk menanyakan keadaanya.

Di tengah perjalanan pulang, ia melihat orang-orang tampak berkumpul dengan mengenakan atribut serta melakukan pawai dan arak-arakan di jalan. Dikarenakan tak lama lagi akan diadakan pemilihan kepala daerah. Orang-orang itu berdiri di sekitar podium dan mendengarkan pidato yang disampaikan oleh kandidat atau calon pemimpin mereka. Tak lama kemudian, ia melihat sosok jemi di tengah-tengah banyak orang dalam keadaan membuka kaosnya sambil berteriak. Selain itu, ia juga melihat Jemi menggenggam botol minuman keras di tangan kirinya.

Jemi dalam keadaan mabuk. Ia segera bergegas menghampiri Jemi dan berkata “Jemi, apa yang kamu lakukan disini?” Dengan keadaan menghawatirkan Jemi yang sedang mabuk. Jemi menjawab dengan suara marah “Hah… Ini bukan urusanmu” Herman pun berkata “lalu bagaimana kalau orang tuamu tau keadaan kamu seperti ini?” Jemi membalas “itu juga bukan urusanmu, sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini, karena kamu bukan bagian dari pendukung kami, atau tidak aku akan menyuruh orang-orang disini untuk memukulmu.!” Herman pun bergegas pergi meninggalkan keadaan temannya yang telah di pengaruhi badai politik dan kemaksiatan.

Sesampainya di rumah, ia langsung mengganti pakaian dan berbaring di tempat tidur. Ia tak habis pikir, tingkah-laku Jemi yang aneh dan brutal. Jemi yang dulunya ia kenal sebagai anak yang baik, sekarang begitu berubah dihadapannya. Belum sempat tertidur, Herman dikagetkan dengan keributan di luar. Ia bergegas membuka pintu rumah dan ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi di luar. Ternyata, ada sekelompok keluarga yang bertengkar karena lantaran beda pilihan kepala daerah. Ia pun kembali masuk dan memikirkan satu-persatu kejadian yang terjadi.

Ia merasa sesuatu yang langkah telah terjadi di desanya. Saat berjalan, orang-orang menatapnya dengan wajah ganas, masyarakat tidak akur lagi.
Mereka saling menghina satu-sama lain, serta pesta minuman keras dan demokrasi merajalela. Herman nampaknya tidak menghawatirkan lagi keadaan Jemi, tetapi ada hal yang lebih besar ia pikirkan, yakni tentang desa dan orang-orangnya. Kegelisaanya semakin kuat. Kejadian demi kejadian terus terjadi. Gerbang kehancuran seakan terbuka lebar-lebar. Desa yang dulunya damai sebagai anugerah dari tuhan, kini diselimuti kain hitam yang membungkus habis seluruh sudut desa. Badai politik telah menyapuh bersih sudut desa. Mungkin tinggal menunggu azab dari tuhan.

Sore harinya, Herman kemudian pergi ke pantai. Ia menganggap pantai dan alam disekitarnya lebih memahami dirinya dan tentunya, ia tidak ingin kejadian itu terus-terusan terjadi. Ia duduk menikmati alam pantai. Ia mengingat kembali saat-saat dimana ia bersama Jemi. Menurutnya, Jemi adalah teman yang sudah begitu lama ia kenal sejak di bangku SD, dan juga ia sudah menganggap Jemi sebagai saudara. Terlintas ingatannya, saat ia dan Jemi berada di kebun waktu itu. Karena kebun Herman dan Jemi bersebelahan, hari itu mereka berdua beristirahat di bawah pohon yang rindang setelah membantu orang tua mereka menanam bibit pala dan cengkeh. Angin bertiup pelan. Mereka berbaring dan menatap ke langit.

Kemudian Herman bertanya kepada Jemi “jemi, apa impianmu?” Jemi menjawab “aku ingin suatu saat orang-orang melihat aku berbicara di atas podium. kalu impian kamu apa Man?” “Aku ingin menjadi burung itu! (Sambil menunjuk ke arah seekor burung yang asyik terbang) karena aku bisa pergi ke-mana saja dan terus berada di udarah” “Bagaimana kalau sayapmu patah?” Jemi kembali bertanya. “Kalau sayapku patah, akan kugantikan dengan sayap yang baru, ha…ha…ha…!” Mereka berdua tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara Panggayung dari arah laut. Ternyata suara dayung itu adalah seorang Pak Tua yang baru pulang memancing. Ia langsung menuju ke arah pak tua itu dan membantunya mengangkat perahu ke tepi pantai. Setelah selesai, mereka berdua duduk. Melihat wajah gelisa yang terus ditebarkan Herman, Pak tua kemudian bertanya kepada Herman. “Sedang apa kamu disini nak?” “Aku sedang memikirkan sesuatu” jawab Herman.

“Bolehka kamu menceritakannya padaku?” Tanya pak tua lagi. “Aku merasa ada yang aneh di desa kita, orang-orang kini saling mencaci dan bermusuhan satu-sama lain, kemaksiatan merajalelah, sebenarnya apa yang telah terjadi di desa kita?” Mendengar penjelasan dari Herman, Pak Tua tersenyum dan berkata; “jarang aku bertemu anak muda seperti kamu nak, sekarang, lihatlah lautan itu! Dulunya bersih dan indah, sekarang telah kotor dan tercemar. Karena itu, saya ingin berpesan, yang namanya penyakit itu pasti ada obatnya, yang kotor pasti ada cara untuk membersihkannya. Baiklah, sekarang saya pamit dulu, istri dan anak-anak saya telah menunggu di rumah” Mendengar nasehat dari Pak tua tadi, Ia seperti mandapatkan kekuatan.

Sikap optimis dan memegang teguh idealismenya tak mungkin dikubur begitu saja. Ia tak mau kejadian yang akan membawah mala-petaka itu manyapuh habis sudut desa. Pemuda dengan semangat yang menyalah, yakin mampuh mengatasi semua masalah yang terjadi di desa. Herman membuktikan hal itu saat ke-esokan harinya ia berangkat lagi ke sekolah. Pagi itu suasana desa mulai tenang, tapi masih terlihat posko-posko kemenangan masih di huni masyarakat. Saat tiba di sekolah, ia melihat Jemi sedang duduk di dalam kelas. Jemi terlihat gelisa tengah memikirkan sesuatu yang tak bisa diterjemahkan oleh Herman. Setelah aktivitas sekolah berakhir, mereka kemudian berbaris rapi mengikuti bel pulang.

Setelah mendengar arahan dari Pak guru, Herman meminta izin untuk diberi kesempatan bicara. “Pak, izinkan saya berbicara di depan! Ada yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman” Potongnya “baiklah, silahkan!” Pak guru memberi kesempatan. “Teman-temanku sekalian, sekarang di desa kita telah terjadi berbagai masalah. Keluarga dan sahabat kita yang dulunya saling menyayangi, kini semua telah saling mencela satu-sama lain. Orang tua tak damai lagi, saat orang mengalami musibah, tak ada lagi bantuan susah re kapalang. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana desa kita yang beradab dan beradat? Mengapa secuil perbedaan mengasingkan kebersamaan kita selama ini? Saya yakin, jawabannya ada pada diri teman-teman” Keadaan sedih dan mengharukan menyelimuti bel siang mereka.

Tiba-tiba Jemi berjalan menuju Herman, luapan sedih terlihat diwajahnya beriring langkah pelannya. “Aku minta maaf Man, sekarang aku benar-benar menyesali perbuatan salahku, ternyata keburukan itu tidak bertahan lama” Akhirnya mereka pulang dalam keadaan semula, gembira-ria dan saling menyayangi. Herman pun tiba di rumah dan beristirahat dengan tenang tanpa ada keributan lagi.

___________________________
Cerpen ini pernah diterbitkan pada harian Malut-Post 2017 lalu. Isi dan materi dalam cerpen ini diambil dari dinamika politik orang Patani yang kerapkali menjadi dogma masyarakat saat musim politik menyapuh bersih sudut desa. “Ini semata bukan hasil kreatif imajinasi, tapi kondisi politik yang benar-benar ditampilkan” Ungkap penulis, Rian Hidayat Husni, Mahasiswa Sastra Indonesia Unkhair.  

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *