Press "Enter" to skip to content

Cara Unik Warga Wainin Rayakan Malam Ela-Ela

Tradisi merayakan Malam Ela-Ela kebiyasaan masyarakat Maluku Utara. Tradisi yang biasa digelar pada malam 27 ramadan itu untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Seperti biasanya, Warga dan pemuda desa Wainin, Kabupaten Kepulauan Sula, punya cara unik dalam merayakan malam Ela-Ela (Malam Lailatul Qadar), Kamis (28/4/22).

Setiap tahun acara perayaan malam Ela-Ela dirayakan warga Wainin dengan menyiapkan berbagai motif obor dan tabangkur–sejenis alat dari bambu yang digunakan menggantung makanan yang sudah disediakan. Tabangkur biasanya disediakan diberbagai rumah warga dengan berbagai macam jenis olahan pangan lokal semisal ubi goreng, pisang goreng, ketupat dan berbagai kudapan hasil buatan sendiri yang digantung.

Tokoh agama desa Wainin, Sudin Fatce, mengungkapkan bahwa tradisi perayaan Malam Ela-Ela yang dilaksanakan warga Wainin merupakan tradisi turun temurun. Ia mengatakan malam Ela-Ela sebagai malam yang berkah bagi warga setelah sebulan penuh menjalankan puasa.

“Tradisi perayaan Malam Ela-Ela (Lailatul Qadar) itu sudah jadi katorang (kita) punya tradisi, jadi setiap tahun katong (kita) bikin, tradisi ini dari jaman orang tua dulu sampai sekarang,” ujarnya kepada Mantra.

Imam masjid Desa Wainin itu juga menambahkan, ada tradisi perayaan desa Wainin yang berbeda dengan desa lain, salah satunya adalah tradisi pembuatan Tabangkur yang digunakan dalam tradisi sara ap (Bakar Api Malam Lailatul Qadar).

“Tradisi Sara Ap malam Ela-Ela dan pembuatan Tabangkur yang biasa kase gantung deng (dengan) makanan semisal pisang, Ubi, Ketupat dan makanan lainnya. Katong punya adat ini sudah dari dulu sampe anak cucu ini masih di lestarikan,” ujarnya.

Ia Juga mengatakan bahwa tradisi sara ap memiliki makna sendiri bagi warga Wainin untuk memanggil para ruh keluarga yang sudah meninggal dalam pergelaran tradisi Sara ap. Warga Wainin mempercayai bahwa pada malam Lailatul Qadar orang yang meninggal akan datang untuk memakan persediaan yang digantung.

Selain itu, Ketua Umum Himpunan Pelajar Wainin (HPW) Yusri Banapon Juga mengungkapkan bahwa tradisi perayaan Ela-Ela Warga desa Wainin sudah menjadi Tradisi yang Unik yang dilakukan dalam setiap tahunnya.

“Katong punya tradisi malam Ela-Ela ini so jadi kebiasaan yang unik karna cara yang berbeda dari daerah lain,” pungkasnya.

Kepala desa Wainin Usmono Gay, saat di temui Mantra menuturkan bahwa tradisi perayaan malam Ela-Ela menjadi hal yang sakral bagi warga Wainin. Ia menjelaskan bahwa tradisi merayakan malam Lailatul Qadar tahun 2022 juga dilombakan dalam pergelaran Festival Malam Ela-Ela yang digelar pemerintah daerah Kepulauan Sula.

“Malam Lailatul Qadar di Desa Wainin menjadi hal yang sangat sakral bagi warga, Alhamdulillah di tahun ini kami ikut serta salam lomba Festival Malam Ela-Ela yang dibuat pemerintah sula, warga antusias mengikuti lomba,” tuturnya.


Liputan : Fadli Kayoa | Mantra

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *