Press "Enter" to skip to content

Cerita Generasi Terakhir Perajin Bambu di Ternate

Tongole, sebuah Kelurahan di wilayah pegunungan Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, menjadi salah satu kampung tua yang masih memproduksi perabotan rumah tradisional berbahan dasar bambu.

Siang Itu, nampak warga Tongole memangkas bambu di setiap sudut rumah. Ada banyak jenis bambu dengan berbagai macam corak yang sudah mengering disulap menjadi perabotan rumah tradisional.

Untuk mencapai pemukiman warga di Kelurahan Tongole membutuhkan waktu tempuh 15 menit, dengan jarak 600 meter dari pusat kota. Jalan menuju perkampungan ini cukup menanjak, pepohonan cengkeh dan pala tumbuh subur di setiap sudut rumah dan jalanan. Namun ada tumbuhan lain seperti bambu yang tumbuh subur bergelimang di antara rindangnya pepohonan rempah.

Baca Juga :

Mahasiswa FIB Keluhkan Banjir di Sekretariat HMJ

Pohon bambu dengan berbagai jenis tumbuh subur di dataran tinggi Tongole di antaranya bambu cina. Sumber daya bambu yang melimpah dimanfaatkan warga setempat menjadi sejumlah perabotan rumah tangga seperti kursi, meja, kas, dan perabotan lainnya. Bahkan di setiap teras rumah, tempat tongkrongan, pagar jalan, serta pagar rumah pun berbahan dasar bambu.

Kebiasaan membuat peralatan hidup dari bambu sudah dikerjakan warga Tongole secara turun-temurun. Hingga kini, membuat perabotan berbahan bambu sudah menjadi suatu tradisi.

Usaha kerajinan bambu di Kelurahan Tongole merupakan produk lokal satu-satunya di Maluku Utara yang masih eksis. Saat ini hanya tersisa sebagian warga yang masih menjalankan usaha tersebut, salah satunya Ruslan Talib (58) warga Tongole.

Sejak tahun 2014, Ruslan memulai usaha sebagai pengrajin perabotan rumah berbahan dasar bambu. Dia adalah generasi terakhir yang masih melanjutkan menganyam bambu menjadi perabotan.

Kemahirannya dalam menyulap bambu menjadi perabotan kursi, meja dan lainnya, sudah ia tekuni sejak tahun 70-an. Saat itu, usianya masih muda.

“Dari tahun 70-an, saya sudah diajarkan ayah saya untuk membuat kursi dari bambu ini. Pokoknya generasi saya lahir, warga di sini sudah beraktivitas mengukir bambu menjadi berbagai perabotan,” kata Ruslan saat dikunjungi Mantra, pada Selasa (10/1), di Kelurahan Tongole.

Usia yang sudah menua, membuat Ruslan merasa rutinitas memproduksi kerajinan bambu mulai surut. Namun Ia memiliki teman kerja, Wawan Indrawan, yang mahir menyulap bambu menjadi sejumlah perabotan yang cukup unik, seperti kursi jenis mercy, kursi L, tempat tidur, kas, dan fasilitas lainnya.

“Saya sendiri juga tidak bisa bekerja membuat kursi ini. Makanya ada rekan kerja yang bantu supaya usaha tetap lancar. Dia juga lincah membuat perabotan dari bambu,” akuinya.

Wawan Indrawan (39), rekan kerja Rusalan ini berasal dari tanah Jawa. Dia datang ke Ternate untuk mengadu nasib sejak 2009. Ia kemudian menetap di Kelurahan Tongole dan mulai menekuni berprofesi sebagai pengrajin bambu bertahun-tahun.

“Saya dari Jawa, ke Ternate sejak 2009. Saya melihat kampung ini dipenuhi dengan bambu dan warga juga pengrajin bambu. Sekarang saya tinggal dan menikah di sini,” ujarnya.

Untuk mempermudah Ruslan mengelolah usaha tersebut, Wawan memproduksi peralatan rumah tangga berbahan dasar bambu secara masal, tujuannya agar produk berbahan dasar bambu bisa bernilai rupiah dan tersebar hingga ke luar daerah.

Wawan memberi kontribusi besar terhadap usaha milik Ruslan, seperti penetapan harga, hingga desain model kursi.

“Pak Ruslan juga kasih saya yang urus dan kelolah, termasuk atur harga-harganya. Saya mengurus penjualan sampai ke luar daerah. Memang harus rutin setiap hari menganyam bambu ini, karena Pa Ruslan juga umurnya sudah tua, jadi dia jarang bekerja,” ungkapnya.

Biasanya satu unit peralatan berbahan bambu dibandrol dengan harga Rp 300.000 hingga jutaan rupiah per set.

“Harganya perabotan bervariasi, yang paling renda kursi makan dihargai 350 ribu per biji. Kalau kursi mercy yang mirip kursi raja itu kami jual dengan harga kisaran 1 juta sampai 3 juta per bijinya. Ada juga satu set kursi dan meja 3 juta, dan juga tempat tidur, kas serta peralatan lainnya, harganya juga sampai 3 juta per unit,” jelasnya.

Proses pembuatan perabotan berbahan dasar bambu memakan waktu 1 hingga 2 minggu sebelum menjadi sebuah kursi atau meja yang siap dipakai. Sedangkan pengambilan bambu di kebun, dilakukan sekali dalam sebulan.

Warga Ternate dan Halmahera, sejauh ini cukup banyak meminati hasil produk mereka. Olehnya itu, rutinitas setiap hari tak bisa ditunda demi memenuhi pesan pembeli.

“Kemarin saja, sudah dikirim di Halmahera, termasuk Obi paling banyak, dan di Bacan juga sudah dikirim,” ucapnya.

Wawan bercerita, pada 2012 lalu hasil kreatifitasnya membuat kursi dari bambu pernah dipesan Almarhum Sultan Mudaffar Sjah. Ketika itu sultan Ternate sedang membutuhkan kursi makan dari bambu.

“Pernah di beberapa tahun lalu, saya disuruh Almarhum sultan buat kursi makan. Waktu itu saya bikin kursi model seperti kursi raja, ya sudah mereka mau yang itu,” ujarnya.

Generasi Terakhir Perajin Bambu

Perjalanan generasi perajin bambu di Ternate semakin merosot memasuki abad 21 ini. Pada era modernisasi penggunaan peralatan hidup yang modern telah menggeser penggunaan peralatan tradisional.

Ruslan mengatakan, Fasilitas rumah yang biasanya dari bambu nampak telah terkubur dari ingatan masyarakat, terutama anak muda yang sudah tak berminat menghidupkan kembali tradisi dan penggunaan peralatan rumah berbahan bambu.

“Saya melihat sejak tahun 2000 hingga saat ini, anak muda sudah tidak ada yang berminat belajar membuat kursi. Karena sudah ada kursi dan meja modern, akhirnya mereka malas,” ucap Ruslan.

Di Kelurahan Tongole kini hanya tersisa beberapa tetua yang masih aktif membuat perabotan dari bambu. Selain Ruslan Talib, ada pula Saban Wahid yang usianya sudah menginjak 65 tahun, warga Tongole, Ternate.

Saban menceritakan, pada era 60-an, ayahnya, Wahid, merupakan salah satu perajin bambu dari sekian puluhan warga Tongole yang masih aktif. Masa itu, ayahnya telah mengajari warga menganyam bambu menjadi kursi. Hingga pada tahun 70-an, ia memulai membuka usaha pengrajin bambu sampai saat ini.

“Dari tong (kami) pe nenek moyang sudah bikin kursi ini. Usaha saya membuat kursi bambu ini dari tahun 60-an,” ucap Saban pada Minggu (12/3) kemarin di Kelurahan Tongole.

Baca Juga :

Mengenal Kehidupan Orang Sasa Gunung

Dia menuturkan, untuk menjadi sosok pengrajin bambu yang mahir dan professional, membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dia bilang, cukup rumit menguasai cara membuat dan menyambungkan bambu yang sudah dipangkas itu menjadi kursi. Di usia remaja, Saban sering mengamati beberapa tetua ketika beraktivitas membuat perabotan dari bambu saat itu.

“Waktu saya masih muda, saya belajar dari mengamati orang-orang membuat perabotan dari bambu. Lama-kelamaan saya juga biasakan bikin sendiri,” katanya.

Ketekunannya sebagai pengrajin bambu sudah ia jalani puluhan tahun. Dengan tenaga yang masih tersisa di usia tua, ia tetap menggerakan tangan, menyulap bambu menjadi perabotan yang unik.

Dia mengaku, penerus pengrajin bambu di Kelurahan Tongole mulai berkurang. Hal tersebut yang ada di benak pikiran Saban. Ia merisaukan penerus yang akan melanjutkan profesinya.

“Saya lihat penerus perajin bambu di sini pastinya akan mati, karena tidak ada generasinya. Memang tinggal torang (kami) beberapa orang saja yang tahu kerja ini, jadi harus tetap bikin terus sampai akhir hayat,” akuinya.

Dia menyebut, hanya tertinggal beberapa temannya yang sampai saat ini masih aktif sebagai pengrajin bambu. Antara lain, Asman Ali, Ismail, Salasa Haji, Ruslan Talib dan Usman Aba. Beberapa tetua tersebut juga seumuran dengannya, yang saat ini memiliki usaha pengrajin Bambu.

“Tinggal tong (kami) ini saja yang masih kerja bikin bulu (bambu) menjadi perabotan seperti kursi dan meja serta yang lainnya,” tandasnya.


Penulis : Fadli Usman | Kru Mantra Dan Mahasiswa Antropologi Unkhair

Editor : Redaktur

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *