Press "Enter" to skip to content

Cerita Penarik Gerobak di Ternate: Hidup Berkecukupan Walau Penampilan Kusam

LIPUTAN LAPANGAN MANTRA


Tujuh tahun sudah, Idrus Jumat (39) menjadi penarik gerobak di Pasar Gamalama, Ternate, Maluku Utara. Menekuni pekerjaan tersebut sejak tahun 2013, membuat dirinya merasa hidup dengan kondisi yang berkecukupan.

Siang itu, Minggu (20/2/21), ia tampak duduk di atas gerobaknya. Sesekali ayah dari tiga anak itu memerhatikan orang-orang yang lewat yang barangkali akan memesan gerobaknya untuk mengangkut barang-barang mereka.

Tubuhnya yang tampak hitam dengan topi yang menempel di kepalanya, memberi sebuah isyarat bahwa sang penarik gerobak itu selalu bertarung mencari nafkah di bawah panasnya terik matahari.

Idrus Jumat, saat berada di depan kawasan Pasar Higienis, Ternate, Maluku Utara. Foto: Fadli Usman (20/2/21).

“Torang tukang tola-tola goroba (penarik gerobak) ini tara bisa dibilang hidup susah, torang pe pendapatan malahan lebih banyak dari sopir angkot deng ojek” kata Idrus, yang merupakan warga asal Pulau Makeang, Halmahera Selatan.

Sebagai buruh gerobak, Idrus memiliki pendapatan paling tidak 300 ribu dalam sehari. Ia mengaku hasil tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Bahkan, ia juga bilang, hasil dari menarik gerobak itulah yang membuatnya bisa membeli beberapa lahan kebun, rumah, dan dua buah sepeda motor yang dipakai untuk keperluan rumah tangga mereka.

Potret para penarik gerobak di Pasar Higienis. Foto: Fadli Usman (20/2/21).

Umumnya, orang-orang yang bekerja sebagai buruh gerobak seringkali diberi stigma sebagai pekerja rendahan. Hal itu, kata Idrus, dikarenakan penampilan mereka yang terlihat agak kusam. Idrus mengakui anggapan demikian bukanlah hal baru lagi.

“Memang torang tola-tola goroba ini kalau dilihat dari penampilan, akan orang lain kira torang susah, dan torang pe hidup tara menjamin. Padahal malahan torang pe pendapatan lebih besar dari pekerja yang lain”, ujarnya.

Karno Saban, penarik gerobak, di Depan Pasar Gamalama Ternate. Foto: Fadli Usman (20/2/21).

Para buruh gerobak di Pasar Gamalama ini tidak berhenti walaupun munculnya pandemi covid-19. Hingga sekarang, mereka masih semangat dalam mencari nafkah.

Penarik gerobak lainnya, Karno Saban (31 tahun), mengatakan, di masa pandemi, jenis barang-barang pokok dan berbagai macam dagangan yang terdistribusi di pasar semakin meningkat. Hal itu menjadi peluang mereka untuk mendapatkan pasokan muatan.

“Belum lagi barang-barang yang diekspor dari luar ke Ternate yang membawa ratusan barang muatan yang berat, sehingga muatan itu sebagian besar harus kami muat”, katanya.

Buruh Gerobak di Pasar Bastiong Ternate

Sebaran buruh gerobak di Ternate memang terdapat di berbagai kawasan pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern. Di Pasar Bastiong sendiri, terdapat dua kelompok buruh gerobak yang membagi kawasan angkutannya masing-masing.

Kelompok pertama, biasanya memuat barang-barang di sekitar Pelabuhan Bastiong, sedangkan kelompok yang satunya memiliki rute angkutan di areal pasar dengan muatan berupa barang-barang yang ada di tokoh-tokoh.

Jenis gerobak di kawasan Pasar Bastiong, Ternate. Foto: Fadli Usman

Profesi penarik gerobak tampaknya telah menjadi passion tersendiri. Kendati memiliki tantangan, para buruh yang menggeluti pekerjaan tersebut tetap semangat menjalani rutinitasnya.

Udin Abdurrahman, 35 tahun, memilih menjadi buruh gerobak daripada menjadi petani. Meski memiliki sejumlah lahan kebun, namun menjadi penarik gerobak adalah pilihan utamanya dalam mencari nafkah.

Selain itu, ia juga menganggap upah harian dari buruh gerobak lebih menjanjikan dengan pendapatan 300 sampai 400 ribu per hari.

“Pendapatan kami sedikit menurun karena di masa pandemi seperti ini. Orang-orang jarang berbelanja ke pasar dan stok barang-barang muatan yang masuk ke pasar sudah minim, berbeda sebelum masa pandemi” ujar Udin.

Meski demikian, Udin mengaku dampak pandemi tidak begitu memberatkan para buruh di Pasar Bastiong. Mereka tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan.

__
Peliput: Fadli Usman (magang)
Editor: Tim Redaksi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *