Press "Enter" to skip to content

Cerita Relawan Konservasi Penyu Pantai Kastela

Last updated on Desember 11, 2023

Riuh suara kaki para pengunjung mulai sedang berbincang di tepi jalan sekitar pantai Kastela. Pagar berwarna coklat dari bekas pohon dan peranak-perenik hiasan seperti lukisan, gubuk kecil, kursi, meja, hingga pohon-pohon berjajar rapi disana.

Pantai Kastela adalah salah satu tempat wisata yang ada di kota Ternate. Lokasi pantai Kastela saat ini berada di Kelurahan Kastela, Kecamatan Ternate Pulau. Selain tempat wisata, pantai ini juga menjadi habitat Penyu untuk bertelur.

Bang Jab sapaannya, berambut ikal di tangannya menggenggam sebuah rokok gayo putih hasil lintingan. Selaku relawan konservasi penyu, ia bercerita bahwa pada mulanya penangkaran Penyu di buat pada lonjakan Covid-19, 2021 lalu.

“Penangkaran sudah mulai dari tahun kemarin, waktu itu pas dengan Covid-19 Delta itu sekitar 2021,” pungkasnya pada Mantra (08/23).

Penangkaran Penyu sebenarnya tidak dilakukan. Lantaran Penyu terus naik dan bertelur di pesisir pantai hingga menghasilkan 500-700 telur, hal ini, kemudian membuat bang Jab dan teman-teman membuat tempat penangkaran Penyu.

“Karena lantaran dia nae (naik) saja, baru Dia (Penyu) p (punya) habitat juga disini lagi,” ungkapnya.

Pada awalnya bang Jab dan teman-teman juga tidak terlalu paham dengan kerja-kerja konservasi Penyu. tetapi konservasi Penyu masih bertahan hingga saat ini karena mereka sering sharing-sharing seputaran konservasi Penyu.

“Terus untuk memulai konservasi Penyu itu, kami juga tidak tahu step-stepnya. Kami sampai tahap ini karena saling berbagi pengetahuan tentang konservasi,” tutur bang Jab.

Ancaman terhadap Penyu di Pantai Kastela.

Hampir semua jenis penyu yang ada di Indonesia tersebut juga dapat ditemukan hidup dan berkembang biak di sepanjang kawasan pesisir Maluku Utara khususnya kota Ternate. Meski saat ini keberadaannya sudah semakin langka. 

Penyu menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut. Pada saat berkembang biak,  induk penyu akan ke daratan untuk bertelur dengan membuat lubang-lubang dan menimbun telurnya di pasir pantai. Penyu menghadapi berbagai ancaman sepanjang hidupnya. Sejak masih berupa telur, penyu diburu oleh para pemburu liar entah itu dimakan atau untuk diperjual-belikan.

Pria paruh baya itu juga menambahkan bahwa telur-telur penyu menetas tukik (sebutan bagi anak penyu) akan keluar dari sarangnya untuk kembali ke laut. Meskipun jumlah telurnya dapat mencapai ratusan dalam sekali siklus bertelur tersebut, persentase hidup tukik sangat rendah. Hal tersebut dikarenakan di laut, tukik, terancam oleh predator yang memangsanya. Selain itu, masyarakat di sekitar pantai Kastela ada juga yang masih mengkonsumsi daging serta telurnya. 

“Kemungkinan untuk bertahan hidup ini susah, kalau ikut siklus bertelur dan menetas langsung ke pantai itu rentan sekali karena banyak juga predator di laut dan sebagian masyarakat juga masih mengkonsumsi Dia p (punya) daging dan telur entah itu mereka dapat pas Penyu bertelur atau jaring dari tangkap nelayan. Makanya itu, kenapa sehingga harus ada penangkaran,” ungkap bang Jab dengan mencerup rokok.

Disamping itu, bang Jab juga mengatakan bahwa penangkaran penyu dibuat tidak diperuntukan untuk tempat wisata. Lantaran berbagai pertimbangan, apalagi sampah yang berhamburan di sekitar pesisir pantai ini juga menjadi salah satu ancaman terhadap habitat Penyu.

“Penangkaran ini bukan diperuntukan untuk wisata, tapi arahnya memang menuju ke industri wisata, kami pikir harus benah-benah lagi deh. Apalagi persoalan sampah, belum lagi sampah pemukiman yang menumpuk di pesisir pantai,” tegasnya.

Dedi Abdullah, Owner Dodoku Dive Center membenarkan bahwa masih ada sebagian warga setempat yang masih berburu Penyu. Akan tetapi, mereka tidak pernah lelah sosialisasi kepada masyarakat bahwa Penyu itu dilindungi oleh undang-undang.

“Banyak yang berburu sebelumnya, cuman kami juga terus sampaikan ke warga kalau habitat ini dilindungi dan alhamdulillah  mereka sudah mulai berkurang,” ungkapnya saat disambangi Mantra.

Ia juga mengatakan tujuan untuk membuat tempat penangkaran yaitu untuk memberikan edukasi kepada warga, tentang wisata berbasis lingkungan dan juga makhluk di sekeliling. Karena Tempat wisata yang berada di kota Ternate tidak terlepas dari lingkungan, sehingga  dengan adanya penangkaran ini mampu merubah pola berwisata dari masyarakat.

“Kami membangun ini untuk edukasi sebenarnya, karena kurangnya orang mendapatkan edukasi tentang wisata berbasis lingkungan dan makhluk-makhluk di sekeliling, kami juga coba ruba pola berwisata dan beredukasi tentang lingkungan. Padahal dimana tempat wisata yang ada di kota Ternate ini, ya tidak lari dari lingkungan tersebut,” ujar bang Ded.

Selain itu, salah satu mahasiswa akhir semester IAIN Ternate Rajif Sahib, relawan konservasi Penyu saat dikonfirmasi mengatakan bahwa tidak hanya Penyu yang di konservasi. Namun, ada juga puluhan pohon hampir terancam punah yang mereka tanam.

“Ada beberapa jenis pohon yang kami tanam diantaranya pohon capilog (nyamplung), ketapang, padang pante(goru-goru), gosua, guru raci, pohon pinus, jamblang, manuru pante (pantai), beringin, dan pohon kelapa,” tuturnya.

Sementara, harapan Rajif untuk anak-anak muda harus lebih memperhatikan lingkungan. Sebab kian bertambah lingkungan semakin terancam, sehingga anak-anak muda harus lebih pandai dalam berpikir ke depan.

“Harapan saya untuk anak muda, saya pikir satu langka yang kita ambil sekarang itu menentukan seribu langkah yang akan datang. Makanya dari situ pandai-pandai lah untuk berfikir untuk melihat lingkungan kita beberapa tahun ke depan,” tandas mahasiswa semester akhir.


Penulis: Rifal Amir

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *