Press "Enter" to skip to content

Cerita Tamrin Tamam Seniman Asal Tubo

Last updated on Mei 20, 2022

Lantunan gesekan tali fiol itu bergetar kuat, jari-jemarinya menekan kunci fiol, suara indah keluar dari gesekan alat musik itu.

Siang itu, perkakas berserekan di dapur Tamrin, berbekal alat sederhana pria yang biasa di sapa ko Tam itu membuat berbagai ukiran alat musik tradisional mulai dari fiol, rababu sampai dengan tifa, yang ia buat dengan berbagai motif.

Tamrin tamam (56) seniman asal Tubo, Kota Ternate, kesehariannya membuat alat musik tradisional khas Maluku Utara yang telah ia tekuni sejak 2015 silam.

Ko Tam mengaku mulai membuat alat musik khas Ternate sejak lima tahun silam. Ketika itu Ko tam berada di Kalimantan dan mendapat ide di sana untuk mencoba membuat alat musik tradisional.

“Saya pernah ke Kalimatan. Saya lihat mebel di sana ada ukiran kursi ada ukiran yang macam-macam untuk kerajinan tangan. Kemudian saya pulang saya coba cipta. Pertama saya bikin salawaku kecil untuk pribadi saya. Abis kamari saya bapikir ini bagaimana mo bikin fiol dan saya gambar deng rakit palang-palang. Abis itu kamari saya lia dong bikin fiol dan saya coba. Ini adalah ilmu mata,” tuturnya

Dengan alat sederhana, dalam sebulan om Tam dapat menghasilkan dua puluh buah alat musik tradisional. Bahan yang digunakan ko Tam dalam pembuatan alat musik tradisional adalah kayu pule atau kayu telur yang dagingnya tidak keras.

Kerajinan tangan buatan om Tam dihargai cukup tinggi. Ini karna bahan-bahan alat musik yang harus ia tanggung sendiri. Pendapat yang ia dapat dari hasil penjualan alat musik mampu menghidupi keluarga kecil ko Tam.

“Fiol pernah saya kase deng harga Rp. 400.000, barang saya yang tanggung dia punya spul tambah deng fiol dan stel-stel nada itu, barang saya yang tanggung jawab, dalam sebulan bisa sampe Rp. 2.000.000,00 Tergantung dong pesan barpa,” jelasnya.

Selain membuat alat musik tradisional, ko Tam juga melatih anak-anak memainkan musik tradisional. Ko Tam membuka ruang bagi seluruh masyarakat untuk belajar memainkan alat-alat musik tradisional, karna bagi ko Tam musik tradisional adalah warisan leluhur yang harus dikembangkan.

Dia menuturkan banyak anak muda di kelurahan Tubo yang ia ajarkan hingga bisa memainkan alat musik tradisional. Setiap sore anak-anak dan pemuda berkumpul di panggung kantor desa kelurahan Tubo untuk belajar bermain musik tradisional.

“Ini juga ada yang belajar suling deng fiol lagi di saya. Ini dari sanggar bastiong, setiap sabtu deng minggu sore saya kase ajar dorang,” ujarnya kepada Mantra.

Ko Tam sendiri mulai belajar musik tradisonal saat masih duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Ia bilang saat itu ia mulai dengan belajar teknik dasar bermain fiol.

“Saya masih SD kelas 6 itu sudah tau, istilah gesek-gesekan itu belum masuk lagu to, belajar main-main sabarang. Setelah itu saya belajar-belajar sampai selesai. SMP dan SMA saya iko sanggar keraton di Kesultanan Ternate pada massa itu sanggar punya nama MYAKAR (pemuda yang berkarya). Disini (MYAKAR) saya mulai kembangkan saya punya kemampuan,” ujarnya pada, (16/4/22).

Ia bilang bahwa karna keahliannya memainkan fiol, rababu dan tifa, beberapa daerah di Indonesia pernah ia jejaki. Bahkan ko Tam pernah diundang ke Cina untuk memainkan dan memperkenalkan musik tradisional Maluku Utara.

“Tong latihan-latihan itu abis dapa kase berangkat di Belanda, tapi itu saya tra pigi kong ganti deng saya punya ana kampong sini. Setelah dari belanda, pulang itu ada job kaluar lagi di Solo, Kalimantan, Samarinda, Balikpapan, Palembang, dan Semarang. Kamaring terakhir tong pigi di Beijing (Cina) itu sekitar 2006,” ujarnya sambil menujukan tawa karna bahagia.

Liputan: Rifai Amir | Mantra

Editor: Redaktur

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *