Press "Enter" to skip to content

Cerita Warga Kampung Baru Gambesi

Kelurahan Gambesi cukup dikenal di kalangan masyarakat Maluku Utara, kampung ini memiliki hubungan sosial yang terbuka, karena terdapat sebuah Universitas yang berlokasi di kelurahan Gambesi. Berbagai Etnis bermukim yang di kelurahan Gambesi, mulai dari suku Makeang, Tidore, Bugis, Hiri, Sula, Toloa dan berbagai suku lainnya.

Gambesi dengan luas wilayah hampir lima kilometer, terdapat tiga kelompok masyarakat di dalamnya, yaitu Gambesi Kampung Baru, Gambesi Toloa, dan Gambesi Ternate dengan pemukiman wilayah yang berbeda. Secara geografis, Kampung Baru terletak di wilayah bagian utara, dekat kampus 2 Unkhair. Sedangkan Gambesi Toloa di bagian selatan wilayah pesisir, dan Gambesi Ternate di wilayah bagian barat dekat perbatasan Kelurahan Sasa.

Berbagai sumber mengenai asal mula jadinya Kampung Baru yang bisa diperoleh dari warga Gambesi memiliki perbedaan cerita. Ada yang mengatakan Gambesi dulu induknya di Kampung Baru, ada juga yang mengatakan bahwa induknya Gambesi Ternate.

Masyarakat Gambesi atau terlebih khususnya orang Kampung Baru sebelum tahun 1946 bermukim dan menetap di pegunungan karena ingin menghindari bangsa Portugis dan Belanda, yang kala itu masih menguasai Ternate. Wilayah bagian pesisir Gambesi, kondisinya masih dipenuhi pepohonan seperti pala dan cengkeh. Di masa itu, bangsa Belanda masih menguasai wilayah tersebut sebelum Indonesia merdeka pada 1945. Saat itu, sudah ada beberapa suku yang tinggal di Gambesi, dianataranya suku Sula, Tidore dan Ternate. Masyarakat Kampung Baru atau Gambesi, selain menggunakan bahasa Tidore dan Ternate, mereka kerap juga menggunakan bahasa Belanda.

Pak Imam Usman Malan (65) atau disapa Aiman warga Kampung Baru, saat ditemui Mantra pada selasa (24/5/2022), ia mengatakan, Gambesi asli atau induknya adalah Kampung Baru. Sebelum kemerdekaan Indonesia, orang-orang Kampung Baru menetap di daerah pegunungan, yang sekarang menjadi kebun warga. Nama Kampung Baru mulai diucap oleh masyarakat pada tahun 1946. Pasca kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 seluruh warga yang tinggal di pegunungan mulai perlahan turun membuat pemukiman di daerah pesisir dengan perintah dari Mahimo (kepala kampung) waktu itu, Nuru Umar. Hanya sekitar enam rumah pemukiman warga di daerah tersebut. Setelah orang Belanda pergi dari Ternate, Mahimo mulai mengumpulkan warga yang tinggal berjarak atau berjauhan.

“Kampung ini, orang gambesi yang betul. Pokoknya dia pe Kapita, Ngofamanyira, deng Himo-himo itu di sini (Kampung Baru). Kalau Gambesi dibawa (gambesi Ternate) , ada yang datang dari Sula, ada juga datang dari Hiri. Deng Gambesi yang sabla (Gambesia Toloa) kalau itu datang dari Maitara. Jadi Kampung Baru di sini, dong so tinggal dari zaman kerajaan itu lagi, dong dari Tidore Afa-afa, tapi bolom nama Kampung Baru waktu itu,” tutur Aiman.

Masyarakat Kampung Baru yang mencakup RT 02 dan RT 03 kelurahan Gambesi, dulunya bermukim di wilayah kampus 2 Universitas Khairun setelah warga pindah dari pegunungan. Aiman menceritakan bahwa kawasan terjal di wilayah kampus 2 itu, sebelum menjadi Kampung Baru, bangsa Cina telah bermukim terlebih dahulu di wilayah tersebut. Begitu masuknya bangsa Jepang, mereka menyerang wilayah tersebut dan menewaskan bangsa Cina yang menetap di sana. Setelah itu, masyarakat Gambesi dari pegunungan turun membuat kampung di wilayah tersebut pada tahun 1946, sehingga memunculkan ucapan atau perkataan dari warga kampung tetangga bahwa “Ada kampung yang baru nae-nae kadara itu”, atau misalkan jika ada pengunjung yang datang mereka berkata ‘’tong mau pigi kampung baru di dara”. Sejak itulah jadinya nama Kampung Baru.

”Orang kampung baru itu dulu tinggal di darat, wilayah kampus itu. Dulu belum ada kampus, rumah masih enam. Rumah ada enam itu, makanya orang sini dong bilang ‘kampung baru’. Saya itu dulu lahir di situ, saya pe papa asli orang kampung baru situ, dong juga bisa bicara pake bahasa Belanda. Dulu dong cerita, orang Cina yang pertama bikin rumah di daerah kampus itu, tapi Jepang dorang bom kampung itu kong China itu dong mati semua,” ucapnya.

Luas wilayah Gambesi dahulu tidak seperti sekarang. Sebelum menjadi Gambesi, kampung ini dengan nama ‘Dorolamo Gambati’ seperti diungkapkan oleh Aiman. Pada tahun 1946 Mahimo Nuru Umar menguasai wilayah yang cukup luas, mulai dari Ngade, Fitu, Gembusi, Sasa, dan Jambula. Karena di waktu itu penduduk masih minim, beberapa kelurahan di Ternate Selatan sekarang ini, awalnya masih satu Mahimo (kepala kampung), dengan nama kampung ‘Dorolamo Gambati’.

Di sisi lain, H. Taher Ahmad (60) warga asli Gambesi Ternate, mengungkapkan hal yang sedikit berbeda. Ia mengatakan, Gambesi dulu induknya di wilayah bagian barat (Gambesi Ternate). Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, masyarakat dari luar Ternate yang pertama kali masuk di kampung Gambesi adalah suku Sula dari marga Pora. Orang Sula tersebut pertama kali tinggal di Gambesi sebelum suku lain memasuki wilayah ini. Dari waktu ke waktu, kemudian masuklah orang Tidore Toloa dari marga Fabanyo yang menetap di wilayah bagian selatan pesisir. Dan setelah itu, datang warga Sasa, Fora dan Tabona, mereka membuat pemukiman baru di wilayah terjal dengan nama Kampung Baru.

“Jadi dulu orang sula yang pertama kamari kawin deng Gambesi Ternate. Lama-kelamaan, datang orang Tidore, dong tinggal diwilayah yang sekarang di Gambesi Toloa itu. Orang Tidore Toloa datang kamari itu, dong tumbu besi bikin peda (parang). Terus kamari di kampung baru itu, orang dari Sasa dulu-dulu deng Fora bahkan dari Tabona, kong dong gabung di gambesi, akhirnya kasi nama Kampung Baru, Gambesi nae-nae kadara itu,” ungkap Haji Taher saat ditemui Mantra, pada Jumat (27/5/2022).

H. Taher mengungkapkan, munculnya nama kampung Gambesi, sudah ada sejak zaman Sultan M. Jabir Syah. Waktu itu ia mengelilingi pulau Ternate dan melihat warga Gambesi Toloa melakukan aktivitas menempa besi, di situlah kampung dinamakan ‘Gam-Besi’, artinya kampung yang terdapat masyarakat membuat parang.

“ Nama Gambesi itu dari jaman sultan dulu, Sultan dia pigi keliling Ternate kong singga di Gambesi, lia orang Tidore Toloa bikin-bikin parang tumbuk besi itu kong kase nama dari situ Gambesi, gam artinya kampung, besi itu dong tumbu-tumbu parang itu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, masyarakat dulunya belum ada yang tinggal di wilayah pesisir, tapi di wilayah pegunungan, hingga banyak kuburan tua di kawasan hutan Gambesi. Sekitar tahun 80-an, mulai berbagai suku dari luar Ternate memasuki kampung tersebut, yakni dari Makeang, hiri, maupun Halmahera, dengan membeli lahan, rumah dan kebun. Masa itulah, Gambesi sudah perlahan mulai menjadi kampung dengan kondisi sosial yang terbuka, karena adanya kebun kangkung, pala, cengkeh, dan Kampus Unkhair yang menjadi titik lahirnya jejaring sosial budaya masyarakat.

”Orang di sini dulu itu tinggal masih di belakang-belakang dara (pegunungan), hingga kubur di belakang dara itu banyak, disabla kalao ini (pesisir) masih hutan. Baru abis itu kamari dorang mulai turun kalao bikin rumah di sini (pesisir) baru ada yang datang dari Malifut beli tanah deng bikin kabong di sini,” ujarnya Haji Saleh.

Hamid Alim (58) warga asli kampung baru di sapa warga sebagai Om Hamid, menceritakan tentang asal mula kampung baru, saat ditemui Mantra pada senin (30/5/2022). Om Hamid menceritakan, kampung baru yang sekarang masyarakat penduduknya tinggal di depan kampus itu, merupakan perpindahan tahap ke 3. Tahap pertama sebelum tahun 45, awalnya masyarakat dahulu bermukim di kawasan “Jere”, kebun hutan Gambesi, dengan nama Gambesi Mayou (di atas), penduduknya sekitar 6-7 rumah yang berjarak. Kemudian pada tahap kedua, mereka mulai berpindah lagi di wilayah yang sekarang dikenal Jalan Baru, belakang Universitas Khairun, waktu itu dengan nama komplek ‘Sio Konora’, kampungnya berbentang hingga 3 kiloan ke barat. Kemudian tahap ke 3 tahun 1946, Mahimo atau kepala kampung, Nuru Umar, memerintahkan masyarakat untuk turun bermukim di wilayah bagian bawah, maka mereka pun membuat perkampungan di kawasan yang sekarang menjadi kampus Unkhair itu. Di saat itulah kampung baru diucap oleh masyarakat hingga sekarang.

“Kampung baru yang sekarang ini so masuk tahap ke 3. Tahap pertama, dulu dong masih tinggal di gunung, dekat Jere deng kobong cengkeh di dara, dong kase nama Gambesi Mayou, dorang dari Tidore marga Fola Simo. Baru tahap kedua, dong mulai pindah di wilaya belakang kampus, jalan baru pe keatas itu sampe kabawa di taman kebon cengkeh itu. Abis kamari di tahap ketiga ini, so mulai palang-palang pinda lagi di daerah kampus, kong bikin kampung di situ, akhirnya kampung baru jadi di situ. Kamari-kamari ini, orang dari luar datang banya, kong bikin rumah sorong kalao di muka gerbang kampus kalao itu, lalu kampung sekarang ini orang bilang di Gambesi jalan kampus nae kadara,” ujar Om Hamid.

Penulis : Fadli Usman/Mantra
Editor: Redaksi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *