Press "Enter" to skip to content

Corona, Membuatmu Sedang Mencegah atau Menakuti Diri Sendiri?

Oleh Sri Dania Ambar

Awal 2020, negara kita dikejutkan dengan merebaknya corona virus diseases 2019 atau yang lebih tepatnya severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Covid-19 selain menyerang sistem pernapasan, pneumonia akut bahkan sampai kematian.

Virus ini lazim dikenal dengan nama virus corona. Tanpa memandang bulu, virus ini dapat menyerang siapa saja yang lalai melakukan pencegahan. Dengan berbagai macam gejala yang tampak, adapun yang tidak tampak. Bukan hanya lansia, remaja, dewasa, ibu hamil dan anak-anak pun dapat terinfeksi virus jenis ini.

Covid-19 yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir 2019, begitu cepat merebak bahkan hingga menjadi pandemic (global) akibat begitu cepatnya terjadi penyebaran hingga menjadikan pandemic ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

KLB jenis ini membuat manusia dengan rasa takut dan cemas yang berlebihan terbirit-birit menjauhinya dengan melakukan berbagai upaya pencegahan. Hingga akhirnya menempuh beberapa hal yang tak seharusnya atau kebablasan dilakukan. Sistem Kesehatan, ekonomi, sosial, budaya dan agama yang kerap diporak-porandakan oleh virus ini, membawa manusia membangun mindset (sikap) yang tak sehat.

Manusia menjadi tidak sehat, bukan karena terinfeksi Covid-19. Terus apa yang membuat manusia ini tak lagi sehat? Ya, di beberapa belahan dunia, kita kerap mendapatkan manusia dengan gaya menyibakkan konteks kemanusian, dengan dalih takut terinfeksi Covid-19, sehingga melakukan pembelian antiseptic secara besar-besaran, menimbun masker dan membeli APD layaknya tenaga medis.

Apakah ini jenis manusia yang sehat? Apakah ini bentuk pencegahan diri dari Covid-19? Rupanya dengan tingkah seperti ini, semakin membuat manusia tak lagi sehat, bukan karena covid-19 tapi diri mereka sendiri.

Terkadang saya pun bingung, apakah ini yang disebut dengan pencegahan? Memberi makan rasa takutmu, dan membangun spekulasi akan hal-hal yang sebenarnya tak perlu berlebihan dan menjadi manusia egois seperti itu.

Dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar anda, sudah cukup membuat terhindar dari Covid-19. Lalu, apa perlunya menimbun masker, hand sanitizer dan APD, alih-alih agar tak terjangkiti virus corona.

Lupakah kalian bahwa Putera mahkota Inggris, pangeran Charles pun sempat terjangkit Covid-19? Sebelum akhirnya sembuh, sepekan ia diisolasi. Meski telah sembuh, ia mengungkapkan perlunya menjaga jarak dengan orang lain. Sehingga putera dari Ratu Elizabeth II itu masih melakukannya (CNN Indonesia).

APD digunakan untuk berpergian dengan alasan menghindari coronavirus, lupa kalau sajian makanan Pangeran Charles lebih steril dari anda? Ia tetap menjaga jarak, itu bukan karena hanya bentuk ketakutan tapi bentuk pencegahan, diisolasi agar diam di rumah, bukan malah jalan-jalan menggunakan APD lengkap, ini bukan menghindari hujan, yang mana dapat terlihat, ini menghindari virus, yang tak terlihat, namun dapat dirasakan.

Pencegahan MERS dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari kontak erat dengan penderita, menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan memakai sabun dan menerapkan etika batuk ketika sakit.

Secara hirarkis pencegahan dan penularan infeksi menurut infectionprevention and control (IPC), yaitu pengendalian administratif, pengendalian dan rekayasa lingkungan, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi:

1. Kewaspadaan standar (standardprecaution) yang diterapkan di semua fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi semua pasien dan mengurangi risiko infeksi lebih lanjut.

2. Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi tambahan ketika merawat pasien ISPA yaitu semua individu termasuk pengunjung dan petugas kesehatan yang melakukan kontak dengan pasien ISPA.

3. Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi pada prosedur/tindakan medis yang menimbulkan aerosol (< 5 mikron).

4. Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi ketika merawat pasien probable atau konfirmasi terinfeksi MERS-CoV dengan membatasi jumlah petugas kesehatan, anggota keluarga dan pengunjung yang melakukan kontak dengan pasien suspek, probable atau konfirmasi terinfeksi MERS-CoV serta menunjuk tim petugas kesehatan terampil khusus yang akan memberi perawatan secara eksklusif kepada pasien.

5. Durasi tindakan isolasi untuk pasien harus diberlakukan selama gejala penyakit masih ada dan dilanjutkan selama 24 jam setelah gejala hilang.

Cukup dengan melakukan pencegahan, bukan memberi makan rasa takutmu, apalagi memicu rasa takut pada diri orang lain. Ini bukan tentang diri sendiri, ini tentang kemanusiaan, tentang kita yang masih ingin hidup bersama.

Pencegahan itu mudah, hanya diperlukan niat dan melakukan pencegahan. Rasa takut itu sulit, mengikuti keinginan hati yang takut itu ribet, takkan ada habisnya, takkan pernah selesai. Seperti serakah, rasa takut yang diberi makan pun, sama.


PENULIS:
Sri Dania Ambar

Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU Malut)


Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *