Press "Enter" to skip to content

Covid-19 dan Cinta Kemanusiaan

Nyaris beberapa minggu belakang pemberitaan media cetak dan elektronik serentak menyajikan narasi yang menggugah rasa kemanusiaan semua negara. Hampir separuh penduduk bumi tengah mengarahkan perhatiannya pada satu objek super kecil, namun memiliki daya penghancur-dahsyat dan karib dikenal sebagai virus covid-19.

Bahkan sebagian pemuka agama menganggap covid-19 adalah tentara Tuhan. Tentara Tuhan yang seolah hendak mengirimkan sinyal atau tanda-tanda awal betapa dahsyatnya gambaran hari kiamat yang sebelumnya telah banyak tersurat dan tersirat melalui wahyu dan kitab suci berbagai agama.

Pergerakan dan persebaran virus covid-19 yang banyak menyerang, menginfeksi dan parahnya seolah ikut membunuh akal sehat manusia. Amsal salah satu video bayi yang baru lahir bisa bicara dan meminta untuk memakan telur sebagai penangkal covid-19 banyak beredar dan sudah begitu dipercaya oleh sejumlah kalangan masyarakar sebagai kenyataan penuh harapan.

Padahal covid-19 yang kedatangannya terkesan mendadak, tidak sanggup diprediksi, diduga bahkan diramal sebelumnya. Parahnya, manusia seolah hanya bisa pasrah dan tertunduk menyaksikan ganas dan beringasnya covid-19 dengan tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba berdiam diri di rumah.

Abdul Muttalib, salah satu dosen di Universitas Al Asyariah Mandar, mengurai dalam tulisannya di media online telegraph. Ia mengandaikan bahwa covid-19 karib berdenyar tanpa cahaya, berlalu tanpa bunyi, laksana angin yang hembusannya terasa namun tak kasat mata.

Hal itu bagi penulis tidak berlebihan karena covid-19 terasa sangat absurd nir konkrit. Ia seolah ada di mana-mana namun tak berada di mana-mana. Ia dengan angkuh dan perkasa menyerang paru-paru, mengganggu sistem pernapasan dan parahnya sudah sangat banyak merenggut nyawa manusia.

Jarak minimal satu meter dibutuhkan sebagai upaya yang dianggap oleh para ahli kesehatan sebagai upaya menangkal penyebaran covid-19. Soal jarak ini sudah diimbau jauh-jauh hari dengan istilah social distancing. Hal ini harusnya segera diindahkan jangan malah dianggap lelucon karena data dan fakta peristiwa dari pemberitaan sudah begitu nyata adanya.

Fakta teranyar, negara Italia, Cina, Prancis, dan data terakhir terjadi pelonjakan jumlah manusia yang terpapar virus covid-19 di Amerika. Sungguh penulis tidak mau menyaksikan negara kita, kota kita dan kampung kita menjadi wilayah duka, bahkan kota mati jika separuh penduduknya terjangkit bahkan meninggal diamuk ganas covid-19 seperti negara lain tadi.

Olehnya itu, terasa sangat mendesak untuk meningkatkan kewaspadaan, karena Covid19 mengintai dan menyerang tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu, sebagaimana cinta. Tidak akan berpihak dan memihak kepada siapa pun. Tidak bisa memilih untuk mencinta dan dicintai. Ia laksana lesatan anak panah Dewi Amor dalam kisah mitologi Yunani. Anak panah yang sedianya menancap di lambung dan hati kemanusiaan kita.

Wallaullam bisawab.


Oleh Guzman Azis

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Al Asyariah Mandar


One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *