Press "Enter" to skip to content

Dua Prosa Perjuangan Sang Kawan

Last updated on Februari 29, 2020

Tabik Hujan kepada Petani 

Hujan: Dewi padi menyapa dengan riang-gembira. Bahagia, dalam makhligai tumbuh-subur berkecambah. Tanah yang indah, pupuk ditaburi, jadilah sumber keinginan ibu dan bapak tani.

Aku senang dalam irama senandung, menari hujan di saban malam, dewi padi dan anak-anak buahan sedang berdoa pada langit dan Tuhan. Berzikir dengan hikmad agar hujan tak harus pergi lagi.

Petani-petani lain masih mengangah akibat ulah harga dari tanaman kelapa. Kini kopra dan mainan spekulan juga kaki tangannya birokrat masih kuasa menginjak harga diri Petani Kopra.

Ahoi, ya, sudahlah—kita sedang bersimpuh di lamunan mimpi indah keyakinan dan kepercayaan. Di hadapan hujan—membasahi diri, dan kita sedang duduk-perkara dari hati yang nelangsa.

Bahwa hidup tak harus begini, tunggang-langgang taka-ruang. Kita sedang membangun kasih persatuan, bergerak dalam hidup terbengkalai, membongkar teka-teki minoritas kuasa modal dan takhta kuasa.

Di bumi manusia ini, rupanya ada upaya jatuh dan bangun cinta oleh anak semua bangsa. Di saban malam, di tengah-tengah impian bahagia karena tak harus digerogoti nasib oleh spekulan dan kaki tangannya harapan naiknya impian harga kopra.

Jejak langkah merajut impian, lelah jiwa, terkapar sebatang nasib. Petani tak boleh kalah, menderita, bahkan tak harus jadi kayu bakar ditelan bumi manusia. Ya, nasib. Masih sebuah harapan meskipun hanya ada dalam lubuk hati, tak bisa nyata seperti hujan membahagiakan.

Hidup jadi hujan bagi petani, adalah harapan saat musim cekikan tengkulak tak ada lagi. Kita selamat, petani selamat, hujanpun hampir tak ada arti dalam hidup manusia bahagia.

Petani belajar menaklukkan alam dengan ilmu tanahnya, hukum-hukum dunia harus dipahami, jadilah seorang petani yang bermartabat dan belajar dengan berani untuk memperjungkan hak dan impian yang direnggut kekuasaan modal, negara, dan minoritas penindas.

Karena dengan begitu adalah hak dan jalan menempuh setapak kemenangan.

(*Didedikasikan untuk Petani Kopra. Senin, 24 Desember 2018)

Senja di Pantai Gambesi (foto: Burhanuddin, Mahasiswa Sastra Inggris Unkhair)

Sebelum Fajar Menyingsing dan Remang Senja Memeluk Mesra Bulan Purnama

Bintang kecelakaan itu selalu bersinar, Bintang kemenangan selalu bersinar, tatkala hidup tak jadi batu tumpuk dan gunung menyerah.

Dalam hidup, setapak-demi-setapak dihiasi dan dilewati dengan ketakziman berkawan dan berani melawan, realitas pengaruh kekuasaan tak beradab, saling memangsa—menjadi barbar: arti sebuah hukum dan hakim merampas kemanusiaan oleh hegemoni kelompok penjagal.

Ceritalah pada dunia! tentang bintang, tentang bulan, tentang malam, tentang air, tentang angin, tentang ombak, tentang samudera raya di senja kala, matahari kebahagiaan, dan tangga-tangganya menggapai surga sesungguhnya di alam bebas menjarah raya ini.

Jangan lupakan, tulislah ketulusan hati dan bakti kerja kau dalam hidup yang memuliakan diri dan orang lain, memberi dengan bekal ilmu pengetahuan yang sudah diyakini sebagai tonggak bumi pembebas kapasitas manusiawi, pedoman dan falsafah merawat fitrah hukum dunia ibu dan dengan karena bahasa keadilan tanpa kemungkaran setetes air sedikit pun, butir pasir sekecil pun, tak harus mengotori alam ibu-mu yang membebaskan kemanusiaan. Jangan campurkan yang hak dan yang bathil, itu dia hal yang berbeda—hukum hidupnya.

Tujuan kau melangkah dalam prodak zaman moderen ini, arahkan kemana kesungguhan mulia jejak organisasi yang kau geluti. Suguhkan semua kekuatan jiwa-ragawi, jasmani dan rohani, agar tak menumpahkan piluh meregang jiwa.

Ingatlah bahwa hidup adalah tanggung jawab terhadap pikiran, anak dari rahim kebenaran, dan memang perjuangan butuh tagihan sembari senantiasa sebagaimana galibnya mimpi perubahan masyarakat yang indah di masa depan lebih baik, menjadi impian bersama oleh segelintir mereka yang terus-menerus berjuang ditempah dengan gelombang dan amukan badai ujian, celaka, dan kebijaksanaan pribadi-pribadi bermartabat.

Kawan muda yang baik

“Tidak ada yang bermartabat bagi seorang anak muda, kecuali dua hal; pertama, bekerja untuk melawan penindasan, dan kedua, melatih dirinya untuk melawan kemapanan.” (Che Guevara).

“Jika kekuatan hati dan kekuatan pikiran sudah menyatu, maka hanya kematian yang dapat memisahkan.” (Albert Camus).

 

Rudi Pravda

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *