Press "Enter" to skip to content

Folklor Sebagian Lisan Pada Tradisi Masyarakat Foramadiahi

Penelitian Lapangan Oleh Randi Ishab

Umumnya kata folklor kerap terdengar asing di telinga orang-orang yang bukan menggeluti bidang antropologi, atau mereka yang belajar folklor namun belum memahami apa itu folklor. Pada kesempatan ini, kami coba menulisnya dan memperlihatkan kepada teman-teman apa sih folklor itu! Kemungkinan besar ini hanyalah gambaran untuk pembaca dan sekadar untuk mengingatkan serta merefleksikan kembali folklor yang dimaksud oleh penulis.

Secara umum dalam kamus sosiologi dan antropologi yang ditulis M. Dahlan Yacub Al-Barry (2001) menjelaskan bahwa folklor merupakan adat-istiadat dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun- temurun, tetapi tidak dibukukan―atau adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang disampaikan secara lisan. Berdasarkan pendefenisian di atas, maka folklor dapat dikategorikan menjadi 3 bagian di antaranya: folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor (non) bukan lisan.

Dengan adanya kategori folklor di atas, kami bersepakat meneliti salah satu di antaranya yakni folklor sebagaian lisan pada masyarakat Foramadiahi, di Ternate, Maluku Utara, Kecamatan Ternate Selatan. Dalam Kamus Istilah Antropologi (1979) yang dikeluarkan oleh Pusat Pembina dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, istilah folklor sebagian lisan merupakan folklor yang penyebarannya dilakukan bukan saja secara lisan, melainkan juga dengan contoh yang disertai perbuatan.

Tari rakyat termasuk golongan ini, karena untuk mengajar tari itu, selain disampaikan secara lisan, harus dilakukan pula contoh gerak. Dalam golongan ini termasuk juga kepercayaan rakyat, permainan rakyat, dan teater rakyat. Pada penjelasan pengertian folklor dan termasuk folklor sebagian lisan di atas, sebelum masuk ke pembahasan tentang seberapa mendalam penelitian folklor sebagian lisan pada masyarakat Foramadiahi. Alangkah baiknya kita bicara sedikit soal asal mula kampung Foramadiahi.

Sejarah Singkat Foramadiahi

Menurut W.J.S Poerwadaminta: sejarah adalah asal-usul (keturunan) silsilah, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo; cerita serta pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.”

Berdasarkan pengertian sejarah yang di maksud Poerwadaminta merupakan bagian dari masa lalu yang tidak terlepas dari ikatan darah, yang mengalir melalui garis keturunan. Hal tersebut barang tentu merupakan sesuatu yang telah menjadi riwayat berupa cerita-cerita dan bersumber dari pengetahuan masyarakat yang terekam melalui peristiwa serta kejadian di masa-masa sebelumnya.

Dengan demikian, asal-usul Foramadiahi berasal dari bahasa Ternate, fo tike waro madiahi (mencari tahu pasti). Maksud dari kalimat di atas secara historis yaitu ketika perang antar sultan Babullah dan sekutu portugis. Menurut informan pak (KN) “sekutu portugis ketika itu bersembunyi kemudian pasukan sultan Babullah mencari tahu pasti letak keberadaan sekutu Portugis. Maka dibentuklah sebutan kampung Foramadiahi―sebagaimana dalam bahasa Ternate “fo tike waro madiahi”.

Masyarakat foramadiahi sebelumnya mendiami sekitar makam sultan Babullah, hingga tahun 1955 kemudian berpindah tempat ke wilayah akelemo dan membentuk pemukiman baru yang diberi nama kampung Foramadiahi.

Foramadiahi termasuk dalam salah satu kecamatan yang berada di kota Ternate. Didiami oleh sebagian kecil penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani. Akses jalan menuju desa ini sangat menanjak. Bahkan letak rumah-rumah yang dibangun di foramadiahi pun berada di dataran yang tinggi. Umumnya masyarakat foramadiahi menggunakan bahasa Tidore, ada sebagian kecil masyarakat yang menggunakan bahasa Ternate apabila bertemu atau mendapatkan orang Ternate yang berkunjung di Foramadiahi.

Deskripsi

Folklor sebagian lisan adalah meliputi:

1.Kepercayaan Atau Takhayul (Kepercayaan Terhadap Keramat)

Masyarakat foramadiahi memiliki kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat supranatural misalnya, kepercayaan terhadap makam-makam yang dianggap keramat. Salah satu makam yang masih dipercayai sakral yaitu makam Sultan Babullah. Bagi masyarakat foramadiahi makam Sultan Babullah sangatlah penting karena sangat berpengaruh terhadap hasil panen para petani. Hal ini dibuktikan dengan adanya ritual tagi karama (berkunjung ke karamat). Dengan adanya ritual berkunjung keramat yang dilakukan setiap tahun sekali, masyarakat Foramadiahi mempercayai dapat memberikan hasil panen yan melimpah. Menurut pak Hj. Kene salah satu informan yang diwawancarai mengatakan bahwa;

“ritual ini tong bikin baru beberapa bulan yang lalu, bertepatan dengan musim cengkeh, jadi ritual ini tong bikin dengan berkunjung ke karamat dan meminta agar diberi hasil panen yang melimpah.”

Ritual ini dibuat beberapa bulan yang lalu, bertepatan dengan menjelang musim cengkeh, prosesi ritual berlangsung dengan berkunjung ke karamat Sultan Babullah dan memohon agar diberi hasil panen yang melimpah.

Dengan penjelasan di atas masyarakat Foramadiahi umumnya terlihat sangat kental dengan adat-istiadat, belum lagi kepercayaan terhadap leluhurnya berupa makam-makam yang dianggap sakti sangatlah memberikan warna terhadap kehidupannya. Dengan demikian, jangan heran apabila menemukan hal-hal seperti ini dilakukan masyarakat Foramadiahi sebagai kepercayaan yang dapat mendatangkan rezeki. Pada kepercayaan seperti ini, masyarakat Foramadiahi juga masih tetap mempertahankan agama islam sebagai pedoman hidup menuju akhirat.

Hal ini dapat dibuktikan langsung, ketika kalian berkunjung dan peneliti ketika melakukan penelitian ini. Ketertarikan peneliti terhadap perkembangan agama islam yang diterapkan untuk anak-anak usia dini sangatlah kental. Upaya yang dilakukan dengan senantiasa meramaikan singgasana masjid ketika menjelang ba’da ashar. Semua anak-anak berpakaian layak para santri. Sebagian lainnya, perempuan menggunakan mukena dan laki-laki peci sudah pastinya.

Ada juga salah satu musala yang terlihat sangatlah tua, di depan bertulis TPQ. Karena, memang sudah sangatlah tua dan sebelumnya dijadikan sebagai tempat beribadah ketika bangunan masjid besarnya direnovasi. Tempat ini sangatlah ramai dengan suara anak-anak itu. Sehingga terkesan kagum dengan berbagai lantunan ayat-ayat suci yang diserukan itu, keluar meramaikan singgasana jalan yang sunyi itu.

Memang kampung tua ini sangatlah berwarna, selain dari kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mereka juga masih tetap mempercayai keramat yang merupakan kepercayaan leluhur mereka. Sebagaimana salah ritual yang dilakukan ketika musim panen cengkeh.

Ritual ini sudah dilakukan puluhan tahun yang lalu dan wajib untuk dilaksanakan sebab ada pantangannya. Apabila ritual ini tidak dilakukan maka hasil panennya mengurang. Hal ini dapat kami kutip apa yang disampaikan oleh salah satu informan dalam ceritanya “waktu itu saya lupa kong saya tara bikin ini ritual, dan baku dapa deng musim cengkeh “saya pe cengkeh dia babuah sadiki tara sama deng yang sebelumnya, setelah inga-inga deng batanya di saya pe orang tua, ternyata saya lupa lakukan ritual itu. Jadi karena itu, saya berniat setelah panen nanti saya akan buat ritual dan syukurlah sekarang saya pe cengkeh babuah juga bagus.”

Berdasarkan dengan hasil cerita di atas kami menyimpukan bahwa masyarakat foramadiahi pada umumnya sesuai dengan kepercayaan leluhurnya harus melakukan ritual tagi karama karena dengan melakukan ritual ini hasil taninya akan melimpah. Begitu pun sebaliknya apabila tidak melakukan ritual ini maka hasil panennya pun mengurang.

Salai Jin

Salai jin merupakan salah satu kepercayaan masyarakat Foramadiahi yang dilakukan sebagai sarana penyembuhan penyakit atau ritual penyembuhan/pengobatan. Umumnya masyarakat Foramadiahi merupakan masyarakat migrasi yang bertempatan di kelurahan Afa-afa di Tidore Kepulauan. Maka jangan heran jika ritual yang dilakukan juga merupakan ritual salai jin. Ritual ini dilakukan pada waktu tertentu, misalnya ketika ada keluarga yang sakit maupun kerabat-kerabat lainnya.

Dabus Atau Tarekat Syekh Abdul Kader Jailani

Ritual ini juga sama persis dengan ritual salai jin yang dipercayakan sebagai media penyembuhan penyakit yang tidak bisa dideteksi oleh medis modern. Jadi, yang membedakan ritual salai jin dengan ritual dabus. Salai jin disebut tarian kasar sementara dabus sebagai ritual halus.

2. Adat Istiadat

Masyarakat foramadiahi juga mempunyai adat istiadat dalam mengatur tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai kesopanan sangat identik dengan masyarakat Foramadiahi, misalnya sifat mneghargai terhadap sesama dan juga orang lebih tua. Menurut seorang informan yang diwawancarai mengatakan bahwa adat istiadat atau norma kesopanan sudah tidak lagi dipraktikkan oleh generasi muda saat ini. Jika ditengok ke belakang masyarakat Foramadiahi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.

“dulu di masa torang, kalu bajalang lewat orang tua-tua pe muka tong harus batabea deng maruku. Tapi ana-ana zaman sekarang dong so tara perhatikan hal itu, bahkan kalo bajalan tong pe bayangan tara bisa kanal pa dorang. Karna itu dong anggap tong tara sopan dan kalu tong langgar ada dia pe hukuman, biasanya tong pe umur pende,” ujarnya.

Bentuk kesopanan yang dimaksud adalah sikap atau perilaku masyarakat Foramadiahi waktu itu bertentangan dengan apa yang dilakukan generasi saat ini. Hal ini dibuktikan dengan bentuk perilaku generasi muda saat ini terhadap orang yang lebih tua tidak lagi diperhatikan. Berbeda dengan sebelumnya yang ketika berjalan di depan orang tua harus menyapa salam dan menunduk.

Perilaku ini bagi masyarakat Foramadiahi sebagai nilai kesopanan yang harus dibentuk dalam kehidupan bermsyarakat. Lain dari pada itu, ada nilai yang perlu diperhatikan juga sebagaimana pendapat informan di atas “…kalu tong langgar ada dia pe hukuman biasanya tong pe umur pende.” Maksudnya bahwa ketika perilaku buruk itu tidak diperhatikan, dengan sengaja dilakukan dan bayangan kita bersetubuh dengan mereka, maka hukumannya kita bisa mati. Makna bayangan jika diinterpretasikan adalah suatu perilaku yang mengemukakan kita dengan mereka para tetua kita. Yang artinya bahwa kepergian kita tidak mengenal usia―hal ini sejalan dengan proses kematian.

3. Tarian Rakyat

Masyarakat Foramadiahi juga mempunyai tarian rakyat yaitu, tarian salai jin. Tarian ini dulunya digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi dengan bangsa jin atau alam gaib, komunikasi tersebut bertujuan untuk meminta bantuan pada jin agar masalah yang dialami manusia bisa terselesaikan seperti penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga (orang Foramadiahi). Ketika dipertunjukan, tarian dilakukan berkelompok dan harus berjumlah genap untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Sedangkan untuk menarikan tarian ini bisa pria atau wanita atau juga bisa campuran pria dan wanita. Ketika ditampilkan, para penari umumnya akan kemasukan roh halus berupa jin.

Demikian tulisan ini kami buat, berdasarkan hasil penelitian lapangan. Kami sadar bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Demi perkembangan penelitian-penelitian selanjutnya, saran dan masukan dari pembaca sangat kami harapkan. Akhir kata, kami (penulis) berharap semoga ini menjadi tambahan pengetahuan pembaca dalam memahami sejarah di Maluku Utara, sebagai bahan bacarita. Lebih lagi ketika bicara soal tradisi folklor di masing-masing tempat pembaca lahir dan menetap di situ.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *