Press "Enter" to skip to content

Hasil Tangkapan Nelayan Teluk Buli Menurun, Akibat Aktivitas Tambang?

Mereka (tambang) kan mencarinya di darat, kami kan mencarinya di laut, kami kan tidak mencemarkan darat, mereka juga jangan cemarkan laut, agar kami juga bisa hidup lagi.

Siang itu langit tampak mendung. Sejumlah nelayan sibuk berkemas mengangkat ikan dari penjemuran, di pesisir Pulau Belemsili, Kecamatan Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara. Ikan-ikan tersebut dengan cekatan dimasukan ke dalam karung lalu dibawa masuk ke dalam rumah.

Di tepi pantai, sejumlah perahu bagang ditambatkan. Di pulau ini, bermukim 32 kepala keluarga yang semuanya berprofesi sebagai nelayan.

Ronaldo Riung (48), nelayan setempat, menjelaskan, tangkapan utama mereka ialah ikan teri (stolephorus sp), lalu ikan megi (decapterus sp) dan kembung (rastreligger).

Mereka mengoperasikan perahu bagang sebagai alat untuk menangkap ikan pelagis kecil. Bagang merupakan salah satu jenis alat tangkap ikan yang menggunakan jaring angkat dengan memanfaatkan cahaya (light fishing) untuk memancing ikan berkumpul.

“Ada 23 unit bagang yang beroperasi dari total 31 bagang. Ukurannya bervariasi, mulai dari 16×17 meter hingga yang paling besar 19×21 meter” ujarnya saat kami mengunjungi Pulau Belemsili, Jumat (21/5/2021).

Ronaldo bilang, setiap bagang memiliki 1 unit perahu berukuran 1,5 dan 2,5 gross tonnage (GT).

Waktu melaut ketika memasuki fase bulan gelap dan akan beristirahat pada purnama penuh. Nelayan akan kembali melaut lagi pada malam ke-5 setelah purnama.

Sekali melaut, operasionalnnya bisa mencapai Rp.10 juta. Pada setiap unit bagang, dioperasikan oleh 6 sampai 10 orang nelayan.

Dalam sebulan, hasil tangkapan berupa ikan teri mencapai 300 kilogram. Teri kering dijual Rp.40 ribu per kilogram, sementara ikan megi dan kembung dijual Rp.350 ribu per keranjang yang berisi 35-36 kilogram ikan.

Nelayan mengemas ikan teri kering ke dalam karung di Pulau Belemsi (21-5-2021). Foto: Adlun Fiqri

Jumlah Tangkapan Menurun

Dulu, cerita Ronaldo, hasil tangkapan sangat melimpah, berbeda dengan sekarang yang cenderung menurun.

“Kami hitungan per bulan itu pendapatannya di atas rata-rata 1500 kg. Itu (teri) kering, itu dari tahun 1995 sampai pada tahun 2000an awal. Dalam 5 tahun terakhir, bisa kita ambil standar pendapatan seperti yang ada sekarang, rata-rata 300an kilogram dalam sebulan” keluhnya.

Senada, Ikbal Djurubasa (39), nelayan asal Desa Mabapura juga merasakan terjadi penurunan hasil tangkapan.

“Dulu tidak harus melaut jauh ke laut yang dalam, di pesisir pantai saja kita bias dapat hasil yang luar biasa. Satu pemilik bagang, itu maksimalnys 3-4 ton, paling rendah 1 ton,” kata Ikbal.

Data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Halmahera Timur juga menunjukan produksi perikanan tangkap di Kecamatan Maba mengalami tren penurunan. Pada Tahun 2010 jumlah produksi mencapai 1.150 ton, Tahun 2013 menurun menjadi 891,2 ton, Tahun 2015 meningkat sebanyak 1.518 ton, Sementara Tahun 2016 terdapat 1.580 ton, dan pada Tahun 2017 menurun pada 420,72 ton.[1]

Ikan teri, tangkapan utama nelayan bagang di Teluk Buli, Halmahera Timur. Foto: Adlun Fiqri

Aktivitas Tambang

Pulau Belemsili merupakan satu dari gugusan pulau-pulau kecil di Teluk Buli, yang berseblahan langsung dengan Pulau Pakal dan juga Pulau Gee yang menjadi lokasi penambangan oleh PT. Aneka Tambang (Antam).

Data dari Geoportal ESDM, Antam memiliki konsesi pertambangan seluas 39.040 Hektar di Halmahera Timur melalui SK Nomor 188.45/540-170/2011 yang berlaku hingga Tahun 2040. Ijin tersebut mencakup daratan, laut, dan pulau-pulau kecil.[2]

Antam mulai menambang di Pulau Gee yang memiliki luas 171 Hektar pada tahun 1997, lalu pada 2003 di Tanjung Buli, berlanjut di site Moronopo di daratan Halmahera, dan di Pulau Pakal seluas 709 hektar pada tahun 2010.

Penambangan di site Pulau Pakal dan site Moronopo masih berlangsung hingga hari ini. Banyak kapal besar berlalu-lalang di Teluk Buli untuk mengangkut Ore (hasil galian tambang).

Kapal-kapal pengangkut nikel yang berlabuh tak jauh dari Pulau Belemsili, Teluk Buli (21-5-2021). Foto: Adlun Fiqri

Ronaldo bilang, aktivitas pertambangan, terutama di Pulau Pakal, sangat mempengaruhi aktivitas nelayan bagang di Teluk Buli. Berulangkali laut di sekitar berubah memerah akibat jatuhnya sisa ore yang diangkut ke kapal.

Ore yang jatuh di pinggiran kapal, itu dibuang, bukannya dikumpulin ke tongkang atau dibawah ke darat. Kalo tidak ada pengawas, mereka main buang saja. Mereka tidak pikir kalau kami nelayan ini bagaimana hidupnya nanti,” ujar pria yang mengaku pernah juga bekerja sebagai karyawan tambang di site Pakal ini.

Aktivitas penambangan oleh ANTAM di Pulau Pakal, tak jauh dari Pulau Belemsili, Teluk Buli, Halmahera Timur. Foto: Adlun Fiqri

Dulu, kata Ronaldo, mereka jarang mencuci jaring hingga bertahun-tahun, namun saat ini, setidaknya sekali dalam seminggu, karena jaring dipenuhi endapan lumpur merah.

Selain ore, beberapa unit bagang juga sering kena buangan oli kotor dari kapal pengangkut ore, bahkan bagang milik nelayan pernah ditabrak oleh kapal tugbot penarik tongkang.

Tidak hanya itu, desing eksavator dan mesin kapal, serta lampu-lampu kapal yang sangat terang, kata Ronaldo, membuat ikan-ikan menjauh dari lokasi bagang.

Penurunan Kualitas Perairan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmahera Timur, Harjon Gafur, tidak menampik jika aktivitas tambang berpengaruh pada lingkungan sekitar, termasuk para nelayan. Meski menurutnya, hingga kini, belum ada pengaduan ke instansinya terkait adanya limbah yang memengaruhi aktivitas nelayan di sekitar Pulau Belemsili.

“Terhadap kegiatan usaha penambangan ini sudah melalui tahapan uji lingkungan, pengkajian, analisis dampak lingkungan dan segala macam, saya pun mungkin membenarkan bahwa kalau kemudian ada pengaruh terhadap nelayan di sekitar, pasti,” ujarnya di Kota Maba pada 24/5/2021.

Harjon bilang, adanya limbah cair yang sudah terbawa sampai ke tengah laut, apakah limbah ini memberi dampak atau tidak, akan menjadi perdebatan panjang, karena pemerintah dan pengusaha akan merujuk pada baku mutu.

“Kalau belum melampaui baku mutu, pasti tidak ada pengaruhnya. Cuma sebenarnya tidak hanya faktor itu, karena dalam kajian lingkungan, sebenarnya itu ada faktor mesin. Kalau doser deng (dan) peralatan berat kalau bergerak di gunung (daratan), di dalam laut gemuruhnya luar biasa.”

Sedimentasi parah di pesisir Moronopo, Teluk Buli, akibat aktivitas tambang ANTAM. Foto: Adlun Fiqri

Pada Oktober – Desember 2015, Insitut Pertanian Bogor melakukan studi mengenai Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Daerah Penangkapan Ikan di Perairan Kabupaten Halmahera Timur.[3] Studi tersebut menjelaskan, logam berat dapat menyebabkan muatan padatan tersuspensi (MPT) meningkat di perairan yang menyebabkan penurunan kualitas perairan.

Hasil pengukuran kadar  MPT di perairan Wasile, Buli, Mabapura,dan  Bornopo (Moronopo) berada di  atas Nilai Ambang Batas (NAB) untuk tahun tertentu. Mengutip data laporan perusahaan, nilai Ni (nikel) tahun 2013 dan 2014 untuk wilayah Wasile Selatan, Buli, Mabapura, Bornopo, dan Kota Maba  berada di atas ambang batas. Sedangkan laporan perusahaan untuk tahun 2015 nilai nikel berada di bawah ambang batas.

Lampiran Kandungan nikel dan MPT di perairan Halmahera Timur. Sumber: https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/13095/9882

Nilai nikel yang mendekati ambang batas, menurut studi ini, diyakini dapat memengaruhi penurunan  kualitas perairan, bahkan dapat memengaruhi keberadaan sumberdaya ikan, biodiversitas apabila   aktivitas tambang terus ber-langsung dalam waktu yang lama.

***

Ronaldo, juga nelayan lainnya di Pulau Belemsili, berharap agar pemerintah dan perusahaan memerhatikan kondisi mereka.

“Kami nelayan bagang di sini, boleh dikata membantu masyarakat di kabupaten ini terkait keperluan ikan, sekalipun itu dibeli, kami yang siapkan, jadi kami berharap pemerintah daerah atau pusat, perhatikanlah nelayan di tempat ini,” katanya.

Mereka mendesak agar instansi terkait melakukan sosialisasi kepada nelayan terkait zona tangkap serta titik labuh dan jalur kapal-kapal pengangkut ore milik Antam, agar kejadian seperti di atas tidak berulang kembali.

Sementara itu, Presiden CSR PT. Antam unit Buli, Koko Susetyo, pada media lokal beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya akan memberikan bantuan dana kepada nelayan teri di Teluk Buli. Bantuan tersebut, menurutnya, merupakan kepedulian Antam terhadap nelayan teri yang selama ini mengalami penurunan hasil tangkap akibat dampak eksploitasi yang dilakukan Antam.[4]

Namun hingga kini, Ronaldo mengaku belum ada uluran atau bantuan dari pihak manapun, termasuk Antam sendiri.

Para nelayan meminta pemerintah dan perusahaan menjamin keberlanjutan kehidupan para nelayan.

“Mereka (tambang) kan mencarinya di darat, kami kan mencarinya di laut, kami kan tidak mencemarkan darat, mereka juga jangan cemarkan laut, agar kami juga bisa hidup lagi,” harapnya.


[1] https://haltimkab.bps.go.id/publication.html

[2] https://geoportal.esdm.go.id/indonesia-overview/

[3] https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/13095/9882

[4] https://zonamalut.id/pt-antam-akan-berikan-bantuan-dana-rp-500-juta-ke-puluhan-nelayan-ikan-teri/

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *