Press "Enter" to skip to content

Ice Cream itu Enak

Last updated on Desember 6, 2019

Menyeruput kopi dipadukan dengan senda gurau di pojok kampus itu mengasikkan. Ngopi (ngobrol pintar), begitu istilahnya. Mahasiswa yang tergabung dalam komunitas OI (Ontal Indonesia) memang begitu, suka menyingkat-nyingkat sesuatu; Sempro (seminar proposal), MK (mata kuliah) junto (Mahkama Konstitusi), SS (screen shot) junto (sarjana sastra) junto (surya sebatang) , BM (Bidikimisi) yang sampai saat ini (belum masuk) rekening dan lain sebagainya. Disarankan kepada Dinas terkait agar bisa menerbitkan (KASBI) Kamus Singkatan Bahasa Indonesia. Tujuannya agar bisa mempermudah mahasiswa yang usia ngampusnya belum cukup satu semester bisa paham dengan bahasa aneh para senior.

Memulai pembicaraan dengan Basmallah (Bismillahirrahmanirrahim), perlahan diskusi menjurus pada persoalan yang saat ini lagi jadi polemik di Republik.


“Kenapa radikalisme jadi momok yang menakutkan di Republik ini? Tanya Darwis yang mulai mengompor.


“Hmmm!”. jawab Yidun dan Budi sambil menghela nafas panjang (menjulingkan mata sembari memandang langit, kiranya ada jawaban yang tertulis disana).

“Radikalisme itu baik, gegara cebong dan kampret yang melihat radikalisme dengan terminologi politik makanya jadi ruwet. Coba deh, ente melihat radikalisme dengan terminologi yang lebih sopan”. Darwis sendiri yang menjawab pertanyaannya.

Radikalisme memang satu kacamata yang istimewa. Dalam terminologi filsafat radikalisme merupakan cara berfikir yang liar, karena tidak menyisahkan sedikit kemungkinan dan peluang untuk counter argument. Namun begitulah dalam bernegara, hal itu dikesampingkan dan dikambinghitamkan sebagai hal yang brutal dan kasar bahkan lebih sadis dari suporter sepak bola dalam negeri.

Dari HTI hingga FPI dituduh radikal dan tidak Pancasilais. Semisal HTI dan FPI harus berlandaskan pada Pancasila lalu apa bedanya dua sejoli itu dengan NKRI, yang juga berasas Pancasila? Yang mana negara, yang mana Ormas? Apa yang kita sebut sebagai Ideologi Negara juga sebenarnya absurd kok. Ideologi letaknya pada orang yang bernegara, sebab negara gak ada tuh organ yang paling cantik dan seksi (otak) untuk menampung ide.

Baca lagi:

Tak berselang lama, diskusi dikoma karena pandangan si Darwis yang tiba-tiba tertuju ke kantin. Pupil Yidun dan Budi serempak mengikuti. Budi sampai harus memutar kepalanya hingga 60°. Dari kejauhan terlihat seseorang dengan gamis merah maron yang hampir menyapu tanah berjalan keluar dari kantin. Awalnya Darwis, Yidun dan Budi terpesona dan terpanah dengan penampilannya. Sialnya Darwis membuat suasana berubah.

“Ternya ice cream itu enak”. kata Darwis dengan ronah wajah yang penuh ingin.

Kebetulan ditangan sang Gamis merah maron tadi ada ice cream.

“Tumben Darwis memuji sesuatu, apa gak syirik tuh. Lagian apa hubunganya ice cream enak sama gamis merah maron?”. Gumam Yidun dalam hati sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

Ice cream itu lebih enak kalo dimakan sambil duduk”. Tegas Darwis.

Mendengar itu Yidun dan Budi langsung terkena sengatan tak berlebah. Semalam kebetulan mereka sempat diskusi soal adab makan, minum, dan lain-lain.

“Memang ada dalilnya ngemil ice cream sambil jalan itu gak baik?” Tanya Budi dengan kening kiri terangkat khasnya.

“Huhh.. sepintas kita jadi bingung tuh ice cream itu dimakan atau diminum, begitu juga permen (sialnya permen hot-hot pop gak ada yang kaki kanan, kalo ada mungkin kita bisa lebih mudah untuk melangkah), intinya sesuatu yang kita konsumsi baiknya dalam keadaan duduk. Jadi rusak pemandangannya  Si Gamis merah maron gegara enaknya ice cream. Pakaiannya tertutup tapi auratnya kelihatan (red: signifikansi)”. Jawaban telak Darwis.

Diskusi pun ditutup dengan tawa lepas gegara Yidun yang tersengat saat melangkah namun berhenti dan secepat kilat terjongkok. Ternyata Yidun tersadar bahwa mulutnya masih mengunyah roti.


Karya : Junfahriel, Pegiat Forum Studi Anak Sastra (FORSAS)

Ilustrasi : Atha Widya


Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *