Press "Enter" to skip to content

Jurnalis Lingkungan Mongabay Ditahan di Palangkaraya, Ancaman Kebebasan Pers

Philip Jacobson (30) jurnalis berita lingkungan mongabay.com ditahan oleh pihak imigrasi di Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, Selasa (21/1). Philip dituduh melakukan penyalahgunaan visa.

Kasusnya bermula ketika Philip hendak meninggalkan Palangkaraya pada 17 Desember lalu, usai menghadiri sidang dengar pendapat di DPRD Kalteng dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) soal “peladang” di kalangan adat. Pejabat imigrasi menyita paspornya dan diperintahkan untuk tetap berada di Palangkaraya.

Sejak saat itu Philip menjadi tahanan kota sambil menunggu penyelidikan pihak imigrasi. Lebih dari sebulan kemudian, pada Selasa kemarin (21/1), Philip didatangi petugas imigrasi lalu ditahan di Rumah Tahanan Palangkaraya.

“Saya terkejut bahwa petugas imigrasi mengambil tindakan langkah hukum terhadap Philip atas masalah administrasi.” kata pendiri dan CEO Mongabay Rhett A. Butler melalui siaran pers.

Butler mengatakan mendukung Philip dalam kasus yang sedang berlangsung dan akan melakukan segala upaya untuk mematuhi otoritas imigrasi Indonesia.

Sementara itu, Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jendral AMAN, menduga penangkapan Philip terkait erat dengan pemberitaan tentang kasus-kasus kejahatan lingkungan dan kriminalisasi terhadap masyarakat adat.

Menurutnya, Mongabay telah banyak mengangkat ‘suara’ perjuangan masyarakat adat di Indonesia dan seluruh dunia.

“Di Indonesia, Mongabay sangat konsisten membongkar kejahatan korporasi termasuk korupsi perizinan, pembakaran hutan dan lahan oleh korporasi,” kata Rukka.

Maka dari itu, Rukka menilai penangkapan Philip Jacobson pada saat melaksanakan kerja-kerja jurnalistik merupakan ancaman serius bagi kebebasan pers, demokrasi dan hak asasi manusia.

Penangkapan Philip dilakukan tak lama setelah Human Rights Watch mengeluarkan laporan yang mendokumentasikan adanya peningkatan kekerasan terhadap aktivis HAM dan aktivis lingkungan di Indonesia, dan di tengah meningkatnya tekanan terhadap suara-suara kritis.

“Wartawan dan awak media harusnya nyaman bekerja di Indonesia tanpa takut akan penahanan sewenang-wenang,” kata Andreas Harsono, dari Human Rights Watch.


Redaksi


Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *