Press "Enter" to skip to content

Kantin-kantin di Unkhair yang Dipukul Pandemi

Didi Ramli, lelaki usia 35 tahun itu memandangi deretan kursi-kursi kantin yang nyaris kosong karena sepinya pengunjung. Sementara di dapur kantin, istrinya sedang membersihkan piring lantas merapikan beberapa perabot dapur yang berserakan. Sekalipun waktu makan siang sudah tiba, jumlah pengunjung rumah makan tersebut jauh dari biasanya sebelum pandemi.

Suasana seperti itu rupanya menjadi lumrah setidaknya sejak beberapa bulan belakang saat pandemi global covid-19 merebak. Jumlah pesanan makanan dan pengunjung yang biasanya begitu ramai, kini berganti sunyi. Terlebih barang jualan mereka harus disesuaikan dengan kehadiran mahasiswa di kampus.

“Saya sempat berpikir untuk menutup usaha ini dan melanjutkannya di tempat lain” ucap lelaki berperawakan pendek itu, saat diwawancarai mantra, Selasa (9/2/21). Didi tak segan menyebutkan bahwa musabab dari merosotnya usaha yang mereka jalankan adalah bagian dari dampak pandemi covid-19.

Sesekali, dari arah dapur itu pula, istri Didi melempar suara bahwa menjajakan jualan di masa pandemi merupakan tantangan yang tak mudah. Pasalnya, keuntungan yang mereka raup sangat menurun.

“Perbedaannya sangat jauh, jika dibandingkan sebelum pandemi. Kali ini kami hanya untung sekitar 30 persen saja, itupun modal jualan kadang torang (kami) bawa pulang” keluh Didi.

Kantin kedua pasangan ini berada tepat di sisi kanan Fakuktas Ekonomi Unkhair. Layaknya warung makan pada umumnya, kantin itu menyediakan berbagai makanan yang dapat dinikmati mahasiswa. Hidangannya berupa nasi ikan, mie goreng telur, dan mie kua telur yang dipadukan dengan beberapa jenis minuman kemasan.

Sejak dibukanya usaha tersebut, Didi memberi nama kantin itu dengan sebutan Rumah Makan Sederhana. Hal ini dikarenakan jenis menu yang disediakan memang cukup familiar dan seadanya, tentu juga dengan harga yang dapat dijangkau oleh kebanyakan mahasiswa.

Di hari-hari sebelum pandemi Didi mengaku sering meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam sehari. Berbeda dengan berjualan saat pandemi yang kini cukup memukulnya. “Saat ini, dalam sehari kami hanya bisa peroleh 200 sampai 300 rb” ujar Didi, yang tampak mengeluhkan kondisi tersebut.

Pandemi juga membuatnya harus menutup rumah makan selama empat bulan, selaras dengan imbauan pemerintah yang menganjurkan agar segala aktivitas dapat dilakukan di rumah (sosial distancing). Meski begitu, Didi mengharapkan agar kondisi krisis ini cepat berlalu.

Universitas Khairun memang memberlakukan larangan masuk kampus sejak pertengahan Maret 2020. Rektor Unkhair Husen Alting, mengeluarkan Surat Edaran dengan nomor: 325/UN44/HM/09/2020 tentang Kesiapsiagaan Dini Antisipasi Penyebaran Virus Corona (Covid-19) tertanggal 16 Maret 2020.

Surat Edaran itu memuat setidaknya ada 10 langkah pengantisipasian dan pencegahan yang diimbau kepada seluruh sivitas akademika di Unkhair untuk dapat dilaksanakan. Hal tersebut membuat suasana kampus menjadi sepi. Sejumlah kantin dan warung makan di Unkhair kemudian ditutup untuk beberapa waktu.

Kantin Mungil Mas Eko

Pandemi juga memukul sebuah kantin kecil yang menempel di bawah tangga kelas Fakultas Pertanian, Unkhair. Mas Eko (53 tahun), lelaki paruh baya itu duduk di kursi kasir yang dihimpit sejumlah barang dagangannya. Ia melayani satu demi satu pengunjung yang datang mengajukan pesanan berupa kopi dan gorengan.

Ruang kantin yang sangat kecil membuat suasana tampak padat. Aroma mie instan, bauh minyak tanah, gorengan, kopi, seperti memenuhi sudut-sudut ruangan itu. Para pelanggan kantin hanya cukup bersuara dari luar, “Mas, kopi itam satu!” ujar mereka.

Sejumlah kebijakan pemerintah dan kampus yang merumahkan mahasiswa dengan melakukan pembelajaran jarak jauh, merupakan penyebab sehingga pendapatan kantin Mas Eko kian menipis setiap hari.

“Pendapatan kami sangat menurun. Karena mahasiswa jarang ke kampus. Ya palingan yang datang itu anak-anak yang sedang ujian atau konsul” ucapnya.

Pria asal Jawa Tengah ini sudah membuka usaha tersebut sejak 2014 bersama istrinya. Ia juga menyekolahkan 5 anaknya di Kota Ternate, Maluku Utara.

Diapit oleh dua Fakultas di Unkhair, kantin Mas Eko ini kerap menjadi titik kumpul mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) dan Fakultas Perikanan.

Pertahanan Kantin Teksas

Berbeda dengan kantin-kantin lainnya, kantin Teksas, milik Sutiani (39), memilih bertahan di tengah gempuran pandemi. Meski kehadiran pelanggannya berkurang, Sutiani tetap membuka usahanya untuk melayani isi perut mahasiswa. Ia mengaku tidak pernah menutup kantin tersebut selama pandemi.

“Sampai saat ini kami tidak pernah tutup. Walaupun jualannya cuma sedikit, yang penting ada satu dua orang yang makan. Sekarang memang susah. Dulu dapat untung sampai sejuta, kali ini ya cuma 400 ada juga 500 ribu” ujar Sutiani.

Kantin Teksas memang memiliki keunikan tersendiri. Kata ‘Teksas’ merupakan singkatan dari ‘Teknik-Sastra’, yaitu dua nama fakultas di Unkhair.

Nama itu bermula ketika Sutiani dan suaminya memindahkan lokasi kantin dari Fakultas Teknik ke Fakultas Sastra (saat ini Fakultas Ilmu Budaya). Mahasiswa yang menjadi langganan kantin inipun biasanya dari dua fakultas tersebut.

Bagi Sutiani, menghadapi jumlah pelanggan yang sepi memang sudah menjadi risiko bagi mereka yang berjualan di kampus. Pasalnya, lingkungan kampus memang tak seramai di tempat-tempat umum lainnya.

“Di kampus kalau sudah libur semester kadang juga sepi” katanya. Sutiani juga berharap agar kondisi kampus kembali menjadi normal seperti biasa.

_

Rian Hidayat Husni

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *