Press "Enter" to skip to content

Kisah Fahrul, Anak Seorang Buruh Pelabuhan yang di-DO oleh Unkhair

Last updated on Januari 22, 2020

Dari Selatan Ternate, Fahrul Abdullah, memacu sepeda motor bersama temannya, Selasa siang (13/1). Mereka menuju Kelurahan Sangaji Utara, Ternate, di tempat kedua orangtua Fahrul menetap. Kepada mereka, Fahrul ingin melaporkan peristiwa yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sebuah peristiwa yang kini memutus pendidikannya.

Fahrul merupakan salah satu mahasiswa korban Drop Out (DO). Melalui Surat Pemberhentian Studi (SK-DO) Rektor Unkhair yang dikeluarkan pada 12 Desember 2019, bersama tiga orang temannya (Arbi, Ikra dan Wahyudi), ia dipecat dari almamaternya gegara mengikuti unjuk rasa pada 2 Desember 2019 lalu.

Aksi unjuk rasa yang menjadi cikal bakal mereka di-DO ini berlangsung di Depan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Beberapa pekan kemudian, SK DO tersebut menyusul keluar dalam keadaan yang tak diduga olehnya.

Saat tiba di rumah, ia menceritakan kepada ayahnya perihal apa yang membuat dirinya dicatat sebagai mahasiswa yang sedang mencederai nama baik kampusnya. “Sebe (ayah) sempat marah mendengar kabar DO itu, karena keinginan mereka sebenarnya saya harus cepat wisuda” ucap Fahrul, yang sedikit leluasa menceritakan tanggapan orangtuanya.

Ia terus bercerita kepada sang ayah. Tentang surat DO, sampai dengan perkembangan aksi dan dukungan yang datang dari berbagai pihak berkaitan dengan masalah yang ia alami di kampusnya. Selain ingin memberitahu dirinya yang kena DO, Fahrul juga mengadukan sakit maag akut yang ia derita hingga membuatnya berkali-kali jatuh sakit.

Medengar penjelasan Fahrul dan mengetahui bahwa dirinya sedang sakit, sang ayah kemudian menerima peristiwa itu dengan lapang. Meski sebelumnya, kata Fahrul, kedua orangtuanya sempat frustasi saat mendengar kabar DO tersebut. “Saya mendengar dari adik kandung saya, bahwa ajus (ibu) sempat frustasi menunggu saya pulang,” kata Fahrul.

Meski begitu, kedua orangtua Fahrul akhirnya meredahkan emosi saat dirinya menjelaskan peristiwa DO yang tidak ia duga itu. “Pesan mereka, yang penting peristiwa ini jangan sampai membuat saya terlalu kepikiran. Karena saya juga sementara sedang sakit” lanjut ia bercerita.

Fahrul berkisah, ayahnya yang bernama Abdullah (65 tahun) pernah bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Ahmad Yani di Ternate. Namun sekarang sudah berhenti karena kondisi sang ayah yang semakin renta.

“Dulu, ayah bekerja sebagai buruh di pelabuhan Ahmad Yani. Sekarang sudah tidak bekerja lagi karena sudah tua” ungkapnya dalam wawancara bersama mantra, Kamis (16/1). Sementara sang ibu sehari-hari hanya rumah tangga, “Selain itu, pekerjaan ibu sehari-hari adalah membantu memungut biji pala di kebun orang,” katanya. Ia juga mengaku, biaya kuliahnya sementara ditopang oleh kakaknya yang bekerja sebagai guru honorer di salah-satu sekolah.

Di akhir bicara bersama ayah dan ibunya, juga menceritakan masalah DO yang bakal diajukan ke pengadilan di Ambon, Fahrul kemudian melepas sebuah pertanyaan kepada kedua orangtuanya.

“Bagaimana jika kami kalah di pengadilan, atau SK DO itu tidak dicabut lagi?”

Mendengar pertanyaan tersebut, ayah Fahrul kemudian berkata, “Terserah kamu, nak. Mau lanjut kuliah di tempat lain, atau cari kerja saja” ujar sang ayah, menatap cemas anaknya.

Fahrul bilang, sejak awal, setelah mereka diinterogasi selama 24 jam di Polres Ternate usai terlibat aksi damai peringati Papua Merdeka (2/12/19), berselang tiga hari kemudian, ia mendengar bahwa dirinya bersama tiga orang temannya telah dijerat SK DO Rektor Unkhair. Fahrul mendengar informasi tersebut di salah seorang temannya, Darman.

Ia kemudian mencari tahu informasi SK DO itu di Fakultas Pertanian. Saat ke fakultasnya, informasi DO itu enggan ia temukan. Bahkan dirinya sempat masuk mata kuliah dan mengisi berita acara mata kuliah yang sedang ia kontrak. Mahasiswa jurusan kehutanan ini baru mendapat kebenaran SK DO itu dari temannya, Ajun, pada 26 Desember 2019.

Ia menyayangkan bahwa surat pemberhentian yang seharusnya diberikan oleh fakultasnya justru dibijaki sepihak oleh pihak Rektorat Unkhair. Dengan ini, Fahrul juga menyampaikan, bahwa universitas sungguh tidak mempertimbangkan kondisi latar belakang mereka.

“Universitas tidak mempertimbangkan segi kemanusiaan torang (kami) dalam artian bahwa tidak mempertimbangkan berapa banyak biaya kuliah yang sudah kami keluarkan” pungkas mahasiswa angkatan 2014 itu. Fahrul juga mengatakan, ia dan pihak keluarganya masih memiliki keinginan yang besar untuk menyelesaikan sarjana di Unkhair.

Liputan/foto:Rian | mantra

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *