Press "Enter" to skip to content

Kota Wajah Tuan

“Waja-wajah tuan sudah dipajang” kata Ti. “Sebenarnya, ada apa?” lanjutnya. “Kamu tidak tahu? Ini musim panen pemilu, sekalian panen uang” sekat To sembari menjelaskan. Masa itu akan datang, wajah-wajah tuan sudah mengepung kota. Ti dan To, duduk menatap para pemasang spanduk tuan-tuan itu di sebelah pangkalan ojek mereka.

“Berapa si, biaya spanduk ukuran lapangan futsal itu?” tanya Ti. “Bisa jadi hampir puluhan juta, kalau bukan hanya satu” To menjawab. Ada lima belas orang pemasang spanduk. Mereka melentangkannya dengan cepat dan segera memajangnya di samping posko ojek itu.

“Jangan pilih yang lain” bagian tulisan spanduk itu agak tebal bergaris bawah, menunjuk bagian itu harus sangat penting dicermati. “Apaan, pilihan yang lain itu maksudnya apa?” ragu Ti. “Itu menunjukkan, tidak ada yang lain, selain tuan itu ditusuk wajahnya saat pemilu” jelas To. “Kalian, jangan lupa pilih tuan ini, tuan yang paling menyejahterakan” teriak salah seorang pemasang spanduk dengan wajah sinis, tapi rupanya mereka tak menghiraukannya, bingung.

Ti sangat asing, dari lahir ia tak pernah ikut pemilu, ia menceritakan dirinya belum pernah masuk ke dalam kamar yang disebut rahasia, apalagi bermain dengan manipulasi dalam politik, melainkan ia hanyalah tukang ojek produktif sepanjang hidup di tiap hari-harinya. Senantiasa mengantarkan penumpangnya pada tempat tujuan mereka.

Seperti biasa, angin bulan april segera membawa peringatan, pesta demokrasi sudah sangat dekat, hari pemilihan tinggal dihitung dengan jari. Sebelum pamit pulang, Ti lebih dulu memberi komentar pada To “Hati-hati kalau memilih, kita tidak diberi kewaspadaan, hanya harapan, tuan-tuan selalu senyum dalam gambarnya”. To sempat kaget dengan ujaran Ti itu. Memang sangat aneh mendengar sang karibnya melontarkan kata-kata yang sedikit bijak itu, bagi To, sekalipun dia langsung memberi pertanyaan dan menjawabnya. Mereka segera pulang. Masing-masing menyetor hasil baojeknya, walau juga banyak yang hanya menumpang gratis.

***

Sudut-sudut kota disenyumkan oleh wajah-wajah tuan kini. Mulai dari ubun-ubun, plat motor, dinding rumah, para-para­ duduk, kaca mobil dan bahkan ada wajah tuan-tuan tersenyum di atas pohon, menggantung seperti jemuran. Sungguh, keadaan Kota mengatributi wajah tuan-tuan dengan gairah senyum yang resmi dan santun umpama para undangan pesta di malam minggu.

“Terima kasih atas hidangannya” ucap Ti kepada Sauda, istri tercinta. “Itu, ngone pe undangan pencoblosan so ada tu” seraya menunjuk ke arah meja. Ti tertegun sejenak. Lalu melanjut “Siapa yang mengantarnya?” meski ia sudah tahu undangan itu pasti diantar oleh para petugas pemilu. “Tadi Rusdi dia antar, dia so jadi petugas pemilu, so tara baojek lagi samadeng ngone ” tertegun lagi, menunduk, ucapan sang istri tadi begitu menusuk jiwanya. Sebulan lalu, Ti ditawar oleh seorang pengusaha kaya pembeli Pala dan Cengkeh.

Kata pengusaha itu, jika dia mencoblos kandidat yang diperjalankan olehnya, dapatlah Ti didanai ratusan juta sehingga ia bisa membuka usaha dagang yang tentu saja akan menjadi modal bagi keluarganya, juga memenuhi kebutuhan hidupnya dalam waktu yang lama. Namun Ti sempat berpikir panjang, antara keraguan melanjutkan profesinya mengantarkan penumpang dan mau memilih jadi simpatisan partai politik. Kegetiran pilihan melanda, sementara di belah pihak ia disuguhkan pilihan rumit yang tentu membuat pikirannya sengsara. Namun ia juga belum tergesa-gesa mengambil keputusan tersebut.

Tukang ojek itu hampir menghilangkan waktu istirahatnya saat pulang. Sekelumit pilihan menyertai rentetan orientasinya ke depan, dan lagi, biaya sekolah Alamin semakin dituntut agar dapat dilunasi karena tahun lalu ia telah mencicil dengan modal ojek yang masih menggantungi kebutuhan rumah tangga mereka. Alamin juga mengeluhkan sepatunya yang sudah rusak, terlebih ia juga ditertawai teman-temannya di sekolah.

Selaras dengan resiko pikiran yang hendak melandanya untuk menentukan pilihan, waktu sore pun berlalu. Malam melumat hadir bersama keadaan pikiran yang tak biasa. Dan tentu, hidangan Sauda tadi hanya dihabiskan setengah karena rasa yang tak melegahkan itu merasuki pikirannya. Ia memutuskan untuk menunda jadwal ojek malam dan istirahat lebih awal. Ti menyerahkan segala resah pikirannya di atas bantal kepala. Ia sangat sadar, kepala keluarga yang beranak tunggal itu memiliki dua undangan surat suara pencoblosan, ia dan sang istri, dan itulah peluangnya.

***

Esoklah sudah hari. Aktivitas kota masih saja tertular bauh spanduk yang baru dicetak. Kemudian, pawai dan arak-arakan di jalan bergemuru. Pasangan calon itu adalah tuan yang spanduknya dipajang kemarin dekat posko ojek Ti dan To. Tukang ojek itu berdiri tepat di tepi jalan. Pandangannya ke arah banyak orang.

“Ini adalah saat paling penting untuk menyatakan sikap” Ujar Ti kepada To dengan segenap hati penuh harapan. “Abang ojek!” tiba panggilan pelanggan yang keluar dari etalase toko. “Giliranmu Ti” ujar to yang menunggu giliran selanjutnya. Ia menepuk bahu To dan berucap “Mainkan saja, aku mau bergabung dengan rombongan pawai itu” seraya menancapkan gas motor dan menuju rombongan pawai yang telah menguasai jalan raya.

Marjo, sang pengusaha yang menawarkan modal kepada Ti tampak berada di tengah rombongan pawai. Kepiawaiannya dalam mengumpulkan basis massa membuat ia bukan saja dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi juga kiprahnya dalam dunia politik membuat lawan politiknya kerap menyebutnya “Sang pemain politik arus atas”. Marjo memiliki pengalaman yang cukup banyak terutama dalam bidang politik. Alhasil, ia disegani oleh masyarakat kota. Rombongan pawai itu juga meneriakkan slogan tanda kemenangan mereka “Wujudkan perubahan di tanah ini!”.

Wajah Tuan kali ini benar-benar tampil di jalan raya kota. Tidak lagi menggantung di pohon setelah diinstruksikan segala atribut yang dipajang harus diturunkan. Kemudian kota menemui masa kampanye. “Suhardi, Sh. Anak pribumi daerah ini yang akan membawa kemajuan dan perubahan besar di negeri kita, tak hanya itu, segala lapisan masyarakat dan tokoh adat, para bobato, tokoh agama, pembesar kesultanan, sudah menyatakan diri untuk bergabung dengan kami, kamu akan menyesal jika tidak bergabung” kuping Ti dibisiki Marjo setelah ia berada tepat di samping sang pengusaha itu.

Rombongan terus berjalan menuju sebuah podium, tempat di mana Pak Suhardi akan menyampaikan janji politiknya kepada banyak orang. Ti mengangguk keheranan dan bersikap sopan di hadapan Marjo, dengan sedikit upaya mencuri perhatiannya “Iya pak kita pasti menang” serunya.

“Saya bangga berada di atas podium ini. Saya dapat menyaksikan wajah kaum melarat yang menuntut kesejahteraan, hal itu akan saya perjuangkan ketika seluruh rakyat negeri ini memilih saya sebagai pemimpin” Suhardi Sarjana Hukum, berucap mengawali sambutannya. Riak-riak massa dan simpatisan bersorak mengamini perkataannya. Terlihat di bangku podium telah duduk sejumlah tokoh adat, pemuka agama, tetua, Marjo, dan jubir kampanye Suhardi.

“Jangan lupa coblos nomor satu!” gema Suhardi mengingatkan simpatisannya di hari pencoblosan nanti, juga menguji kekompakan mereka. Ti berdiri di kerumunan massa, kali ini, warna kaosnya sudah berganti menjadi kuning. Ia mengenakan sebuah kaos simpatisan partai yang diberikan seseorang yang diperintah Marjo.

***

“Saya tidak akan menjadi tukang ojek lagi” ucapnya kepada Sauda, sambil mengikat tali sepatunya yang baru diusap mengkilat. “layaknya pejabat, penampilan harus berbeda dan lebih formal” tambahnya dengan gagah melihat dirinya di depan cermin. Dengan bangga, Sauda memasangkan dasi di leher Ti untuk pertama kalinya. “Aba tambah gaga saja” dengan senyum menguatkan.

Apalagi, media telah memberitahukan sebuah kabar gembira yang membuat semangatnya meluap. Koran pagi tadi memberitakan hasil hitung cepat yang dimenangkan oleh Suhardi, kandidatnya. “Besok datanglah ke rumah saya, semua yang sudah kita bicarakan telah menantimu” kata-kata Marjo itu segera ditagih olehnya pagi itu. “Alamin, ayah berangkat dulu, jangan lupa, segeralah ke sekolah”.

Hati Sauda sangat gembira melihat sang suami yang biasanya menjamu pagi sebagai seorang tukang ojek dengan jaket lusuh yang sudah dipakai berulangkali. Aurah seorang pejabat telah tercium dari penampilan dan langkah sang suami mengiringi perjalanannya ke rumah Marjo.

Ti memberikan harga ojek yang lebih kepada tukang ojek yang mengantarnya ke rumah Marjo. Ia pun tiba di gerbang rumah. Sebuah rumah megah dengan tiga buah mobil mewah di depan Garasi rumah membuatnya semakin gugup dan mengatur langkahnya menuju pintu gerbang.

“Bu, pak Marjo ada?” teriaknya dari luar gerbang setelah melihat seorang pembantu yang tampak sibuk membereskan halaman dengan wajah gugup dan panik, tentu juga membuatnya merasa heran.

Astaga om, tadi ada polisi kamari dapa suruh deng Suhardi dong tangkap paitua, katanya paitua barmain dua tangan di kandidat lain, terus paitua juga terlibat kasus korupsi, dong bilang rumah ini juga akan dapa sita”

—-

Penulis: Rian Hidayat Husni, Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)  

One Comment

  1. StevDrow StevDrow Oktober 29, 2019

    Mexico Pharmacy For sale shipped ups isotretinoin acne discount medicine [url=http://nefoc.com]propecia eficacia se[/url] Real Provera Saturday Delivery Overseas Levitra Generico Comprare

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *