Press "Enter" to skip to content

Lembaga Intra Kampus di Ternate Tolak Festival Mahasiswa Maluku Utara

Last updated on Januari 22, 2020

Sejumlah lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di berbagai kampus di Maluku Utara menyatakan menolak kegiatan Festival Mahasiswa (FM) Maluku Utara (Malut) yang akan diselenggarakan rangkaian kegiatannya pada 12 Februari 2020 mendatang.

Kegiatan yang mengatasnamakan 24 perguruan tinggi di Maluku Utara ini dinilai hanya dilaksanakan secara sepihak oleh penyelenggara kegiatan tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu lembaga kemahasiswaan lainnya.

Sikap penolakan ini di antaranya disampaikan oleh Moh Sahril Lasut Presiden Mahasiswa Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) kepada mantra Senin siang (20/1/20).

Sahril (sapaan) mengatakan kegiatan yang melibatkan seluruh mahasiswa di Maluku Utara ini dilaksanakan tanpa mengonfirmasi sejumlah lembaga BEM di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Presiden Bem Fatek Ummu, Moh Sahril Lasut saat diwawancarai mantra di Sekretariat mereka. Foto: Fadli | mantra

“Beberapa Bem di UMMU dan sebagian mahasiswa tidak mengetahui pembentukan panitia kegiatan” ujarnya. Selain itu, ia juga mengaku pihaknya tidak mengetahui rencana kegiatan tersebut karena tidak dikonfirmasi.

“Brosur kegiatan yang diedarkan tanpa sepengetahuan mahasiswa, kan juga ada logo universitas, karena itu kegiatan ini ditolak” tegas mahasiswa Jurusan Teknik Sipil tersebut.

Protes untuk tidak mendukung kegiatan ini juga ditandai dengan sebaran pamflet yang beredar di media sosial. Pamflet tersebut memuat sikap penolakan dari berbagai organisasi kemahasiswaan (BEM dan HMJ/HIMAPRO) di berbagai kampus di Ternate.

Selain Bem Fatek UMMU, penolakan kegiatan Festival Mahasiswa juga dinyatakan secara institusi oleh Dewan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (DEMA-IAIN) Kota Ternate. Hal ini disampaikan Subhan Dudego Presiden Dema IAIN Ternate usai dirinya menggelar rapat bersama organisasi mahasiswa di IAIN terkait Festival Mahasiswa.

Subhan mengatakan, festival tersebut dibijaki sepihak oleh Bem Unkhair dan sponsor pendukung tanpa melibatkan lembaga kemahasiswaan di IAIN. Ia juga menyayangkan karena pihaknya tidak dikonfirmasi perihal kegiatan tersebut.

“Kalau dilihat dari gagasan item kegiatan, ini kan ansih lahir dari pikiran mereka, kami tidak tahu kegiatan ini” ungkapnya. Ia juga bilang sebagian lembaga kemahasiswaan di Maluku Utara baru mengetahui kegiatan ini setelah dipromosikan di media sosial dan disiarkan melalui radio.

“Saya juga telah mengonfirmasi beberapa teman-teman BEM di berbagai kampus dan mereka juga tidak mengetahui kegiatan ini” jelasnya.

Menurut Subhan, sejak awal direncanaka, kegiatan FM seharusnya melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus dengan mendelegasikan mereka untuk terlibat sebagai penyelenggara.

“Kalau memang kegiatan ini ansih kegiatan Bem se-Maluku Utara, maka harusnya ada delegasi dari berbagai Bem di Maluku Utara” ujarnya.

Sementara, Zulfahmy Tuwow, Presiden Mahasiswa Unkhair mengatakan 15 item kegiatan yang diusung di Festival Mahasiswa Malut ini merupakan hasil kolaborasi dan kreasi gagasan oleh mahasiswa dari 24 universitas di Maluku Utara.

“Ini lahir dari kolaborasi gagasan mahasiswa dari 24 perguruan tinggi di Malut” katanya sebagaimana dilansir Harian MaluPost (19/1).

Sebagai informasi, Festival Mahasiswa Maluku Utara menghadirkan 15 event kegiatan dan lomba. Perhelatan yang turut didukung oleh Duta Kreator Indonesia ini akan diakhiri pada bulan Juni 2020 mendatang.

Mantra mengonfirmasi Presiden Mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Zulfahmy Tuwow via WhatsApp soal pernyataan penolakan yang dilakukan sejumlah lembaga kemahasiswaan dari berbagai kampus. Namun hingga berita ini tayang konfirmasi tersebut belum dijawab.

Reporter: Fadli Kayoa (magang)
Penulis: Tim Redaksi mantra

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *