LPM Mantra – Sejumlah mahasiswa Program Studi PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair), menggelar aksi penolakan terhadap budaya perpeloncoan dan feodalisme di lingkungan kampus. Aksi serentak itu berlangsung pada hari ketiga Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat fakultas, Rabu (5/8/2026).
Dalam aksi tersebut, massa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Civic Hukum (HIMACH) PIPS-PPKn menyerukan agar kampus menghentikan budaya peloncoan dan praktik feodal dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan, “PPKN Tolak Perpeloncoan dan Budaya Feodal.”
Ketua Umum HIMACH PIPS-PPKn Unkhair, Akbar Tidore, mengatakan seruan penolakan terhadap praktik peloncoan dilatarbelakangi oleh masih bertahannya tradisi penyambutan mahasiswa baru yang diwarnai intimidasi, kekerasan, penggundulan rambut, hingga tindakan-tindakan yang tidak manusiawi.

“Selama ini proses penerimaan mahasiswa baru selalu tidak produktif. Mahasiswa justru diperlakukan tidak baik. Padahal kecerdasan tidak dibangun di atas dasar intimidasi, kekerasan, maupun praktik-praktik sejenis,” tegasnya kepada Mantra.
Menurutnya, penyambutan mahasiswa baru semestinya menjadi ruang untuk menanamkan wawasan dan gagasan. Senior kampus perlu mendorong lahirnya mahasiswa yang kritis, reflektif, dan peka terhadap persoalan-persoalan kebijakan yang menyangkut hajat hidup masyarakat.
“Budaya kekerasan terhadap mahasiswa baru masih sangat kental di kalangan senior. Ini bertentangan dengan tradisi intelektual kampus. Seharusnya mahasiswa senior menghadirkan budaya penerimaan yang produktif serta membuka cakrawala berpikir mahasiswa baru terhadap situasi bangsa dan negara,” tuturnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum HIMACH PIPS-PPKn Unkhair, Rizan R. Waralao, menyebut aksi serentak tersebut sebagai alarm bagi pihak kampus maupun seluruh program studi agar tidak lagi menerapkan budaya kekerasan dalam proses penerimaan mahasiswa baru.
“Kami tegaskan, peloncoan yang kuno itu harus dihilangkan dari kampus. Kampus adalah ruang dialogis, bukan tempat kekerasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, mekanisme penyambutan mahasiswa baru sudah semestinya meninggalkan cara-cara lama. Momentum itu, menurutnya, harus diarahkan untuk membangun mahasiswa baru yang produktif, memahami prinsip perjuangan, serta mengerti arah gerakan mahasiswa sebagai bagian dari tradisi intelektual kampus.
Editor: Redaksi LPM Mantra

Agung adalah Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Mantra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun periode 2026 hingga 2027. Mahasiswa kelahiran Pulau Mangoli ini bergabung bersama LPM Mantra sejak 2024. Ia gemar menulis isu sosial dan budaya. Sejak bergabung dengan LPM Mantra Agung telah banyak menulis berbagai macam isu terutama mengenai kampus, sosial dan budaya.

