Press "Enter" to skip to content

Mahasiswa Protes Kebijakan Wajib Toefl Unkhair

Sejumlah mahasiswa keberatan dengan kebijakan wajib toefl yang diberlakukan pihak Universitas Khairun sebagai prasyarat dalam menyelesaikan studi akhir. Kebijakan yang berlaku belum lama ini diprotes oleh sejumlah mahasiswa yang telah memasuki studi akhir.

Afan, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) merasa keberatan dengan toefl karna tidak ada kejelasan mengenai fungsi toefl dan tidak adanya sosialisasi dari pihak Universitas.

“Saya merasa kebijakan ini sungguh tidak ada kejelasannya, kira-kira apa fungsi dan manfaat toefl untuk mahasiswa, saya merasa keberatan dan tidak paham soal kebijakan ini, tidak ada sosialisasi sama sekali,” ujarnya saat di temui Mantra pada senin (23/5/23).

Demisioner Ketua Himapro Antropologi itu juga menyesalkan biaya toefl sebesar Rp.50.000 yang dibebankan kepada mahasiswa dalam sekali tes toefl.

“Kalau tes berulang-ulang otomatis Anggaran yang kami keluarkan akan berganda, terus pada saat toefl kami belum di bimbing terlebih dahulu, yah, otomatis berpotensi tidak lolos dan akan tes lagi, dengan membayar lagi. Saya bingung karena tiba-tiba saya mau ujian hasil harus dengan prasyarat itu,” ungkapnya.

Afan, yang merupakan mahasiswa semester akhir itu, menolak kebijakan toefl. Ia mengatakan, akan melakukan demostrasi bersama rekan-rekannya di FIB apabila tidak ada kejelasan dengan kebijakan ini.

Nada serupa juga di sampaikan Nofia Endang. Mahasiswa Sastra Inggris ini juga mengeluhkan kebijakan toefl karna tidak ada sosialisasi saat diberlakukan. Ia mengungkapkan bahwa toefl yang menjadi prasyarat dalam ujian hasil tidak melalui tahap yang panjang dan dipersiapkan secara matang oleh kampus. Akibatnya peserta tidak terlebih dahulu melakukan pra tes dengan soal-soal latihan yang masuk dalam ujian toefl.

“Yang kurang dari ketetapan toefl adalah karna tidak ada sosialisasi dari kampus, akhirnya banyak mahasiswa bingung dan kurangnya informasi yang tersebar di kalangan mahasiswa,” ujarnya.

Ia juga menuturkan tidak sepakat dengan kebijakan berbayar dalam pelaksanaan toefl sebab memberatkan. Ia menekankan agar pihak kampus terlebih dahulu mengadakan pra tes sebelum pelaksanaan toefl agar mahasiswa yang mengikuti toefl dapat menyerap materi dalam ujian toefl nanti.

“Kalau kita tes berulang-ulang karena nilai hasil ujian belum mencapai standar, yah, itu memberatkan, apalagi selama tes ini berlangsung tidak ada pra tesnya, otomatis kita kewalahan,” tuturnya.

Sementara itu, Kordinator Pelaksana Toefl Sutisno Adam menjelaskan bahwa kebijakan toefl merupakan kebijakan pihak universitas, sedangkan pihak UPT Bahasa hanya mengeksekusi dan menjalankan tes UEPT (Unkhair ‘S English Praticiency Test) yang mirip dengan Toefl.

“Kami hanya mengeksekusi kebijakan dari kampus. Sebenarnya tes ini dinamakan dengan UEPT (Unkhair ‘S English Praticiency Test),” ujarnya.

Dosen Sastra Inggris itu juga menjelaskan bahwa tes UEPT bermanfaat bagi mahasiswa karena menjadi prasyarat di perusahaan ketika mahasiswa hendak bekerja di sana, sehingga mahasiswa harus memiliki kemampuan bahasa Inggris.

“Banyak manfat positifnya, terutama setelah mahasiswa keluar dari kampus akan sangat berguna bagi dunia kerja, tes ini juga mencoba melatih mahasiswa dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.

Liputan: Fadli Kayoa

Editor: Redaktur

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *