Press "Enter" to skip to content

Mengenal Kehidupan Orang Sasa Gunung

Liputan: Fadli Usman | Mantra


Amat menanjak medan menuju kampung Sasa Gunung, sebuah kampung yang didiami sekelompok kecil masyarakat di dataran yang cukup tinggi dan cukup jauh dari masyarakat induk. Masyarakat setempat menganggap bahwa wilayah yang mereka tempati adalah tempat yang nyaman bagi mereka ketimbang wilayah kampung yang ramai di dataran lokasi yang rendah.

Kampung Sasa Gunung tak begitu besar, sekira 100 meter wilayah yang telah didiami masyarakat tersebut sejak lama. Kampung yang amat kecil ini, rupanya bagian dari kelurahan Foramadiahi RT 9, kecamatan Pulau Ternate, provinsi Maluku Utara. Meskipun secara geografis Sasa Gunung masuk dalam kawasan Sasa Ternate Selatan, namun masyarakat tersebut tergolong dalam struktur pemerintahan kelurahan Foramadiahi atau yang sering disebut dengan Fora 2. Hal ini tak banyak diketahui oleh kebanyakan orang bahwa Sasa Gunung adalah Fora 2.

Meskipun begitu, warga setempat masih mengakui bahwa Sasa Gunung adalah kawasan Sasa, sebab dahulu kawasan tersebut didiami oleh warga asli kelurahan Sasa. Dahulu orang-orang yang tinggal di kawasan Sasa Gugung—kini Fora 2–adalah warga kelurahan Sasa. Kemudian sebagian warga di daerah tersebut berimigrasi ke Sasa Pante (pesisir) hingga tersisa beberapa penduduk yang memilih mendiami kawasan di Sasa Gunung, yang kini telah menjadi warga Fora 2 sejak Tahun 1980.

Yanto Abdulatif (36), warga asli Sasa Gunung, saat diwawancarai menjelaskan, orang-orang di luar hanya mengetahui orang-orang yang tingal di Sasa Gunung meripakan warga kelurahan Sasa. Jika tidak berkunjung ke kampung ini, maka tidak pula mengetahui bahwa Foramadiahi juga mencakup wilayah tersebut. Mayoritas masyarakat di luar hanya menganggap ini bukan Fora, melainkan Sasa Gunung.

“Memang tara salah ini tu Sasa, karena perkembangan jaman, saya juga tidak tahu masalahnya apa, hingga warga di sini dulunya iko kepala desa untuk masuk Foramadiahi, dan sampai sekarang masih masuk RT 9 kelurahan Fora. Tapi tong tetap anggap tanah ini tanah Sasa,” tuturnya, Selasa (15/3/2022).

“Kalau torang pigi kaluar, orang tanya, tong bilang saja bahwa tong ini orang Sasa Gunung. Tapi kalau pengurusan administrasi warga, pastinya harus melalui pemerintahan kelurahan Foramadiahi,” pungkasnya.

Sebutan “Sasa Gunung” telah terikat oleh perkataan maupun ingatan mereka, karena itu merupakan suatu simbolisme bahwa memang orang-orang di dalam maupun di luar kampung tak asing lagi dengan nama Sasa Gunung ini. Jika orang mendengar Sasa Gunung, maka tertujulah kampung yang berada di pelantaran hutan Sasa wilayah bagian barat.

Sejarah Singkat Sasa Gunung menjadi Fora 2


Sekitar tahun 1960, kala itu Sasa Gunung telah didiami beberapa warga. Sebelum menjadi suatu pemukiman, jarak antara rumah ke rumah bisa dibilang amat jauh untuk berinteraksi antara satu dengan lainnya. Pada masa tersebut, bukanlah suatu desa atau kampung, melainkan sebuah kebun warga kala itu yang membuat sebuah rumah kecil sebagai tempat berteduh para petani yang berkebun. Dari sebuah bangunan kecil tempat berteduh (sabuah) itulah mereka merasa cocok dan nyaman untuk tinggal di lingkungan tersebut, hingga dibuatlah perlahan rumah secara permanen.

Seiring berjalannya waktu, sekitar di tahun-tahun 80-an telah berdiri beberapa rumah warga yang kala itu masih menggunakan bambu sebagai dinding rumah. Melihat Sasa gunung telah membuat suatu pemukiman, warga pesisir atau Sasa Pante menyuruh agar mereka turun ke bawah untuk menambah pemukiman Desa Sasa waktu itu. Sebagian warga bermigrasi namun yang lainnya tidak, sebab anggapan mereka tempat itu adalah kehidupan mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari seperti bertani dan lain-lain, hingga menimbulkan sedikit pergolakan antara keduanya.

Mole Ahmad (80) atau yang biasa disapa Aba Mole, warga Sasa Gunung biasa di sapa Aba Mole, menceritakan, dahulu jauh sebelum di masa Aba Mole, kampung tersebut bernama buku todo atau bukit teduh. Kampung tersebut merupakan sebuah bukit untuk berteduh antara masyarakat Sasa dan Foramadiahi dengan suasana yang paling aman serta jauh dari kekacauan.

“Dulu itu, kampung ini dia pe nama ‘buku todo’, jadi waktu itu masi todo deng tarada kaco, artinya kampung todo deng damai sekali,” tuturnya.

Abah Mole yang duduk di kursi dengan suara agak bergetar karena dimakan usia, juga menceritakan tentang utusan kerajaan Maluku Kie Raha yang tingal di kawasan Sasa.

“Orang pertama kali tinggal di sini itu utusan dari kerajaan Maluku Kie Raha, itu dong penama Malan deng Hamisi, Tapi dong itu so lama meninggal,” ujarnya pada Rabu (16/3/2022).

Abah Mole juga bercerita tentang suasana kehidupan dengan warga Fora di kawasan bukit teduh semasa ia masih remaja.

“Waktu kampung ini masi nama ‘Bukit Todo’, orang Fora sana dong jaga kamari di sini bikin kabong deng tidur di sini, baru dong bilang kampung ini paling “todo”, deng waktu itu orang masih sadiki, baru kamari-kamari ini nama Bukit Todo itu so ilang kong jadi Sasa Gunung. Waktu tete masih muda, orang Sasa Pante deng Sasa Gunung sering kacau gara-gara tong lain tara mau turun tinggal di bawa. Sampe ada berapa orang dari Sasa Pante ka atas lempar tong pe rumah, akhirnya jadi bakulai waktu itu. Kepala desa Fora dia sering kamari di kampung ini kong lia tong sering kaco deng Sasa Pante, ya dari situlah kepala desa suru tong berapa orang yang sisah ini masuk di Fora sampe sekarang ini,” pungkasnya.

Kehidupan Sosial Budaya


Jika melihat kebiasaan-kebiasaan serta karakteristik warga Sasa Gunung, tak beda jauh dengan orang Foramadiahi. Hal ini bisa dilihat dari kawasan yang begitu menanjak daerah kampung tersebut yang pastinya memiliki pertalian budaya antara mereka. Bangunan-bangunan rumah, mulai dari fondasi hingga atap sekalipun sama modelnya dengan system budaya Foramadiahi. Kondisi dan situasi serta aktivitas warga Sasa Gunung sama seperti keadaannya di Fora. Suasananya sunyi tapi tenang, seperti yang di katakana oleh Abah Mole dan warga lainnya. “kampung ini jika orang datang maka terasa tenang, damai, dan sejuk”.

Lingkungan alam sekitar tentulah melahirkan suatu karakter bagi manusia maupun masyarakat setempat yang di jalani hingga timbul sensasi budaya tersendiri seperti system pengetahuan, norma dan lain-lain. Suatu system pengetahuan yang berbeda masyarakat luar adalah, tiang cor kerangka bangunan rumah di konstruksi dengan menariknya menggunakan tali dari beberapa warga secara bergotong royong. Ini merupakan ide yang di munculkan oleh warga sebab itu dibangun dengan selaras lingkungannya.

Hidup di daerah yang jauh dari keramaian serta tanjakan tersebut, secara otomatis memperkokoh adat, norma serta sikap positif mereka dalam berinteraksi satu sama lain, seperti etika dalam berbicara maupun menyapa satu sama lain. Hal tersebut didapati ketika mereka saling bercakap atau berkomunikasi antara sesama warga sangat lembut dan sopan, apalagi pendatang mengunjungi kampung mereka, warga dengan antusias melontarkan perkataan yang sopan dengan suara yang pelan serta lembut.

Mengenai bahasa yang di gunakan, tentulah bahasa Tidore yang juga sama seperti masyarakat Fora. System bahasa ini telah digunakan sejak kampung tersebut sudah ada, yang bagaimana dahulu warga Fora mendominasi hubungan baik dengan mereka, hingga bahasa Tidore terus mengalir dan di biasakan hingga sekarang.

Hal yang membuat mereka tetap bertahan hidup berkembang di daerah pegunungan adalah tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah. Tanaman pohon pala dan cengkeh yang mengelilingi kampung, begitu menjanjikan bagi kebutuhan ekonomi mereka.

“Torang di sini rata-rata semua petani, terutama Pala itu sebagai pokok sumber tong pe kebutuhan hidup. Tapi ada juga sampingan kaya batanam Tomat, jagung deng lai-lain,” ujarnya pada Rabu (16/3). Selain itu, Om Yanto juga menuturkan, “warga di sini kalu mencari, dia pe masukan ekonomi bagus terutama hasil dari pala. Rumah dari unjung ke unjung rata-rata bagus ini kan sebagian besar hasil dari pala, apalagi Ibu-ibu dong di sini hampir setiap hari pigi bacari pala,” ujar Rizal Danel (40), warga setempat.

Hal yang sangat menonjol untuk mencari hidup sehari-hari ialah memungut buah pala yang jatuh di tanah. Kebiasaan mencari pala merupakan aktivitas bagi ibu-ibu di setiap harinya yang bisa meraup dua ratus bahkan tiga ratus ribu sehari. Nurlaila Sleman (60), disapa Ci Nur, merasa berkecukupan dengan aktivitas sehari-harinya hanya dengan mencari pala. Dengan mencari pala, Ci Nur bisa meraup keuntungan hingga tiga ratus ribu dalam sehari.

“Satu hari kalu orang sini bacari tara banya itu Ci bisa dapa dua ratus ribu, kalu orang banya yang bacari pala paling sadiki itu seratus ribu, itu saja cuma berapa jam, dari jam 6 pagi sampe jam 10 itu so pulang bawa pala deng tas suda”, tutur Ci Nur pada kamis (17/3/). “Di sini yang cari-cari pala itu Cuma tong ibu-ibu saja, yang laki-laki itu dong yang bagian naik pala deng kerja bangunan. Pala yang Ci dapa dari bacari itu bisa beli beras, ikan deng rumah so badiri ini juga dari ci bacari pala lagi”, terangnya.

Selain mencari pala, Ci Nur juga kerab berkebun. Tanaman-tanaman seperti sawi, timun, tomat dan cabai sebagai sampingannya melengkapi kebutuhan rumah tangga Ci Nur.

Kehidupan yang di jalani oleh warga Sasa Gunung atau Fora 2, tidak jauh berbeda dengan warga Fora, dan itu pastinya memiliki keterkaitan atau pertalian kekerabatan serta kebudayaan yang sama. Jika berkunjung, maka suasananya pun terasa seperti Foramadiahi, namun Sasa Gunung bahkan lebih tentram dan damai ketimbang di Fora.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *