Press "Enter" to skip to content

Mobil Mogok Anggota Dewan

Anggota DPRD yang saat ini sedang sibuk memperkaya diri misalnya. Sebelum menjadi anggota dewan yang terhormat, mereka ibarat mobil mogok yang perlu dorongan. Maka yang terjadi adalah ratusan bahkan ribuan orang dikerahkan dengan imbalan janji dan materi, segala sumber dana digunakan tak peduli hasil serobotan, hingga akhirnya mobil tersebut bisa bergerak lagi dan melaju hingga ke Senayan.

Hari sedang panas saat itu (2019). Dari Selatan Ternate, sesudah berkemas, Aku beranjak naik angkot menuju pusat kota. Aku berniat menjumpai Gramedia, yang saat itu tengah membeberkan buku-bukunya dengan harga murah-meriah.

Hari itu, tepat beberapa bulan lagi debut dunia legislatif akan segera dilangsungkan. Ada yang melakoni laga perdananya. Ada yang masih berambisi “Menjuarai trofi”. Adapula yang sudah menjadi “Legenda”, lalu siap menjadi “Pelatih”.

Buku-buku itu diturunkan ke Lantai 1 Jatiland Mall Ternate untuk dijaja. Aku tak menyangka, di antara dempetan karya-karya itu, ada satu judul yang tiba-tiba menggelorakan rasa sinisku dalam hati, lalu dengan senyum tipis, Aku menggapainya.

Bentuknya segi empat, bersampul orens dan cukup tipis, hanya 190 halaman. Judulnya: Mobil Mogok Anggota Dewan. Awalnya, Aku kira sebuah novel atau kumpulan cerpen bermuatan satire.

Buku yang covernya tampak diburamkan itu terdapat ilustrasi seorang pengendara yang meminta pertolongan karena mobilnya sedang mogok. Rupanya, adalah buah karya Doni Swadarma, yang berisi pemahamannya tentang Sainspirasi.        

Doni Swadarma punya cara lain membaca kebajikan pada kehidupan. Lewat buah tangannya, ia memuat sejumlah antologi penjelajahannya serta cara pandangnya terhadap lika-liku kehidupan manusia.

Meski mengombinasikan disiplin dunia Sains dan inspirasi yang seharusnya membelitkan pikiran, namun bahasa tulis yang mudah dipahami serta rangkaian “Variasi metafora” yang ditampilkan, justru mengantarkan kita untuk memandang kehidupan itu sendiri secara lugas.

Tak butuh waktu lama untuk membaca karya tulis yang berisi percikan catatan-catatan pendek ini. Kemampuan penulis menyelaraskan “Energi alamiah” dari penemuan sains kemudian mengomparasikannya dengan “Pengalaman sosial”, sesekali mengantarkan kita pada gerbang bacaan yang sungguh menginspirasi.

Dalam sebuah bab judul tentang Energi Cinta Matahari misalnya, Doni berkisah tentang Woo Kap Sun, Anne Mansfield Sulivan, dan Cus D’ Amato. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan diri untuk merawat para tunanetra, gelandangan, dan mereka yang dicap sebagai kaum marjinal yang bahkan diasingkan oleh keluarga mereka sendiri.

Di kemudian hari, anak-anak yang mereka asuh itu tumbuh besar dan memiliki bakat yang luar biasa. Anak-anak itu di antaranya adalah He Ah Lee, sang pianis terkemuka yang melanglang buana mengadakan konser ke seluruh dunia.

Meski mendapat cercaan, namun dengan cintanya, Woo Kap Sun tetap membesarkan anak itu hingga menjadi seorang bintang piano terkenal, walau hanya memiliki dua jari di setiap tangannya.   

Masih pada judul yang sama, Doni menayangkan sepintas kisah Cus D’ Amato yang terus mengawasi seorang remaja bengal yang menjadi begundal jalanan di Lorong Brooklyn yang gelap. Berkat asuhannya, remaja itu tumbuh besar dan menjadi juara dunia petinju termuda di masanya. Orang-orang menyebutnya: Mike Tyson.

Bagi Doni, orang-orang seperti Woo Kap Son, Anne Mansfield Sulivan dan Cus D’ Amato adalah manusia-manusia hebat yang mewarisi energi cinta matahari. Ia menganggap bahwa hal tersebut dikarenakan matahari memiliki 564 juta ton hidrogen yang siap diubah menjadi 560 juta ton helium melalui reaksi fusi.

Ia menulis: setiap detiknya matahari kehilangan 4 juta ton materi dan yang diterima atmosfer luar bumi adalah 1.324 watt/m²/detik energi. Proses kehilangan energi ini berlangsung setiap hari, hingga akhirnya matahari menjadi bintang mati. Sungguh luar biasa matahari. Demi kelangsungan makhluk hidup di bumi, ia rela kehilangan materi, bahkan hingga menjadi bintang mati.

Cerita-cerita semacam itu mengalir sederhana hampir pada isi setiap judul dalam buku ini. Secara keseluruhan, buku tersebut memilah 42 judul, masing-masing dengan dinamika narasi dan konteksnya sendiri. Memiliki kelekatan yang erat dengan dunia Sains. Juga tak luput penulis menyuguhkan benang merah pada setiap cerita yang telah ia sarikan.

*

Pada halaman 109, sebuah judul akan membuat kita (yang bukan anggota DPRD) merasa sedikit tertawa bila melihat kalimatnya–yaitu “Mobil Mogok Anggota Dewan”. Judul ini juga yang membuatku hendak membeli buku tersebut dan ingin meresensinya.

Meski tidak sepenuhnya membahas dunia wakil rakyat kita, anggapan penulis bahwa sisi lain anggota DPRD adalah Mobil Mogok memang punya kesan tersendiri.

Umpama pengendara dan mobilnya yang sedang mogok. Para anggota DPRD membutuhkan dorongan berupa tenaga dan materi dari ratusan bahkan ribuan suara rakyat untuk melaju ke bursa legislatif.

Ketika sudah melaju, sang pengendara dan mobilnya enggan berbalik dan membalas pengorbanan rakyat yang sudah bersusahpaya “Mendorongnya”. Bagian bahasan mobil mogok anggota dewan ini, memang sangat konteks dengan kehidupan dunia politik kita dewasa ini.

Satu lagi judul tulisan pendek dalam buku ini yang merupakan bacaan favoriku sekaligus menambal sainspirasi buku ini adalah Gaya Gesek Orang Sulit.

Adalah bagian di Wolsthorpe, England, pada tahun 1643, di mana seorang lelaki sedang lahir dalam keadaan prematur. Tubuhnya begitu mungil bahkan tak seorang pun mengira ia akan mampu bertahan hidup.

Semasa sekolah, lelaki itu tidak pernah menonjol, ia sering diejek teman-temannya karena dianggap bodoh, pendiam dan pemalu. Pada akhirnya, tak ada yang menyangka, lelaki tersebut menjadi penemu terkenal di dunia, dialah Isaaq Newton.

Doni juga menulis: Newton pernah meneliti gerak benda di permukaan kasar. Ia berkesimpulan, semakin kasar dua permukaan yang saling bersinggungan, maka makin sulit benda tersebut digerakkan. Setelah diselidiki oleh Newton, ternyata hal tersebut disebabkan oleh adanya ‘Friksi’ atau gesekan. Besarnya gaya gesek ini ditentukan oleh faktor koefisien gesek, massa benda, dan gravitasi.

Menurut Doni dalam bagian ini, adalah pelajaran bagi kita untuk tidak memandang remeh orang-orang yang dianggap pendiam, bodoh, pemalu, atau, pada dasarnya mereka yang disebut orang-orang ‘Sulit’–mereka yang penuh ‘gesekan’.

Orang-orang sulit memang memiliki daya gesekan tersendiri. Sewaktu-waktu, dunia memerlukan mereka untuk mengatasi keseimbangan benda-benda.

Kesimpulan-kesimpulan kehidupan yang bijaksana antara sains dan inspirasi membuat buku ini enggan membosankan kita menyelaminya.

Judul Buku: Mobil Mogok Anggota Dewan
Penulis: Doni Swadarma
Editor: Gus Arifin
Artistik: Achmad Subandi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Halaman: 190
ISBN: 9786020021492

Oleh Rian Husni
Ilustrasi gambar: mitsubishicikarang.web.id

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *