Press "Enter" to skip to content

Nostalgia Dunia Mahasiswa: Menanti Surat dari Kapal Laut

Last updated on Februari 4, 2020

Kapal-kapal pengangkut manusia itu tidak hanya sarat dengan tumpukan barang. Sebuah kapal, telah diafirmasi sebagai jembatan informasi yang menghubungkan berbagai daratan di Maluku Utara.

Paling tidak, kapal pembawa surat itu, sedianya, telah menyatukan kabar tentang kampung, pulau, dan hiruk-pikuk situasi kota. Para perantau menanti dengan sepenuh hati. Meski isi surat-surat itu entah bagaimana rupanya nanti. 

Surat-surat itu melewati deretan tanjung, juga menyebrangi selat di sepanjang perairan laut Halmahera. Helai kertas yang dilipat rapi itu, berisi coretan tangan ibu dan ayah.

Kabar yang tersirat di surat itu menginap berhari-hari di atas kapal. Penantian akan kabar dari kampung, disambangi mahasiswa di Pelabuhan Bastiong, Ternate, Maluku Utara–tempat di mana kapal-kapal tersebut menyandarkan diri.

Kadang-kadang, isi surat itu hanya memuat kabar tentang kondisi keluarga. Juga terukir permohonan maaf, karena keluarga belum punya uang. Belum bisa bakirim (mengirim)”, ucap Arfin (31), dalam sebuah perbincangan kami, November 2019 lalu.

Ia mengenang dan menceritakan masa-masa silam mahasiswa Patani, di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh pendidikan strata 1 (S-1) di Kota Ternate, kala itu.

Arfin mengisahkan dunia kemahasiswaannya di paruh tahun 2005-2008 di Kota Ternate. Saat itu, dia bilang, orang-orang masih gagap dengan gawai.

Korespondensi lewat jalur laut merupakan prioritas utama untuk mendapatkan informasi. Membikin mahasiswa berduyun-duyun ke pelabuhan.

Di antara himpitan barang, orang, mereka menanti tumpukan kertas itu untuk lekas dibaca. Selama dua hari, dari Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, surat itu akan tiba di tangan mahasiswa di Ternate.  

Sisi lain sebuah kapal yang menjelma sebagai pos pengantar surat, sekiranya, sangat pantas karena daerah ini terdiri dari banyaknya gugusan pulau-pulau kecil yang terbentang.

Dunia pesisir dan segala maha-ceritanya, tentu menciptakan aktivitas “Literasi informasinya” sendiri untuk menggaung kabar dari pulau-pulau tersebut.

Budaya “Mengabarkan” memang selalu dihidupkan sesuai lingkungan dan keadaan sosial suatu daerah. Karena itulah, dalam situasi peperangan, di sekitar 1250 sampai 1517 Masehi, Dinasti Mamluk di Mesir, menerbangkan burung merpati sebagai jalur penghubung pesan saat jalur darat mereka dihalangi oleh Pasukan Salib.

Merpati pos ala Dinasti Mamluk ini kemudian disebut sebagai sistem komunikasi paling cepat di abad pertengahan.

Tradisi surat-menyurat di negeri Al-mulk (raja-raja) ini, sepintas, laiknya sejarah yang ditorehkan pada berbagai literatur; membuat Alfred Russel Wallace, sang naturalis penanda pengetahuan modern, juga menulis surat kepada Charles Darwin yang jauh di kepulauan Galapagos.

Sebuah catatan yang sangat penting bagi Darwin untuk meluncurkan The Origin of Species (1859) kepada kita.

Surat Cinta

Surat-surat itu terus dikirim, sekaligus dinanti balasannya. Ternate dan Pulau Halmahera begitu dekat di setiap baris dan kata. Tentu saja, mereka, para penulis surat, punya maksud yang ingin disampaikan–termasuk melepaskan perasaan cintanya.

Cerita surat cinta yang dikirim lewat kapal laut ini, seperti yang dikisahkan Arfin, Saya dapatkan dari perbincangan bersama rekan-rekan mahasiswa Patani pada sebuah kesempatan.

Ada yang bercerita: kepada pasangannya, angkatan mahasiswa saat itu, tak hanya menulis surat sebagaimana adanya, tapi juga menarasikan kemampuan bersyair untuk meluapkan rasa rindu mereka kepada orang-orang tercinta.

Pada masa itu, ada pula yang menulis hanya dengan satu paragraf singkat, padat, dan to the point untuk dua hari yang akan sampai di tangan pembacanya.

Romantisme ala surat kapal laut seorang mahasiswa seperti sedang diperankan pada sinetron-sinetron kekinian.

Tak hanya itu, drama perpisahan yang diadegankan di Pelabuhan saat kapal-kapal itu mulai sandar dan melepas landasan, juga turut menyemai duka lara mahasiswa kala itu, kata Suyadi Nasir (24), mahasiswa Tepeleo.

Sekitar tahun 2006 hingga 2013, transportasi darat masih jarang ditempuh. Berbagai Kapal Motor Penumpang (KMP) memiliki jadwal yang padat setiap pekan untuk mengangkut orang-orang di sekitar Patani dan daerah lainnya di Halmahera. Menuju Kota Ternate.

Sekira akhir tahun 2014, kapal-kapal itu memutuskan jadwal angkutan mereka setelah jalur darat mulai diakses dengan lancar.

Nama dari beberapa kapal itu masih Saya ingat. Di antaranya: Bilarfa, Bintang Maluku, Nur Abadi, Nur Amin, dan Aksar Saputra. Adalah bahtera bersejarah yang telah menghubungkan begitu banyak perasaan orang-orang yang belum sempat berjumpa.

Laut tidak lain adalah perpustakaan dari semua air mata dalam sejarah” begitu sabda Lemony Snicket, seorang penulis Amerika Serikat.

Dunia laut, mula-mula punya cara sendiri untuk berusaha memberi kita kabar. Kemudi kapal yang menepis ombak, teduhnya lautan, juga bagaimana pemandangan di setiap daerah yang terekam dalam ingatan dan menolak menjadi kenangan, begitu lekam menyelaraskan diri dengan surat-surat yang masih tersimpan.

Mengenang nostalgia dunia mahasiswa seperti ini memang sangat berkesan. Tentu saja, peristiwa semacam itu berbeda dengan laju informasi di zaman sekarang–di mana dalam satu kali kedipan mata, kabar-kabar itu segera menghampiri kita.

Rian Husni

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *