Press "Enter" to skip to content

Pemburu Pengetahuan: Refleksi Nikmatnya Bermahasiswa

Oleh : Faizal Ikbal
Alumni Ilmu Komunikasi UMMU 
Kabid PTKP HMI Komisariat Fisip UMMU
Musim semi yang melanda Indonesia tengah tahun ini, rupanya mendatangkan kabar gembira bagi seluruh kampus di Indonesia. Iya, kabar gembira itu bertanda hadirnya tamu-tamu baru yang berdatangan dari SMA, SMK, dan sederajat yang berambisi merebut “kunci gudang ilmu” Perguruan Tinggi Nasional (PTN) dan perguruang tinggi swasta untuk lebih jauh memandang dunia.
Target lanjut studi di kampus menjadi keharusan semua mahasiswa, orang tua, dan keluarga, ditambah lagi keyakinan masyarakat pada aspek pendidiakan makin masif disadari untuk dapat menjawab tantangan hidup dan menjadi solusi di tengah hiruk-pikuk masalah yang rajin menimpa bangsa. Dalil tersebut menegaskan adanya rutinitas tiap lembaga pendidikan di Indonesia mencetak siswa-siswi lewat hajat nasional (ujian nasional) yang belum lama ini di langsungkan setiap sekolah-sekolah di Indonesia.

Maluku Utara di tahun 2018 tercatat dari SMA, SMK, dan sederajat mencetak siswa-siswi kurang lebih 98% lulus dan siap melanjutkan studi pada perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Kini kita amati fenomena kompleks pada perguruan tinggi Maluku Utara yang sibuk meladenin tamu-tamu baru dengan penggodokan sikap, mental, dan wawasan yang lebih luas.

Dengan penamaan yang berdeda-beda, misalnya; pelatihan dan pengembangan kepemimpinan dan keppribadian (P2KK), untuk UMMU, Orientasi Mahasiswa Baru (Orbimas) untuk STIKIP, Informasi dan Orentasi (Inforient), untuk Unkhair dikenal sebagai Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), dan Pengenalan Budaya Akademisi Kemahasiswaan (PBAK) untuk IAIN. Tentu, dalam metode yang telah dirancang oleh masing-masing kampus.
Dengan tegas dan disiplin Mahasiswa Baru (Maba) diarahkan oleh senioritas kampus dengan penggodokan dan pengembangan yang dilakukan tiap tahun ajaran baru di kampus. Sejuta doktrin akal merdeka dari mahasiswa senior begitu lantang dan meniupkan roh-roh proses menghamba pada pengetahuan, sekaligus sebagai pemburu pengetahuan yang menjadi misi hidup manusia.
Sejatinya, menyandang status mahasiswa bukan saja disempitkan pada hajat “Normatif” yang membisukan mulut dan membutakan mata pada realitas sosial. Pemenjaraan individual yang terkutat pada doktrin sesat kampus yang selalu menakut-nakuti dengan kartu hasil studi (KHS), walhasil, kampus menjadi pasar modal eksploitatif yang mencetak manusia-manusia mesin yang stagnan dan menambah parkir luar biasa (pengangguran). Belum lagi tempat suci (kampus) berlumbung akademisi yang korup, tidak lagi bertahan pada cirinya yang mendidik dan menjadi pertahanan terakhir peradaban bangsa.
Ciri ideal mahasiswa selalu diidentikkan dengan cara berpikirnya yang ilmiah. Sedang kata ilmiah sendiri menyimpan unsur-unsur kritis, analitik, rasional, dan universal yang berpijak pada pikiran manusia sehingga menjadi amanat kemanusiaan bangsa dan negara. Berpikir hanya disandang manusia bukan alam semesta, bukan pula hewan. Dahulu, pernah Tuhan tawarkan amanat berpikir kepada alam semesta berupa langit, bumi, dan gunung-gunung. Akan tetapi semuanya menolak untuk menerima dan merasa keberatan, kemudian amanat itu diterima oleh manusia. Memang dengan menerima amanat itu manusia menghadapi resiko, karena ia lantas menjadi manusia berpikir yang mungkin salah mungkin benar (Qur’an Surah Ahzab 33, ayat 20).
Seruan berpikir juga mewarnai wacana Filsafat Klasik, yakni manusia adalah mahluk berpikir. Demikian tesis klasik yang pernah kita temui dalam dunia Filsafat. Ditambah Konsekuensi logis dari berpikir ialah manusia dapat menyampaikan pikiranya lewat bahasa. Bahasa yang baik menunjukkan cara berpikir yang baik, sedangkan bentuk komunikasi yang kacau menunjukkan cara berpikir yang kacau juga. Alternatif dari ilustrasi diatas hanya dengan membaca buku dan tidak engan berdiskusi.
“Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan namun merugilah jika belajar disempitkan semata perkulihan” begitu kata Najwa Shibab. Ungkapan ini menjadi spirit bermahasiswa, apalagi para mahasiswa baru yang baru saja bergabung dengan dunia akademisi, pengembangan intelektual tidak terlalu bersumber pada kampus tapi masih banyak wadah yang giat mengembangkan tradisi intelektual, yakni membaca dan berdiskusi sudah tentu. Di lingkup organ intra maupun ekstra. Buku harus menjadi makanan pokok biar alur pikir mengalir rapi, buku menjadi senjata masa depan dan guru sepanjang masa. Dengan membaca buku dunia dalam genggaman serta buku merupakan media yang tepat untuk mengeluarkan mahasiswa pada kubang kebodohan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *