Press "Enter" to skip to content

Pemburu Plastik di Unkhair

Sang bocah bermata mungil ini bernama Fatima Sarung (9 tahun). Matanya begitu tajam saat melihat botol mineral yang dibuang orang-orang usai meminumnya. Pulang dari sekolah, Fatima enggan beristirahat demi memulung plastik untuk dijual.

Ia melangkah pelan tanpa alas kaki. Menyusuri pelataran Fakultas Ilmu Budaya, di Unkhair. Sekali-kali, saat berjalan, ia menghampiri tong sampah yang tersedia di halaman fakultas untuk memungut botol bekas yang sudah dibuang.

Botol bekas itu segera dibersihkan, lalu dijual kembali di toko. Satu buah botol, dijaja Fatima dengan harga seribu rupiah kepada para pedagang kaki lima di Ternate.

Anak kelas 3 SD ini telah memulai kebiasaannya memulung botol bekas sejak Januari 2019.

“Dia sudah memulainya dari 2019 sampai sekarang sudah kelas 3 SD. Fatima sudah terbiasa memulung botol bekas itu. Selesai pulang sekolah, dia ikut saya bekerja di sini dan mencari botol” ucap Jusnia (30), ibu Fatima, yang bekerja sebagai Cleaning Service (CS) di UPT. Perpustakaan Unkhair.

Ia mengaku, pernah menegur Fatima untuk tidak mencari botol plastik karena dirinya harus istirahat saat pulang sekolah. Namun hal itu tidak dihiraukan Fatima.

Tong (kami) tegur dia karena harus istirahat, tapi dia malawang (melawan), mau cari botol terus” katanya.

Fatima adalah anak pertama dari Jusnia. Mereka beralamat di Gambesi, Ternate Selatan, Maluku Utara. Saat ini Fatima menempuh pendidikan Sekolah Dasar di MIS Alkhairat Gambesi.

Jusnia bilang, dalam seminggu, Fatima menghabiskan waktu pulang sekolah sebanyak lima kali untuk mencari botol di kampus.

“Dalam seminggu kan saya kerja cuma lima kali, jadi dia (Fatima) cari botol juga di hari-hari itu, tapi sesuai kemauannya saja.” ujarnya saat diwawancarai mantra, Selasa (28/1) di UPT Perpustakaan Unkhair.

Dalam satu hari, biasanya, Fatima mendapat 30 botol. Hasil menjual botol bekas itu kemudian ditabung olehnya. Alhasil, kata Jusnia, Fatima telah membeli satu buah HP dan anting-anting dari hasil jerih payahnya sendiri.

Jusnia mengaku dengan apa yang telah dikerjakan oleh anaknya tersebut sungguh membantu kondisi keluarga mereka. Ia mengharapkan, ke depannya, Fatima terus menjadi anak yang mandiri dan selalu membantu mereka.

“Mudah-mudahan ke depannya dia jadi anak yang mandiri dan berguna bagi orangtua” pungkasnya.

Reporter: Fadli | mantra
Editor: Redaksi

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *