Press "Enter" to skip to content

Pesing, Sunyi Berbunyi, dan Sayup Kekasih (Syair Renungan)

Ilustrasi: Ilsyam
Ilustrasi: Ilsyam

Pesing

bau pesing, wangi pun pesing, hujan pesing

basah air tak membasahi, tetap pesing

tak kering pun tandus masih pesing

orang-orang berbicara pesing

yang mendengarnya pesing

Kita semua pesing

kepesingan itu geram

kepesingan itu kusut, renta, dan kusam

kepesingan itu busuk

pesing-pesing

masih tetap pesing

hingga tak bisa terjamah oleh waktu

selalu pesing.

kejayaan menyusut pesing

kekayaan menciut pesing.

kemakmuran menumbuh pesing.

kemelaratan semakin pesing

aghhh..

gaduh, riuh, bisu menggelitik amarah

Aku pesing.

Kau pesing.

Kita pesing.

pesing kepesingan, pesing, pesing, pesing, masih saja pesing

yang bersikukuh pesing

yang berkhotbah pesing

yang berdalih pesing

yang berjuang pesing

yang berjiwa pesing

yang tidak yang pesing

yang pesing semakin pesing

Pe-sing

ilustrasi: Ilsyam

Sunyi Berbunyi

dari bunyi-bunyi lantang aku bersuara

dari bentangan kalam aku menitipkan sejuta harapan agar senantiasa kamu mengerjakan setiap tugas bangsa dengan seksasama.

dari sela-sela kota aku akan berbicara

dari himpitan bangunan bertingkat aku meminta

agar kau bisa memanjangkan tangan untuk kesejahteraan dan kemiskinan

dari sudut-sudut desa aku bernada

dari tempat-tampat kumuh aku memohon

agar sebisanya kau sempurnakan setiap yang berkekurangan

dari pinggiran jalan tol aku merintih

di bawah lentera redup aku menadah tangan

agar kau tetap menatap kami sebagai manusia yang butuh tempat berteduh

dari setiap keramaian aku terisak

dari reruntuhan gubuk yang lapuk aku bersahaja

agar puji-puji tuan tak renggut kepunyaan kami

tidak ada kami selain tuan

Temaram, Ilustrasi: Ilsyam

Sayup Kekasih

ya rab,

bergetar hati kala bunyi sunyi itu menyambar.

dengan penuh kasih dan hikmah.

terselip syahdu hingga syahwat terguncang.

entah pertanda apa saat hamba hendak ingin mengadam.

mematikan seluruh makhluk biasan-mu.

datang diam-diam sebuah pesan.

sahaja pesan turun dari lauh mahfuz.

bahwa kalam masih melekat pada pohon.

bahwa helai hamba masih belum menyentuh tanah.

bahwa mestinya hamba menanti badai tak bernyawa.

terdiam dalam bahagia dengan penuh syukur.

tapi, sampai kapan hamba tetap dalam penantian untuk mengadam?

seraya sudah tak kuasa melirik kefanaan.

ketakjelasan dan keangkuhan makhlukmu.

ya huu.

ya ruh.

sahaja kuserahkan seluruh jiwa dan badan.

panjatkan kecintaan ini dalam takbir dan tahlil.

menyabar, mengikhlaskan agar berada disisi-mu.

jika kesempatan bernafsu kau beri lagi.

maka berilah ketabahan dalam penantian mengadam hamba.

berkatilah sirotal mustakim ini.

dekatkanlah tarekat ini.

sementara hamba bersemayam dalam ketunggalan-mu.

ya rahim.

________

Kumpulan puisi Ilsyam, Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Unkhair Ternate

Baca puisi lainnya:

http://dua prosa perjuangan sang kawan

http://al-fatani-dan-duka-negeri-rempah-percikan-syair-kampung-al-syam

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *