LPM MANTRA- Dari kejauhan, rumah Tila-Tila itu tampak berbeda. Bentuk bangunannya segi empat. Atap rumah sederhana itu berbahan daun Sagu. Sebagian atapnya bisa di geser. Rumah sederhana ini digunakan masyarakat Leleseng Kecamatan Kao Barat, Halmahera Utara menjemur Padi kala musim panen tiba. Bukan sekadar mengeringkan hasil panen, namun rumah beratap daun sagu itu menjadi warisan turun-temurun masyarakat adat Pagu dan Madole.
Struktur Bangunan
Rumah Tila-Tila seluruhnya dibangun menggunakan bahan alami seperti bambu dan gaba. Bahan bangunan rumah ini tanpa material modern seperti besi atau baja. Meski begitu, konstruksinya tetap kokoh dan tahan lama. Atapnya terbuat dari daun sagu, sementara bentuk keseluruhannya menyerupai rumah panggung. Desain ini berfungsi untuk melindungi padi dari ancaman hewan pemakan hasil panen, dan menjaga sirkulasi udara di bawah rumah.
Baca Juga : Kala Komunitas Lapang Warisan Jaga Identitas Budaya lewat Permainan Tradisional
Bangunan tradisional itu memiliki dua sisi atap yang terpisah. Sisi pertama menyatu dengan badan rumah dan bersifat permanen, sedangkan sisi lainnya dapat digeser untuk membuka atau menutup bagian dalam rumah sesuai kebutuhan pengeringan. Ruang di bawah atap yang tidak dapat digeser digunakan untuk menyimpan padi, sementara bagian yang dapat dibuka difungsikan sebagai area pengeringan. Dengan desain tersebut, para petani dengan mudah menyesuaikan kondisi rumah, jika kondisi cuaca buruk, tanpa harus memindahkan padi yang sedang dijemur. Hal tersebut membuat Rumah Tila-Tila sebagai inovasi tradisional yang efisien dalam menghemat waktu dan tenaga selama proses pengeringan.

Ajon Papola (60) Warga Desa Leleseng menjelaskan rumah Tila-Tila dalam bahasa Pagu “Tila” diartikan “dorong”, sedangkan bahasa Melayu Maluku Utara memiliki makna “Tola”. Karena itu, rumah transional ini, disebut Rumah Tila-Tila atau Rumah yang bisa digeser ke samping.
Baca Juga : Wisata Kampung Tua Foramadiahi Jadi Sumber Ekonomi Warga
“Tila-Tila dalam bahasa kami artinya tola (dorong). Jadi rumah Tila Tila tuh rumah tola tola, dalam bahasa Pagu deng (dan) bahasa Modole penyebutannya sama saja,” Ajon sembari melangkah kaki ke arah rumah Tila-Tila, Kamis (9/10/2025) lalu.
Ia bilang rumah Tila-Tila digunakan masyarakat sebagai tempat pengeringan hasil panen padi. Di mana sebagian atapnya dapat didorong atau dibuka untuk memudahkan sinar matahari masuk dan mempercepat proses pengeringan.
“Kalau sudah mulai panas, kami dorong atapnya. Tidak perlu angkat padi keluar. Tinggal buka saja bagian atasnya,” ujar petani paruh baya yang masih rutin merawat Rumah Tila-Tila peninggalan orang tuanya.
Nilai budaya dan sosial rumah Tila-Tila
lebih dari sekedar fasilitas pertanian. Rumah tradisonal ini juga memiliki nilai simbolik yang tinggi bagi masyarakat Desa Leleseng atau Suku Pagu dan Madole. Rumah sederhana itu, memiliki makna sistem kehidupan yang selaras dengan alam sekaligus menjadi identitas budaya lokal Kao.
Di desa Leleseng Kecamatan Kao, kelapa menjadi sumber ekonomi utama. Di Desa ini nuansa tradisional masih begitu terasa. Masyarakatnya bertani tanpa alat modern. Mereka menanam, dan membiarkan alam merawat apa yang ditanam, tanpa tersentuh teknologi. Warga adat Pagu ini percaya, alam yang dijaga dengan sabar akan memberi hasil yang terbaik.

Selain menanam kelapa, warga adat Pagu ini juga menanam padi, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga ketahanan pangan. Menariknya, hasil panen padi tidak untuk dijual atau dikomersialkan, melainkan disimpan sebagai cadangan pangan bagi keluarga dan masyarakat desa.
“Tong (kami) tanam untuk makan saja, tara (tidak) dijual. Setelah tanam padinya, kami panen, kemudian simpan untuk makan sehari-hari, kalo ada lebe (lebih) kase (berbagi) dengan yang lain,”ujar Nohor sembari melihat rumah Tila-Tila.
Jenis Padi dan Sistem Pertanian Warga Desa Leleseng
Masyarakat Leleseng membudidayakan jenis padi kebun atau padi gogo (Oryza sativa L). Varietas padi ini yang berbeda dengan padi sawah pada umumnya. Tanaman bernama latin Oryza sativa L ini tumbuh baik di lahan kering dan memiliki karakteristik benih yang lebih besar serta aroma harum menyerupai pandan ketika dimasak.
“Beras ini agak berbeda, rasanya enak beda dengan beras yang dijual di toko. Lebih enak lagi kalo (kalau) dimasak jadi bubur dia pe aroma beda. Macam babo (berbau) pandan begitu, baru wangi. Tong (kami) makan me dia rasa enak sekali,”aku salah satu ibu rumah tangga yang pernah memasak beras ini.

Jenis Padi tersebut dianggap paling sesuai dengan kondisi geografis Desa Leleseng yang didominasi lahan kering berbukit.
Proses pembukaan lahan dilakukan secara tradisional pada setiap musim tanam. Umumnya, lahan yang akan digunakan merupakan area kebun yang ditumbuhi bambu dan tumbuhan lainnya. Petani melakukan penebangan dan pembakaran bambu untuk membersihkan lahan sebelum ditanami padi kebun. Metode ini semacam praktik pertanian yang menyesuaikan dengan kondisi ekologi setempat.
Ritual Adat Pasca Panen
Saat masa panen Padi kebun tiba, warga Desa Leleseng menggelar ritual adat syukuran sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Upacara adat ini sebagai bentuk solidaritas sosial dan kebersamaan antar warga desa.
Warga Desa Leleseng percaya bahwa semakin sering masyarakat berbagi hasil panen dengan sesama, maka rezeki dan hasil panen di musim berikutnya akan semakin berlimpah.
“Orang orang di sini begitu sudah, kalo so panen tetap pasti torang bikin syukuran acara adat. Pasti kalo tong bikin acara dengan hasil panen kase berbagi pasti tahun depan tuh yakin dengan trada pasti hasil panen tambah banyak,” tutur Nahor dengan nada pelan.
Baca Juga : Sungai Sagea Kembali Keruh
Ritual adat panen Pada tidak hanya bermakna spiritual, namun juga memperkuat nilai gotong royong dan hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Desa Leleseng.
Kini, Rumah Tila-Tila menjadi lebih dari sekadar tempat pengeringan padi. Rumah itu juga menjadi simbol ketahanan budaya di tengah perubahan.
Penulis : Agung/Redaktur
Editor : Tim Redaksi
