Press "Enter" to skip to content

TANAH SURGA, AYAH DAN PEMERINTAH

Penulis: Hamija Buton | Mantra (Magang)

Di sini, tanah yang kupijaki, alam kunikmati dengan keindahan alam yang mempesona.

Di sini, tanah kelahiranku, alamku, tempat di mana aku bersedih, sedang laut biru menjadi penenang.

Tatkala aku senang hamparan rumput hijau menjadi tempatku melepas lelah.

Gunung-gunung menjadi tempatku menyendiri untuk menemukan kedamaian.

Inilah tanahku, tanah surga yang diperjuangkan oleh para leluhurku, tanah yang indah hingga diperebutkan oleh bangsa lain.

Akan kujaga peninggalan para pejuang, akan kuemban amanat untuk melindungi tanah yang dijaga para kapita-kapita.

Indonesia adalah tanah surga bagiku dan bagi dunia karena keindahannya adalah anugerah Tuhan yang paling mempesona.

Ayah

Bagaikan kapal yang berlayar di atas bebatuan, terdengar jeritan sakitnya sebuah kehidupan seperti disayat pedang.

Dengan kata yang sederhana kau ajarkanku tentang makna kehidupan, kau ajarkan caranya menghargai kehidupan.

Ayah, sampai tubuhku dibungkus kain kafan, takan habis kenangan cerita panjang saat bersamamu ayah.

Saat dimana suara lantang yang terdengar, menghampiri telingaku dan mengatakan, “Nak, hidup adalah perjuangan.”

Jangan pernah takut untuk melangkah karena sulitnya kehidupan masih bisa disembuhkan. Ayah hanya ingin kau menjadi orang yang merubah luka menjadi bahagia.

Pemerintah

Terdengar suara jeritan dari lorong-lorong, gang-gang, dari desa-desa, mendengar tanpa henti, memandang tanpa berkedip, rakyat menjerit kepedihan.

Kesedihan yang melanda, menjadi budak di atas tanah sendiri menjadi yang diperintah. Padahal, kekayaannya milik kita. Mendesis darahku, mendidih hingga ingin
keluar dari kelopak mataku.

Apa yang kalian inginkan setan-setan yang menghantui bangsa Indonesia dari ujung
timur pulau Rote hingga ujung barat pulau Mianga
Apa yang kalian inginkan, tanah, budaya, harta, kebebasan telah kalian renggut tertinggal hanyalah air mata yang tersimpan kemarahan di dalamnya, kepedihan, kesedihan tidak ada lagi yang tersisa.

Dengan restu para leluhur dan atas izin Tuhan pemilik hati setiap manusia aku memanggil kepada hati yang ingin melawan
Kepada generasi bangsa yang punya
semangat para leluhur mari kita binasakan penjilat-penjilat bajingan itu.

Dari Jong Halmahera hingga Sanana babale mangada
Deng Taliabu mari Katong satu bawa nama dengan suara yang babunyi lawan, dari dara turun kalau pertahankan kobaran api semangat dari para kapita-kapita
Usir mereka dengan budaya dengan adat dengan bahasa yang terdengar di telinga-telinga mereka membuat gemetar hingga mereka ketakutan dan mati dalam keadaan
hina.

Di atas tanah para leluhur di negeri para raja-raja di bawa gunung Gamalama dengan
lantang suara ini dikumandangkan suara teriakan kaum perempuan yang ingin
melawan mengguncang hati para setan-setan berdasi.

Keparat-keparat yang gila dengan angka di atas kertas
Tanpa memikirkan mereka merusak tanah dan kebahagiaan bangsa Indonesia.

Bakar mereka dengan semangat Pancasila, perlakukan mereka dengan musyawarah,
pulangkan mereka dengan teriakan dari para kapita-kapita.


Editor : Arjun Benteng

Sumber Foto : Tribunnews.com

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *