Press "Enter" to skip to content

Tradisi Selo Guto Masyarakat Afa-Afa di Malam Lailatul Qadar

Warga Afa-afa yang berada di atas pegunungan Kie Marijang, Kepulauan Tidore, memiliki sebuah tradisi yang disebut dengan Selo Guto. Tradisi yang dilaksanakan setiap tiba malam Lailatul Qadar tersebut dianggap sakral dan sarat makna oleh warga setempat.

Selo Guto dilaksanakan dengan beberapa bahan atau perlengkapan yang disebut dengan ‘Pandanga’ sebagai syarat ritual tersebut, seperti pohon pisang, jagung, tebuh, tamo dan seho, yang dipersiapkan di dalam maupun di depan rumah. Tak hanya itu, Salai Jin juga diperagakan oleh beberapa pria di lingkaran beberapa tumbuhan yang dipasang.

Ismail Rongayang (60), warga Afa-afa mengatakan bahwa dahulu tradisi Selo Guto dilaksakan pada pagi hari diiringi dengan pukulam tifa dan salai jin. Tapi kini telah dilarang oleh pemerintah, sehingga kini Selo Guto dilaksanakan pada malam hari dan tidak lagi diiringi dengan pukulan tifa.

“Dulu itu orang bikin pagi-pagi, selesai sambayang subuh, itu dong su mulai bapukul tifa suda. Kamari ini pemerintah su larang kong tong di sini sama-sama baku bilang bikin di malam,” Ujarnya pada Kamis malam, (28/4/22).

Jufri Ismail, penulis buku ‘Mengenal Afa-afa Negeri Adat’, saat ditemui Mantra ia menjelaskan, Selo Guto adalah istilah dari bahasa lokal (tidore), selo artinya memotong dan Guto adalah memasang atau menanam. Maka Selo Guto adalah Ritual memotong tanaman yang dipasang atau ditanam, seperti pisang, jagung, seho, dan lain-lain.

Menurut Jufri, perlengkapan yang dibuat dalam sebuah rumah adat tersebut, merupakan sebuah pesan moral atau petunjuk yang diberikan oleh para leluhur.

“Kenapa harus dia punya perlengkapannya taruh di Fola Sou (rumah adat), memang itu dia punya pesan moral petunjuk yang memang itu jejak leluhurnya seperti itu, karena ada dia punya sisi nilai kebaikan disitu. Bahan-bahan seperti pisang, jagung dan lain-lain diambil dari hasil perkebunan masyarakat,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, Selo Guto adalah ritual yang sakral dan sarat makna. Selaku anak cucu yang memiliki kedudukan di dalam lingkaran Fola Sou harus menjalani tradisi tersebut.

“Dia punya syarat yang disampaikan oleh pemangku ruh itu, maka kita selaku anak cucu atau sekelompok setempat yang berkedudukan di dalam lingkungan Fola sou atau rumah adat, mau tidak mau harus menjalani itu. Menurut saya, ritual tersebut adalah sesuatu yang sakral dan mengandung makna kebaikan disitu, makna keseimbangan, makna kerja sama dan makna perlindungan, berdasarkan atas izin sang Maha Kuasa,” pungkasnya.

Liputan: Fadli Usman
Editor: Arjun

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *