Press "Enter" to skip to content

Wabah itu Berpuisi

Oleh: Rian Hidayat Husni

Saat keramaian dan kesunyian masih menjadi rutinitas kita, yang mustahil akan bermain di sekeliling kita. Ketidakpastian itu laksana puisi, yang digandrungi ambiguitas dan kompleksitas. Sekarang orang-orang patut berpuisi, menjalin kasih dengan wabah itu.

1919, Jauh ke belakang, bencana semacam ini membuat Thomas Thorner bertanya, “Flu, Have You?” puisi ini terbit di Calgary Herald, sebuah koran di Kanada. Reaksi Thorner disebabkan oleh pandemi flu Spanyol yang mewabah hampir di seluruh dunia saat itu (1918-1920). 500 juta orang terinfeksi, sementara statistik menunjukkan hampir 100 juta orang meninggal dunia—keadaan di mana siapa saja akan berandai tentang punahnya peradaban manusia di muka bumi. Lalu di 1934, dalam keadaan yang sangat ekologis, Millay memantapkan Epitaph For The Race Of Man sebagai reaksinya terhadap bencana perubahan iklim dunia paska PD II. Karya yang “memahat” hati kita—bahwa kematian manusia selalu disebabkan oleh tangannya sendiri.

Apakabar dunia hari ini. Sangat tampak bahwa orang-orang tengah mengarungi samudra depresi yang begitu kentara, dan barangkali mereka sedang berusaha melawannya. Gelombang absurditas seperti menohok nadi eksistensi kita. Seperti halnya ketakutan pada virus, saat ini, kematian adalah imajinasi sesaat—sebuah tindakan dogmatif yang timbul dari laporan statistik negara. Sementara di seberang pikiran, para sastrawan memuncakkan meditasinya menyusun diksi-diksi. Membentuk evidensi. Para sastrawan itu berusaha membunuh dunia yang dibangun oleh wabah dan mengalihkan perhatian manusia pada langit (moralitas yang diabstrakkan).

Bumi sedang sakit dan manusia mempertanyakan keadannya. 1947, lahirlah karya Camus berjudul Sampar (Prancis: La Peste) setelah L’Etranger (orang asing) yang diciptanya. Pendudukan Nazi di Prancis dan berpisah dengan kekasihnya, membikin penulis eksistensialis ini mentransformasi serangan senjata sebagai pemicu wabah ‘Sampar’ yang mengjangkiti Kota Oran, Aljazair. Diceritakan, wabah itu berasal dari baksil tikus. Di karya inilah pergulatan absurditas dan rasionalitas masif ditimbulkan. Semua orang menyadari, wabah telah memicu reaksi sains, agama, bahkan menjangkiti meja politik negara. 

Kabar bumi hari ini adalah pembagian bahan makanan dipertengkarkan di mana-mana. Negara hanya bisa mendamaikan kesemerawutan itu, tapi tidak menyubsidi moralitas kepada rakyatnya. Para pasien telah divonis menjadi virus seutuhnya. Media telah mengaitkan wabah sebagai dalang dalam pemberitaannya. Ada pemutusan kerja begitu marak. Sembari itu, ada ketidakpastian yang menjalar di mana-mana, kemana-mana. Kadang-kadang kita akan menyadari: bukankah kerugian ini adalah hal biasa, sebagaimana ketakutan-ketakutan yang bersembunyi di jiwa kita selama ini. Apa itu, “entah”. Kondisi seperti ini, bukan kenihilan bagi pendamba absurditas.

Bernard Rieux menyaksikan tubuh ribuan manusia berjatuhan di sepanjang jalan setelah sebelumnya ia melihat ribuan tikus yang mati terbengkalai di jalanan. Sebagai seorang dokter, ia hanya bisa mendiagnosa. Tapi kematian adalah penyakit semua manusia. Karena itu, yang paling ditakutkan orang-orang seperti Rambert adalah pernikahan yang gagal dan perpisahan yang indah dan manis, bukan kematian itu sendiri. Dan meski sang yesuit seperti Paneloux tetap mendamaikan yang abstrak dan yang fana selama wabah mengjangkiti kota mereka, Oran (Sampar, 1947). Yang percaya bahwa wabah adalah kutukan bagi penentang Tuhan.

Di medan yang sama, wabah ini mengulangi takdirnya yang sama. Keadaan yang sama. Juga memicu banyak hal yang sama—penderitaan, kesedihan, keterasingan, dan pengalaman kebatinan yang membuncah. Kota-kota yang mati akan menjadi fenomena kesunyian paling hakiki. Ada yang berharap wahyu Tuhan turun menyinari lorong-lorong gelap kota itu. Atau, sebongkah kearifan tak sekadar lewat di jiwa orang-orang tapi juga menetap untuk waktu yang lama. Wabah dan musim gugur sepertinya tak jauh berbeda. Keduanya, membenih dan menghadirkan kesyahduhan di setiap malam. Mengalirkan apa-apa yang tak dipahami.

Tapi kini bar dan diskotik itu telah diisi moralitas. Semenjak wabah mengepung kota, orang-orang saling berdamai, tentu setelah mereka memikirkan kematian. Virus masih mewabah, jumlah pasien terus membelalak mata kita, peningkatan yang signifikan itu telah membuat orang-orang kebal terhadap ancaman wabah. Sampai kapanpun, virus tidak akan menyerang jiwa seseorang yang paling dalam. Apalagi saat dirinya bermeditasi dan memungkiri kemungkinan-kemungkinan. Benarkah, hari ini, kita menerima wabah sebagai penghukuman atas kemanusiaan kita? (retoris!).

Banyak hal menjadi tanya, saban hari ini. Termasuk berharap secara totalitas tentang segala bentuk jalan keluar. Bayangan dunia setelah wabah menjadi penikmat tidur siapasaja, barangkali. Tapi seketika, orang-orang dapat menghukum penyakit ini dengan prasangka mereka, hal itu mula-mula datang dari kecemasan dan kebimbangan mereka. Kita bisa melihat emosi mereka di media sosial, jalan, dapur, kamar, dan TV.

Saat keramaian dan kesunyian masih menjadi rutinitas kita, yang mustahil akan bermain di sekeliling kita. Ketidakpastian itu laksana puisi, yang digandrungi ambiguitas dan kompleksitas. Sekarang orang-orang patut berpuisi, menjalin kasih dengan wabah itu.  

          

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *