Relevansi Spirit Soe Hok Gie: Menelanjangi Intelektual yang Kehilangan Integritas

LPM Mantra — Kita perlu menghadirkan kembali spirit Soe Hok Gie dengan berani mengoreksi kebijakan yang keliru, membuka ruang belajar, serta menempatkan kepentingan kolektif di atas ambisi pribadi.

Dengan landasan itu, intelektual tidak jatuh menjadi pencari popularitas atau tunduk pada nafsu sesaat. Ilmu harus dipahami sebagai amanah, bukan alat penindasan. Pengetahuan tidak sepantasnya dipakai untuk memanipulasi, merebut kuasa, atau mencampuri kelompok lain demi keuntungan pribadi.

Etika menjadi kompas yang menuntun setiap intelektual untuk mengabdi pada kebenaran dan keadilan. Seperti ungkapan penulis, aku tak akan membiarkan seseorang yang seenaknya membuka kran, seolah-olah itu masih dimiliki oleh dia.

Realitas yang terjadi justru menunjukkan ironi. Banyak intelektual lupa pada tanggung jawab utama mereka, yakni membimbing generasi muda bukan menghambat perkembangan mereka.

Seorang teman di FIB Unkhair menceritakan bagaimana kakaknya, yang sudah bukan mahasiswa aktif, terlalu jauh mencampuri urusan organisasi kampus. Campur tangan semacam itu hanya memperlambat kemajuan organisasi dan mengerdilkan ruang belajar mahasiswa.

Di sisi lain, ada pula kisah seorang kader yang terus diawasi bahkan dikejar alumni saat latihan, hingga dibombardir pesan pribadi yang bernada menggiring hubungan personal. Pengalaman semacam ini membuat banyak anggota muda takut dan enggan aktif.

Situasi itu mencerminkan potret suram ketika intelektual kehilangan arah dan gagal memahami makna tanggung jawab kolektif. Kemajuan organisasi semestinya menjadi ruang kolaborasi, bukan perebutan pengaruh. Karena itu, generasi muda harus diberi ruang penuh untuk tumbuh tanpa intervensi yang memberatkan.

Untuk mencegah praktik serupa terus berulang, organisasi mahasiswa membutuhkan mekanisme pengawasan yang transparan dan akuntabel. Aturan mengenai batasan keterlibatan alumni dan pihak luar harus dirumuskan dengan jelas, disosialisasikan secara terbuka, dan ditegakkan secara konsisten.

Tanpa itu, celah penyalahgunaan kekuasaan akan tetap terbuka. Di samping pengawasan, upgrading pengurus perlu dilakukan secara berkala melalui pelatihan kepemimpinan, workshop etika organisasi, dan pendampingan dari tokoh yang benar-benar layak dijadikan rujukan. Nilai moral harus ditanamkan sejak awal agar setiap anggota memiliki pedoman yang kuat dalam bertindak.

Upgrading pengurus menjadi langkah dasar untuk menyiapkan pemimpin organisasi yang memahami administrasi, teknis lapangan, hingga strategi dan taktik. Dalam proses ini, senior bisa memandu langsung, tetapi peran alumni sebaiknya dibatasi.

Alumni hanya dapat terlibat ketika diundang, bukan hadir dan mengatur sesuka hati. Prinsip ini penting agar ruang belajar tetap sehat dan tidak dikooptasi kepentingan di luar organisasi.

Penguatan karakter juga menjadi pilar utama bagi organisasi yang berintegritas. Diskusi rutin, kajian logika, etika, linguistik, seni, dan kesusastraan dapat membangun sudut pandang yang kritis dan peka.

Namun seluruh upaya ini tidak akan efektif tanpa lingkungan organisasi yang kondusif. Karena itu, kegiatan bina akrab diperlukan untuk membangun kedekatan ideologis, psikologis, dan sosiologis, sehingga anggota yang telah melalui proses training memiliki rasa kebersamaan yang kuat.

Penting pula mensosialisasikan isu-isu gender agar anggota memahami prinsip kesetaraan dan keadilan. Lelucon bernada seksual atau komentar merendahkan perempuan merupakan pelanggaran etika yang harus ditindak tegas. Celah inilah yang menjadi dasar evaluasi, sehingga anggota maupun senior yang melakukan pelanggaran dapat dikenai sanksi bahkan dilaporkan kepada pihak berwenang.

Setelah evaluasi dilakukan, organisasi perlu memastikan adanya mekanisme pencegahan yang berkelanjutan. AD ART harus dihidupkan kembali sebagai pedoman utama dalam membaca situasi organisasi.

Tanpa aturan dasar yang jelas, senior cenderung mengambil alih kendali dan memperlakukan organisasi sebagai milik pribadi. Dengan keberadaan pedoman yang tegas, organisasi dapat bergerak secara demokratis, transparan, dan sejalan dengan cita-cita intelektual yang diperjuangkan Soe Hok Gie.

 


Penullis: M. Ilham Almadani, Mahasiswa FIB Unkhair

Editor : Agung/ Pemred LPM Mantra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *