Terkadang rasa bingung terlintas melihat arah organisasi BEM Unkhair hari ini. Yang seharusnya menjadi pusat koordinasi dan perjuangan mahasiswa justru terasa semakin jauh dari mahasiswa itu sendiri.

Ia besar secara nama, tetapi kehilangan daya sentuh. Ramai dalam publikasi, tetapi minim terasa dalam kerja nyata.

Masalah UKT masih terus berulang. Mahasiswa masih dipusingkan dengan administrasi. Calon mahasiswa pun masih kebingungan menghadapi sistem kampus yang rumit.

Namun, yang lebih sering turun mengurus persoalan itu justru BEM-BEM fakultas. Kami yang mendengar langsung keluhan mahasiswa. Kami yang sibuk mencari solusi. Kami pula yang mondar-mandir menghadapi birokrasi kampus.

Sementara itu, BEM universitas seolah berdiri jauh dari semua persoalan tersebut.

Lalu muncul pertanyaan yang sampai sekarang belum benar-benar terjawab: apakah koordinasi di tubuh BEM Unkhair masih hidup atau tidak?

Lucunya, Menteri Dalam Negeri BEM Unkhair yang seharusnya menjadi penghubung antar-BEM fakultas justru banyak yang tidak mengenalnya. Keberadaannya pun nyaris tidak terasa.

Ini bukan soal personal, melainkan soal fungsi organisasi.

Bagaimana mungkin posisi yang bertugas mengoordinasikan BEM fakultas justru tidak terasa kehadirannya di tengah BEM fakultas itu sendiri?

Jujur saja, banyak dari kami lebih sering bergerak sendiri daripada merasa dikonsolidasikan oleh BEM universitas. Tidak ada komunikasi yang intens. Tidak ada arah gerakan bersama yang benar-benar terasa. Yang ada hanyalah hubungan formalitas yang hidup pada momentum tertentu, lalu menghilang kembali.

Kalau memang pejabat terkait sudah tidak aktif, sudah wisuda, atau memang tidak mampu menjalankan tugas, setidaknya harus ada reshuffle.

Sebab organisasi bukan tempat menyimpan nama dalam struktur kepengurusan. Jabatan harus hidup dalam kerja. Jika kursi masih diisi, tetapi fungsinya kosong, itu bukan kepengurusan, melainkan sekadar pajangan organisasi.

Yang paling disayangkan, keadaan seperti ini seolah dibiarkan terlalu lama. Tidak ada evaluasi yang benar-benar terasa. Tidak ada keberanian untuk membenahi internal organisasi sendiri. Padahal organisasi yang sehat bukan organisasi yang takut dikritik, melainkan organisasi yang berani memperbaiki dirinya.

Ironisnya, BEM Unkhair justru lebih cepat bersuara mengenai isu-isu di luar daerah dibanding menyelesaikan persoalan di Maluku Utara sendiri. Seolah lebih penting terlihat aktif di luar daripada hadir untuk mahasiswa dan masyarakat di daerah sendiri.

Padahal keberpihakan selalu dimulai dari yang paling dekat.

Apa gunanya sibuk berbicara soal perjuangan jika mahasiswa di kampus sendiri masih merasa berjalan sendirian?

Lalu mahasiswa mulai bertanya lagi: setelah menang, lalu mau berbuat apa?

Sebab kemenangan dalam politik kampus bukan akhir perjuangan. Jabatan bukan hadiah eksistensi, melainkan tanggung jawab. Namun hari ini, organisasi justru terlihat lebih sibuk menjaga citra aktif dibanding memperlihatkan hasil kerja yang benar-benar dirasakan mahasiswa.

Sedikit-sedikit flayer, sedikit-sedikit publikasi. Seolah organisasi hari ini hidup dari desain dan dokumentasi.

Padahal mahasiswa tidak membutuhkan organisasi yang hanya pandai terlihat aktif di media sosial. Mahasiswa membutuhkan organisasi yang benar-benar hadir ketika keadaan sedang sulit.

Yang lebih ironis, kepengurusan ini sudah berjalan sejak November 2024 dan kini hampir memasuki dua periode kepengurusan. Waktu selama itu seharusnya cukup untuk menunjukkan arah gerakan yang jelas. Namun sampai hari ini, mahasiswa masih sibuk mencari di mana sebenarnya fungsi perjuangan itu dijalankan.

Jangan sampai organisasi mahasiswa hanya menjadi ruang formalitas yang kehilangan keberanian. Jangan sampai demokrasi kampus hanya hidup saat pemilihan dan mati setelah kekuasaan berhasil didapatkan.

Sebab ketika jabatan hanya dipertahankan tanpa kerja, koordinasi hilang tanpa evaluasi, dan tanggung jawab mulai ditinggalkan, maka yang sebenarnya sedang runtuh bukan hanya organisasi. Melainkan juga kepercayaan mahasiswa terhadap demokrasi kampus itu sendiri.


Penulis: Rujia Amir (Pengurus BEM FIB Unkhair)

Editor: Redaksi LPM Mantra

Ilustrasi: LPM Mantra