Dalam upaya mendorong peningkatan produksi film dokumenter di Maluku Utara, Sanggar Tomahotu Tubo menyelenggarakan workshop produksi film dokumenter yang berlangsung di Resto Dahan Mas, Ternate Tengah, pada Minggu (3/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Gilang Akbar, M.I.Kom., sebagai narasumber yang memberikan arahan mengenai proses pembuatan film dokumenter kepada para peserta.
Menurut Gilang, workshop ini penting digelar karena melihat besarnya potensi budaya di Maluku Utara, khususnya jalur rempah yang ada di Kota Ternate.
“Karena potensi film terutama dalam jalur budaya di Ternate itu, yang orang kenal dengan jalur rempah kemudian itu sangat bagus budayanya.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selain Maluku Utara merupakan bagian dari jalur rempah, wilayah ini juga memiliki dua kesultanan dengan kekayaan sejarah yang luar biasa. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto itu mengungkapkan kekhawatirannya jika potensi tersebut tidak diketahui lagi oleh generasi muda.
“Karena ada dua kesultanan Ternate-Tidore yang punya sejarah panjang, ini jika tidak didokumentasikan terutama bagi anak muda salah satunya melalui film, bisa jadi mungkin ke depan orang nggak tau lagi,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Gilang juga menekankan bahwa membuat film dokumenter tidak sekaku film fiksi yang harus terstruktur secara berurutan. Dokumenter bisa dibuat dari sudut pandang yang berbeda, asalkan strukturnya jelas.
“Dokumenter adalah sesuatu yang tidak kaku seperti fiksi abcd, kita bisa melakukan dari A, kemudian C, ke E dan ke semua bisa asal strukturalnya jelas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa elemen terpenting dalam pembuatan film dokumenter adalah subjektivitas dari pembuat film itu sendiri.
“Poinnya yang paling utama adalah subjektifitas,” pungkasnya.
Penulis: Apdoni Tukang
Editor: Agoong
