FotoLPM MANTRA_Sanggar Tomahotu Tubo menyelenggarakan acara nonton bareng (nobar) serta diskusi film dokumenter yang berjudul Sisupu Wonge bersama masyarakat Tobu. Pemutaran perdana ini dilaksanakan di Bioskop Jatiland Mall, Kota Ternate, pada Senin (4/5/2026).
Acara ini turut dihadiri oleh produser film Sisupu Wonge, Siti Rodiah; sutradara Gilang Akbar; seniman Wonge-wonge, Aswad Minggu; serta talent Nurhalima Aswad. Mereka juga bertindak sebagai narasumber dalam sesi diskusi usai pemutaran.
Dalam sambutannya, Gilang Akbar menyampaikan bahwa pemutaran film dokumenter ini bertujuan tidak hanya untuk mengenalkan budaya Maluku Utara kepada generasi muda, tetapi juga untuk mengembalikan tradisi wonge-wonge kepada masyarakat Koya Ternate, khususnya warga Tubo. Ia menyebutnya sebagai “memulangkan Sisupu Wonge ke kampungnya.”

Gilang juga menjelaskan bahwa tradisi wonge-wonge merupakan tradisi yang kuat dan menjadi ciri khas Ternate. Ia yakin tradisi ini bisa menjadi salah satu identitas budaya yang sangat khas dari Ternate atau Maluku Utara.
Sementara itu, produser Siti Rodiah mengungkapkan bahwa pembuatan film ini bertujuan untuk ikut melestarikan budaya, serta menambah koleksi karya dokumentasi, khususnya tentang wonge-wonge, agar tidak punah seiring perkembangan zaman. Ia menambahkan bahwa di Kota Ternate sendiri, tradisi wonge-wonge sudah semakin jarang dilestarikan karena masyarakat mulai meninggalkannya akibat pengaruh modernisasi dan perubahan pola pikir yang lebih logis.
Rodiah berharap kepada generasi muda Maluku Utara agar dalam menghadapi perubahan zaman, mereka terus meningkatkan wawasan, memperluas jaringan, namun tetap menjaga kekayaan budaya di daerah masing-masing. “Kita harus punya wawasan yang luas, jaringan yang luas, tapi kita harus tetap memelihara kekayaan yang ada di daerah kita masing-masing,” tegasnya.
Selain itu, film yang dirilis pada tahun 2025 ini telah meraih dua penghargaan, yaitu Juara 3 kategori umum dalam Festival Dokumenter Budi Luhur 2025, serta masuk sebagai Official Selection 2025.

UKM Media-Jurnalistik
~ Ritual Bertutur Mahasiswa ~
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun
“Kebenaran tak bisa dibungkam dan Fakta adalah garis terakhir pertahanan”
