Pengawasan Predator Seksual
Simpanan (Idealisme) dan Moral: Menjawab Polemik Terkait Langkah BEM FIB Unkhair
“Ngoni Pe BEM Sobagimana Itu?” Sebuah Tanya untuk BEM FIB
Ketika BEM FIB Unkhair Merapat ke Kekuasaan, Siapa Membela Warga Lingkar Tambang?
Independensia Ciptakan Ruang Kritis Pemajuan Kebudayaan Melalui Lomba Esai
Komnas Perempuan Desak Unkhair Penuhi Hak Korban, Tekankan HK Disanksi Tegas
Peringati Hari HAM, FPUD Soroti Kasus Kriminalisasi Masyarakat Adat
Saya Dilecehkan saat Mengurus Surat Aktif Kuliah, Unkhair Justru Lindungi Pelaku
LPM Mantra—Dunia kampus semestinya menjadi ruang aman bagi perempuan. Sayangnya di Universitas Khairun ruang aman bagi mahasiswi seolah tak ada. Kasus kekerasan seksual terjadi berulang, tanpa ada penyelesaian yang pasti.
Kampus yang menjadi ruang mendidik calon sarjana dan pendidik masa depan harusnya menjadi ruang paling aman bagi perempuan untuk belajar, tumbuh, dan dihargai martabatnya. Namun di balik meja administrasi dan ruang akademik itu masih ada kasus kekerasan seksual. Salah satunya terjadi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unkhair.
Fakultas yang membina calon guru itu, tidak menjadi ruang aman bagi mahasiswi. Buktinya seorang mahasiswi justru mendapatkan pelecehan seksual dari staf Tata Usaha Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Senin, 24 November lalu sekitar 11.00 WIT, Nara (bukan nama sebenarnya red) mahasiswa PGSD FKIP memasuki ruang Tata Usaha. Saat masuk ia menemui salah satu pegawai TU berinisial HK untuk mengurusi surat keterangan aktif kuliah. Nara masuk dan menutup pintu program studi yang sedang terbuka, ia menyampaikan maksud kedatangan.
Baca Juga : JATAM Sebut Pencemaran di Subaim Bentuk Kejahatan Ekologi
Seketika pelaku HK merespon kedatangan Nara. HK lalu basa-basi menanyakan alamat orang tua dan menawarkan jika ada masalah Nara bisa bercerita padanya, meski Nara tak kenal dekat dengan HK.
Berselang beberapa menit, situasi berubah. HK yang juga pegawai TU itu melancarkan aksi bejatnya. Ia mengulur tangan, memegang bagian tubuh Nara.
“Dia sentuh lengan saya, terus bokong saya… lalu dia cium tangan saya. Saya freeze (terdiam),” ujar Nara dalam kesaksiannya kepada pendamping belum lama ini.
HK kemudian menarik Nara ke ruang Kepala Program Studi (Kaprodi) PGSD. Nara berpikir HK menariknya untuk keperluan administrasi yang sedang ia urus. Namun kenyataannya justru berbeda, HK makin melancarkan aksi bejatnya.
“Dia suruh saya cium pipinya. Baru saya sadar dan mundur,” kata pendamping menirukan pengakuan Nara kepada Mantra, 27 November lalu.


UKM Media-Jurnalistik
~ Ritual Bertutur Mahasiswa ~
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun
“Kebenaran tak bisa dibungkam dan Fakta adalah garis terakhir pertahanan”









