Belakangan ini perbedaan semakin sering diperlakukan seperti alasan untuk saling menjauh.
Sedikit berbeda pandangan langsung muncul penilaian. Cara berpikir yang tidak sama dianggap aneh. Pilihan yang berbeda dianggap salah.
Bahkan sebelum seseorang benar-benar dikenal, orang lain sudah lebih dulu “memberi cap” berdasarkan kehidupan sosialnya, cara berbicara, tongkrongan, atau pandangan yang dimilikinya.
Akhirnya banyak hubungan, baik secara personal maupun dalam ruang sosial, menjadi kaku hanya karena semua orang terlalu cepat menarik kesimpulan.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di media sosial tetapi juga masuk ke ranah sehari-hari. Dari ruang-ruang diskusi, pertemanan, sampai organisasi mahasiswa. Orang mulai lebih mudah membangun jarak daripada membangun percakapan.
Perbedaan yang seharusnya bisa menjadi ruang saling mengenal justru berubah menjadi alasan untuk saling curiga.
Tidak sedikit orang akhirnya memilih diam karena takut disalahpahami hanya karena memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan.
Padahal setiap orang tumbuh dari pengalaman hidup yang berbeda. Cara seseorang memandang sesuatu tentu dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan, dan apa yang pernah dialaminya.
Karena itu tidak mungkin semua orang memiliki cara berpikir yang sama. Namun yang sering terjadi hari ini, perbedaan justru dipaksa untuk masuk dalam satu ukuran yang seragam.
Ketika ada yang tidak sesuai dengan cara pandang kelompok tertentu, maka langsung dianggap salah atau tidak sejalan.
Dari sini stereotipe mulai tumbuh.
Orang tidak lagi dinilai dari isi pikirannya, tetapi dari label yang melekat padanya.
Ada yang dianggap terlalu idealis, terlalu keras, terlalu bebas, terlalu konservatif, bahkan terlalu berbeda hanya karena tidak mengikuti arus yang sama.
Akibatnya banyak orang lebih sibuk mempertahankan citra kelompoknya masing-masing daripada mencoba memahami sudut pandang orang lain.
Ruang untuk saling mendengar perlahan hilang karena semua orang merasa paling benar dengan versinya sendiri.
Hal seperti ini membuat banyak hubungan menjadi mudah retak.
Pertemanan renggang hanya karena berbeda pilihan. Diskusi berubah menjadi perdebatan yang melelahkan.
Orang-orang mulai berbicara bukan untuk memahami, tetapi untuk memenangkan argumen. Bahkan dalam banyak keadaan, seseorang bisa langsung dijauhi hanya karena memiliki pandangan yang berbeda terhadap satu persoalan.
Padahal belum tentu perbedaan itu lahir dari niat buruk. Bisa jadi hanya karena cara melihat persoalannya memang berbeda.
Di tengah situasi seperti ini, konvergensi menjadi penting untuk dipahami.
Konvergensi bukan berarti semua orang harus memiliki pikiran yang sama atau dipaksa untuk selalu sepakat.
Konvergensi adalah kesadaran bahwa di tengah banyaknya perbedaan, masih ada kemungkinan untuk saling memahami dan berjalan bersama. Sebab hidup tidak selalu tentang mencari siapa yang paling benar, tetapi juga tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menjatuhkan.
Konvergensi juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak selalu harus melahirkan permusuhan.
Seseorang tetap bisa berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Sebab kedewasaan bukan dilihat dari seberapa keras seseorang mempertahankan pendapatnya, tetapi dari seberapa mampu ia mendengar pandangan yang berbeda tanpa merasa terancam.
Dalam ruang organisasi mahasiswa, hal seperti ini sebenarnya sangat penting. Sebab organisasi selalu diisi oleh banyak kepala dengan cara berpikir yang berbeda.
Akan selalu ada perbedaan arah, cara bergerak, dan cara memandang persoalan.
Namun jika setiap perbedaan terus dibalas dengan ego dan saling menjatuhkan, maka organisasi hanya akan dipenuhi konflik yang tidak ada habisnya.
Energi habis untuk pertentangan internal, sementara tujuan bersama perlahan terlupakan.
Karena itu konvergensi tidak bisa dipahami hanya sebagai konsep, tetapi sebagai cara bersikap.
Sebuah kesediaan untuk membuka ruang dialog, mengurangi prasangka, dan berhenti melihat orang lain hanya dari label yang melekat padanya.
Sebab sering kali yang membuat manusia saling jauh bukan karena benar-benar berbeda, tetapi karena terlalu sibuk mempertahankan stereotipe dan gengsi masing-masing.
Pada akhirnya, hidup memang tidak akan pernah lepas dari perbedaan.
Akan selalu ada pandangan yang tidak sejalan, pilihan yang tidak sama, dan cara berpikir yang bertolak belakang.
Namun bukan berarti semua itu harus melahirkan perpecahan. Sebab manusia tidak hidup untuk menjadi seragam.
Yang dibutuhkan hanyalah kemampuan untuk saling memahami tanpa harus kehilangan diri sendiri. Dan mungkin, di tengah banyaknya perbedaan hari ini, konvergensi adalah salah satu cara agar manusia tetap bisa menemukan titik temu tanpa harus saling menghilangkan.
Penulis: M. Tamhier Tamrin
Editor: Redaksi LPM Mantra
Ilustrasi: Modifikasi Media Canva
UKM Media-Jurnalistik
~ Ritual Bertutur Mahasiswa ~
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun
“Kebenaran tak bisa dibungkam dan Fakta adalah garis terakhir pertahanan”
LPM Mantra_ Maluku Utara saat ini menjadi perhatian karena banyaknya usaha pertambangan yang beroperasi di…
Dua hari lalu, saat hujan deras mengguyur Ternate, saya berbincang panjang dengan seorang sahabat tentang…
Terkadang rasa bingung terlintas melihat arah organisasi BEM Unkhair hari ini. Yang seharusnya menjadi pusat…
LPM Mantra_ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun melaksanakan pemotongan hewan kurban dalam rangka Iduladha 1447…
LPM Mantra- Peringati hari lahir Program Studi PPKn Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas…
Ada sesuatu yang selalu ditakuti sang penguasa, yakni warganya yang mulai saling menemukan. Bukan sekadar…