LPM Mantra — Sore tadi, selepas makan siang, saya berbincang dengan sepupu saya yang baru saja menyelesaikan penelitian di salah satu sekolah di Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Penelitiannya berfokus pada penggunaan kamus online dalam meningkatkan kosakata siswa SMP. Dalam percakapan tersebut, ia membagikan banyak temuan menarik selama mengajar di kelas.
Salah satu hal yang mencolok adalah rendahnya minat siswa terhadap pelajaran bahasa Inggris. Ia mencontohkan pernyataan salah satu siswa saat diwawancarai:
“Saya tidak suka belajar bahasa Inggris karena susah.”
Tidak hanya itu, banyak siswa yang tidak serius saat pelajaran berlangsung, bahkan lebih memilih bermain di kelas. Mirisnya, dari seluruh siswa, hanya satu atau dua orang yang memiliki kamus bahasa Inggris. Selama satu bulan mengajar, sepupu saya menemukan bahwa siswa tidak menunjukkan antusiasme dalam belajar, dan hal serupa juga tampak dari guru yang mengajar di sana.
Sekolah tempat penelitian ini merupakan sekolah negeri dengan siswa dari beragam latar belakang. Namun, kemampuan dasar bahasa Inggris mereka sangat rendah. Banyak siswa bahkan tidak bisa melafalkan kosakata dasar, padahal mereka sudah duduk di kelas dua SMP.
Fakta ini menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Inggris di daerah pedalaman belum memberikan dampak signifikan bagi siswa. Hal ini bukan persoalan baru. Salah satu penyebab utamanya adalah metode pengajaran yang kurang efektif. Guru di sekolah tersebut, misalnya, masih menggunakan metode ceramah yang monoton, tanpa pendekatan yang melibatkan siswa secara aktif.
Saya berpendapat bahwa dalam belajar bahasa Inggris, hafalan memang penting sebagai langkah awal untuk mengingat kosakata. Namun, tentu saja banyak metode lain yang bisa digunakan agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, seperti penggunaan media visual, permainan edukatif, atau pembelajaran berbasis proyek.
Permasalahan Utama: “Saya Tidak Suka Bahasa Inggris”
Pernyataan siswa “Saya tidak suka belajar bahasa Inggris karena susah” mencerminkan dua permasalahan utama: rendahnya minat dan persepsi negatif terhadap bahasa Inggris. Frasa “saya tidak suka” menjadi indikator lemahnya ketertarikan siswa. Jika siswa merasa pelajaran itu sulit dan tidak menarik, maka wajar jika mereka tidak menunjukkan semangat belajar.
Permasalahan ini belum banyak dijawab oleh guru-guru di daerah 3T. Siswa tidak menemukan hal menarik dalam pembelajaran, dan guru pun belum berhasil menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Padahal, secara umum, jika suatu pembelajaran mampu menarik perhatian siswa, maka mereka akan lebih mudah memahami materi, meski sulit sekalipun.
Selain itu, siswa juga belum memahami pentingnya bahasa Inggris dalam kehidupan mereka. Hal ini seharusnya bisa disampaikan oleh guru sejak awal. Saya sendiri baru menyadari pentingnya bahasa Inggris saat kuliah. Ketika itu saya melihat banyak teman saya yang mendapat kesempatan kuliah ke luar negeri, memiliki jaringan pertemanan internasional, dan mengakses referensi global berkat kemampuan berbahasa Inggris.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan, khususnya bagi pengambil kebijakan dan pendidik di daerah 3T. Pembelajaran bahasa Inggris harus dikemas secara menarik dan relevan dengan kebutuhan siswa. Lebih dari sekadar menghafal kosakata, siswa perlu memahami manfaat jangka panjang dari kemampuan berbahasa Inggris.
Sudah saatnya kita mencari dan menerapkan metode pengajaran yang lebih efektif, inovatif, dan berpusat pada siswa, agar mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menikmati proses belajar itu sendiri.
Penulis: Apdoni Tukang
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…