Ilustrasi. Sumber/Pinteres
LPM Mantra- Nana adalah anak sulung dari empat bersaudara. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah seperti teman-temannya. Ia ingin segera bekerja karena mendengar dari tantenya bahwa lebih baik langsung bekerja daripada kuliah yang hanya membuang-buang uang orang tua. Selain itu, Nana juga ingin mewujudkan impiannya membeli barang-barang yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan.
Suatu malam, ketika sedang menonton televisi di ruang keluarga, tiba-tiba Ayahnya berkata, “Nana, tadi ada seorang teman Ayah bilang di kantornya sedang mencari karyawan baru.” Ayah menatap wajah Nana yang langsung terlihat tertarik. Dengan penuh rasa penasaran, Nana mulai bertanya, “Di mana, Yah? Gajinya kira-kira berapa?” Pertanyaan itu keluar karena alasan sederhana ia ingin bekerja agar bisa membeli sesuatu sesuai keinginannya.
Ayah menjawab tenang, “Kalau masalah gaji, jangan khawatir. Pekerjaan ini setiap kali menagih ke peminjam ada saja tips yang didapat.” Mendengar itu, Nana mulai mempertimbangkan dengan serius tawaran tersebut. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia mengangguk, “Ya sudah, Yah. Nana mau bekerja di situ.” Ayahnya pun berkata, “Kalau begitu, mari kita langsung menemui manajernya sekarang.”
Nana dan ayahnya segera bergegas ke tempat kerja tersebut. Sesampainya di sana, mereka dipersilakan masuk dan bertemu dengan manajer yang menjelaskan panjang lebar tentang cara kerja di sana. Setelah mendengar penjelasan itu, manajer menatap Nana dan bertanya, “Adek yakin bisa menjalani pekerjaan ini?” Pertanyaan itu membuat Nana hanya tersenyum dan melihat ke arah ayahnya, lalu mengangguk mengiyakan.
Manajer pun memberikan formulir untuk diisi. Namun, ketika sampai rumah, Nana duduk termenung memandangi formulir itu. Kekhawatiran dan rasa takut mulai mengisi pikirannya. Ia menimbang-nimbang pekerjaan yang akan dijalani dan perlahan rasa takut itu berubah menjadi air mata yang mengalir deras. Nana merasa ingin menolak dan mengatakan bahwa ia tidak bisa mengambil pekerjaan itu.
Setelah berdiam diri dan berulang kali bergulat dengan perasaannya di kamar, akhirnya Nana sadar bahwa menyimpan ketakutan itu sendirian tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan langkah berat, ia keluar kamar dan menuju dapur. Dengan suara bergetar, ia berkata kepada ibunya, “Bu, aku nggak bisa bekerja di situ… Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba merasa takut seperti ini.”
Ibunya memandang Nana dengan lembut dan berkata, “Ya sudah, kalau memang begitu, nanti mama yang akan bilang ke papa, ya.”
Nana merasa lega setelah berbicara dengan ibunya. Namun, hatinya masih penuh kegelisahan. Malam itu, ia tidak bisa tidur nyenyak, bayangan pekerjaan yang harus dihadapinya terus berputar dalam pikirannya. Ia khawatir, apakah ia benar-benar mampu menjalani tugas yang menantinya? Atau apakah ketakutan adalah suara hatinya yang mencoba memperingatkan sesuatu?
Keesokan paginya, Nana tetap membantu ibu menyiapkan sarapan sambil terus menimbang-nimbang keberanian dan keputusannya. Tidak lama, ayah pulang dan Nana pun memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Yah, aku sudah berpikir dengan matang tentang pekerjaan itu,” kata Nana dengan suara pelan. “Aku takut, aku belum siap. Aku khawatir akan sesuatu yang aku belum tahu.”
Ayah menatap Nana dengan penuh pengertian, kemudian mengangguk pelan. “Nak, Papa bangga kamu bisa jujur dan mengungkapkan perasaan kamu. Kerja itu penting, tapi jangan sampai membuat kamu merasa tidak nyaman atau tertekan.”
Ia memeluk Nana erat. “Kalau kamu membutuhkan waktu untuk mencari yang lebih cocok, Ayah dan Ibu selalu mendukung kamu. Yang penting, kamu jangan ragu untuk berbicara dan tidak takut menghadapi ketakutan.”
Nana tersenyum kecil, merasa beban di hati mulai berkurang. Ia tahu bahwa memilih jalan hidup memang tidak mudah, namun dengan dukungan keluarga, ia yakin bisa melangkah perlahan menuju masa depannya.
Hari itu, Nana memutuskan untuk beristirahat dari rencana bekerja sementara waktu, memberi ruang untuk dirinya mengenal lebih baik apa yang benar-benar ia inginkan dan mampu jalani.
Penulis : Cinnamon/Magang
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…