Sastra

Eksistensi Ekuilibrium: Puisi-Puisi Wahyu Setiyawan

Akedemisi Horizon 

Pemaparan luar biasa
Polanya mencakar-kacar kedunguan
Sang durjana tetap saja senyum dan sombong

Sang ahli di atas rata-rata,
Ajarkan kami lari kencang mengejar mimpi
Dengan klasifikasi segudang risalah ilmu
Segenap kode etik kehidupan

Elang terbang menggapai cakrawala langit,
Manusia melompat lebih tinggi
Kiambang tetap berada dalam nuansa damainya
Semua harmoni, begitupun yang kami inginkan dalam segala bidang

Menguasai ekonomi global
Memperbaiki sistem kenegaraan yang amburadul
Memberi makan anak-anak bangsa yang hidupnya susah

Distraksi Diskriminasi 

Kepada elit-elit yang ingin dihormati,
Yang aktifitasnya sangat konsumsif
Kecerobohan tergenang pekat di rimbanya
Tanpa merasa telah mendiskriminasi

Antek asing tersenyum
Mengamati lisensi-lisensi milik durjana itu
Mengungkit bara di lapisan masyarakat

Isu-isu digulingkan
Menyebar ke sumbu-sumbu media
Orang baik jadi sasaran gunjingan

Fragmen kenangan terbang ke angkasa
Lalu jatuh ke hamparan semak,
Ditemukan petani-petani yang pulang dari sawah
Dan mereka berkumpul dengan keluarganya menonton layar konspirasi politik

Elektrik Asa/172 VOLT

Prahara nian parah,
Angin bergolak dengan ledakan kencang,
Mobil-mobil kejahatan terbakar dalam panasnya nuansa
Perjuangan penuh dengan aliran peluh

Semangat berkobar bagai elektrik 172 Volt
Dengan sebingkai karya yang indah
Membungkam suara-suara yang menyakitkan
Dari orang-orang malas, yang bingung dan aneh di sudut dunia

Dalam diriku,
Terukirlah lebih baik,
Bertahan dalam lika-liku kehidupan
Pegas, deru rasa dan asa bersatu

Duka perlahan hilang …
kemelut sirna

Derasnya sisi romansa kuatkan segalanya,
Terbitkan energi positif dalam jiwa
Kutambah kecepatan kakiku di antara jejak-jejak
Semakin cepat … dan kuraih bintang kemenangan

Impian yang Tertunda 

Himpunan harapan,
“Dalam penantian yang panjang,
telah kulakukan jalan terbaik,
kemanakah kalian berpijar”

Wahai asa,
Bukalah topengmu
Peluklah jiwaku
Terbanglah ke sisi langit

Pastinya waktu akan berjalan semestinya
Ajarkanlah aku arti perjuangan
Kiranya waktu akan terisi semestinya
Berilah aku secercah keberhasilan

(Penyesalan yang belum kurelakan)
(Rencana yang belum terealisasikan)

Analisis simpulnya,
Sesuatu yang tertunda,
akan berbunga pada saat tiba waktunya.

 

Serpihan Kasih yang Hilang 

Pertemuan semalam,
biarlah tak mengembang jauh

Permohonanmu sudah tak berarti apa-apa
Serpihan kaca telah tiada daya
Tak bisa kubina cerita lama

Dahulu kusalah menilai dirimu
Keserahakan telah jadikan kau pengoleksi rindu
Hingga tasik surut, kau masih berkelana

Naluri nurani tunjukkan pilihanku
Untuk kehidupan ini hingga akhir waktu


Karya: Wahyu Setiyawan

Editor: Apdoni Tukang

 

Share
Published by
LPM Mantra

Recent Posts

BEM FIB UNKHAIR Buka Posko Pengaduan Mahasiswa Baru

LPM Mantra – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) membuka…

11 jam ago

Sarasehan Kebudayaan Dorong Tubo Jadi Kampung Tua

LPM Mantra—Upaya memperkuat identitas sebagai Kampung Tua di Kota Ternate didorong melalui kegiatan sarasehan kebudayaan.…

3 hari ago

PKM FIB Unkhair Latih Warga Gamlamo Produksi Spray Anti Nyamuk Berbahan Pala

Dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema…

3 minggu ago

KKJ Maluku Utara Resmi Dideklarasikan, Perkuat Perlindungan Jurnalis dari Ancaman dan Kekerasan

LPM Mantra—Upaya memperkuat perlindungan terhadap jurnalis di Maluku Utara Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Maluku Utara…

3 minggu ago

Tamhier Terpilih Pimpin BEM FIB Unkhair

LPM Mantra - Komisi Pemilihan Fakultas (KPMF) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun sukses melaksanakan…

4 minggu ago

Mahasiswa Ternate Menggugat : Berikan Kartu Merah untuk Pemerintah

LPM Mantra – Gelombang protes mahasiswa terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto dan kondisi ekonomi nasional…

1 bulan ago