Suararasa

Devaluasi Perlawanan Dan Kegagalan Structural Kesetaraan Gender

LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang bermula sebagai mobilisasi masa radikal  melawan ekploitasi, kini telah mengalami netralisasi ideologis oleh pasar. Fenomena ini bukan sekedar pergeseran budaya, melainkan sebuah Devaluasi perlawanan. Di mana esensi perjuangan kelas dan gender diluluhkan menjadi narasi-narasi kosmetik yang aman bagi status quo.

Untuk menelanjangi kedangkalan IWD hari ini, kita harus membongkar narasi yang telah disterilkan dari akar historis yang politis. Kita tidak sedang membicarakan evaluasi gerakan, melainkan amnesia Sejarah yang disengaja. Di awal abad ke-20, IWD tidak lahir dari keramah-tamahan ruang korporasi, melainkan dari amuk massa di jalanan dan pengapnya pabrik tekstil. Pada 1980, 15.000 perempuan di New York berbaris bukan untuk menuntut afirmasi estetis atau diskon belanja, melainkan untuk menyerang jantung kapitalisme, mereka menuntut pengurangan jam kerja, upah layak, dan kedaulatan potik melalui hak suara.

Clara Zetkin, seorang aktivis sosialis radikal dan pengorganisiran buruh yang gigih, meresmikan IWD pada konferensi Perempuan sosialis interasional 1910 bukan sebagai ajang selebrasi, melainkan sebagai bentuk instrumen penggalangan kekuatan proletar global. Sebagai seorang aktivis yang mengdedikasikan hidupnya di garis depan massa, Zetkin memandang hak politik hanyalah senjata untuk meruntuhkan struktur ekonomi yang menghisap Perempuan secara ganda. Kontras yang menyakitkan terjadi hari ini. IWD telah dibajak oleh berbagai actor korporasi yang secara sistemik masih melanggengkan kesenjangan upah (gender pay gap) dan mengabaikan hak  reproduksi, sembari menggunakan wajah Perempuan sebagai tameng branding dan pinkwashing.

Kegagalan kesetaraan gender saat ini berakar pada ketakutan sistem untuk menyentuh persoalan beban ganda ( Double Burden). Jika buruh Perempuan abad lalu menuntut hak untuk diakui sebagai subjek politik yang utuh, Sistem hari ini justru mengekploitasi peran ganda Perempuan dengan bungkus “pemberdayaan” Perempuan dipaksa menjalankan “shift kedua” dalam bentuk kerja perawatan ( care work) tak berbayar yang tidak pernah dihitung dalam ekonomi formal. Negara dan sektor privat tetap membiarkan pengasuhan serta domestikiasi menjadi beban individual Perempuan. Tanpa jaminan infastruktur publik yang radikal. Seperti layanan penitipan anak kolektif yang pernah diperjuangkan gerakan Perempuan sosialis retrorika “Perempuan berdaya” hanyalah jebakan yang memaksa Perempuan beradaptasi dalam sistem yang sejak awal memang dirancang untuk mengeksklusi mereka.

Perjuangan hak politik masa kini sering kali tergradasi menjadi sekedar angka formalisme gender. Kehadiran Perempuan di pucuk kekuasaan menjadi tidak berarti jika tidak dibarengi dengan perubahan kebijakan yang melindungi mereka yang berada di  baris proletar. Kita masih menyaksikan kegagalan intitusional dalam menangani kekerasan seksual, di mana prosedur formalitas seringkali lebih berfokus sanitasi nama baik Lembaga ketimbang pemulihan penyintas. Mengembalikan radikalitas IWD berarti mengembalikan hakikatnya sebagai hari perlawanan, bukan hari perdamian dengan sistem menindas. Kita harus menolak segala bentuk perayaan yang berusaha menumpulkan ketajaman tuntutan Perempuan. Kesetaraan sejati menuntut penghancuran total terhadap struktur ekonomi dan sosial yang menepatkan perempuan sebagai kelas subordinat.

Jika IWD tidak mampu menggetarkan kenyamanan mereka yang memegang otoritas, maka kita hanya sedang melakukan simulasi kepatuhan, yang dibungkus dengan estetika perlawanan.Jangan biarkan kemarahan kita diredam oleh seremonial yang dirancang untuk menenangkan Nurani kolektif. Selama kebijakan masih berpihak pada akumulasi modal dan abai terhadap kedaulatan tubuh serta waktu Perempuan, maka IWD tetaplah sebuah utang Sejarah yang belum lunas. Berhentilah merayakan formalitas, dan mulailah menuntut keadilan yang fundamental. Karena tanpa perlawanan yang menyentuh akar persoalan, pembebasan hanyalah sebuah kata tanpa makna di atas kertas yang dibakar habis oleh realita.

 


Penulis: Amertha

Editor: Agung/ Ketua Umum LPM Mantra

Recent Posts

Dodengo: Seni Beladiri Suku Gamkonora Halmahera Barat

LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…

4 minggu ago

Lewat Sekolah Relawan, Anak Muda Sagea Perkuat Peran Jaga Lingkungan

LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…

4 minggu ago

9 Tahun Berkarya, LPM Mantra Galar Bukber Alumni

LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…

1 bulan ago

Aksi IWD FPUD: Suara Perempuan, Suara Kelas Tertindas

LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…

1 bulan ago

Eksistensi Ekuilibrium: Puisi-Puisi Wahyu Setiyawan

Akedemisi Horizon  Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…

1 bulan ago

AJI Dorong Media Kawal Aksi Koalisi Save Sagea

LPMMantra—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate mendorong media berpihak pada kepentingan publik dan mengawal aksi warga…

2 bulan ago