Opini

Dialektika dan Hilangnya Aktivitas Berdialektika

Dialektika dalam forum ilmiah adalah “makanan” paling segar yang dikonsumsi oleh kaum pelajar maupun kaum intelektual.

Dialektika merupakan suatu konstruksi berpikir kritis yang dituangkan melalui argumentasi dan diterapkan dalam forum ilmiah. Dalam hal ini, dialektika sering digunakan dalam diskusi bahkan perdebatan, dengan tujuan mencari kebenaran melalui argumentasi yang saling bertentangan.

Karena itu, dialektika menjadi sarana untuk melahirkan cara pandang baru atau menguji teori-teori yang telah menjadi pemahaman umum dan perlu diuji kembali kebenarannya. Dari sinilah dialektika perlu dirawat, bahkan dijadikan sebagai budaya.

Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah dialektika sudah tidak lagi diperhatikan oleh kaum intelektual. Kaum intelektual kini disibukkan oleh agenda-agenda seremonial yang justru merugikan individu maupun kelompok.

Akar dari hilangnya aktivitas berdialektika adalah mulai memudarnya kesadaran akan pentingnya dialektika itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih mempraktikkan aktivitas-aktivitas yang tidak menguntungkan bagi individu maupun kelompok, dan terus dijalankan oleh kaum intelektual atau pelajar. Akibatnya, mereka lupa bahwa berdialektika adalah hal yang perlu diterapkan agar kaum intelektual maupun pelajar mampu melahirkan ilmu pengetahuan baru, bahkan melakukan tindakan yang dapat mengubah pola pikir masyarakat.

Mengapa penting bagi pelajar dan kaum intelektual untuk tetap menjalankan aktivitas berdialektika? Karena dua kelompok sosial inilah yang memiliki kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan yang menjadi indikator kemunduran masyarakat saat ini, akibat hegemoni yang merugikan kelompok masyarakat tersebut.

Di sisi lain, kita tidak bisa melupakan bahwa asal mula munculnya istilah dialektika berasal dari dunia pendidikan, khususnya pendidikan pada masa Yunani Kuno sekitar 2.500 tahun lalu. Pada masa itu, pendidikan bertujuan melahirkan pandangan-pandangan yang kritis dan produktif, bahkan menguji ilmu pengetahuan baru untuk memastikan kebenarannya.

Namun, jika kita melihat kondisi saat ini, justru dunia pendidikan ikut menjadi penyebab hilangnya aktivitas berdialektika. Hal ini terjadi karena pendidikan sekarang tidak lagi berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan hanya diarahkan untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan agar dapat dijual di dunia kerja, yang pada akhirnya hanya melahirkan tenaga kerja murah.

Akibat hilangnya orientasi pendidikan yang sesungguhnya, para pelajar bahkan kaum intelektual sudah jarang mengadakan forum-forum ilmiah untuk berdialektika. Mereka lebih mementingkan agenda-agenda seremonial dan aktivitas yang tidak membangun konstruksi berpikir kritis.

Contoh yang sering kita lihat saat ini adalah pelajar maupun kaum intelektual, baik di jenjang sekolah maupun perguruan tinggi, hanya berfokus pada nilai rapor yang bagus atau IPK yang tinggi. Namun, di balik tingginya nilai dan IPK tersebut, terdapat rasa takut terhadap perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan oleh hilangnya sikap kritis dalam lingkungan sekolah maupun kampus, yang pada akhirnya juga menyebabkan aktivitas berdialektika semakin menghilang.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pelajar atau kaum intelektual saat ini, karena kondisi tersebut merupakan akibat dari sistem pendidikan yang telah kehilangan orientasi pendidikan yang sesungguhnya.

Hilangnya orientasi pendidikan inilah yang menyebabkan pelajar maupun kaum intelektual tidak lagi mengutamakan tujuan pendidikan sebagai sarana untuk mengasah pola pikir yang kritis dan produktif. Sebaliknya, mereka hanya berfokus pada nilai rapor yang bagus atau IPK yang tinggi. Padahal, di balik dua hal tersebut terdapat ketidak-kritisan dalam proses berpikir dan ketidakaktifan dalam berdialektika.

Sebagai penegasan, negara ini berdiri melalui proses dialektika yang panjang, yang dilakukan oleh para pendiri bangsa. Maka, sebagai masyarakat pelajar maupun masyarakat intelektual, kita jangan pernah menghilangkan budaya berdialektika.

Sebab, berdialektika adalah bagian dari budaya ilmiah yang mampu membentuk cara berpikir kritis dalam diri kita.


Penulis: Jhuan Jalalai, Mahasiswa Teknik Pertambangan UMMU

Editor: Agung

Recent Posts

Dodengo: Seni Beladiri Suku Gamkonora Halmahera Barat

LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…

1 bulan ago

Lewat Sekolah Relawan, Anak Muda Sagea Perkuat Peran Jaga Lingkungan

LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…

1 bulan ago

9 Tahun Berkarya, LPM Mantra Galar Bukber Alumni

LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…

2 bulan ago

Aksi IWD FPUD: Suara Perempuan, Suara Kelas Tertindas

LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…

2 bulan ago

Eksistensi Ekuilibrium: Puisi-Puisi Wahyu Setiyawan

Akedemisi Horizon  Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…

2 bulan ago

Devaluasi Perlawanan Dan Kegagalan Structural Kesetaraan Gender

LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…

2 bulan ago