LPM Mantra—Manusia adalah mahluk yang tercipta dari saripati tanah telah dijelaskan dalam berbagai kitab. Secara alamiah manusia berkembang dan menjadi dewasa. Namun, bagaimana cara manusia dapat membesarkan secara fisik. Kita ketahui bahwa dalam berbagai penelitian telah membongkar rahasia tentang entitas penyusun alam semesta. Entitas yang kita sebut sebagai Atom.
Atom adalah partikel terkecil yang menyusun alam semesta ini. Tetapi, apakah entitas itu dapat membesarkan sehingga manusia juga ikut membesar secara biologis. Ilmuwan telah menjawab hal tersebut bahwasanya atom dapat membelah para peneliti menyebut “fisi nuklir”. Fisi nuklir adalah pembelahan inti atom dengan cara melepaskan energi. Atom kemudian berbagi energi dan neutron. Sehingga bagaimana manusia dapat membesar secara biologis.
Jadi, kita sebenarnya tidak pernah mengetahui kerja-kerja atom karena atom digerakkan oleh entitas lain. Ilmuwan bahkan tidak dapat menjawab masalah tersebut. Manusia dan benda-benda di alam semesta tersusun atas pertikel-partikel atom. Dalam hal ini Indra juga tersusun atas partikel atom dan atom mempunyai entitas yang menggerakkannya lalu, manusia melihat atom menggunakan mata (penglihatan) dengan bantuan mikroskop canggih. Sedangkan bola mata tersusun atas atom-atom lalu penglihatan adalah hasil kerja atom atau mungkin hal kerja dari entitas yang memerintah atom? Kita simak dalam kerja kerja indra manusia.
Indra adalah adalah salah satu rahmat yang diberikan kepada Allah SWT kepada manusia untuk mencari kebenaran tentang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berkembang karena manusia dilengkapi dengan kelima panca indra yaitu mata, telinga, kuliat, hidung dan lidah. Mata membantu manusia dalam melihat alam dan merumuskan penciptaan alam, bgitu juga dengan telinga, telinga adalah salah satu panca indra yang digunakan manusia untuk mendengarkan pengalaman pengalaman orang lain sehingga terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, seterusnya pada kulit dan lidah. Mereka semua punya kerjanya masing-masing pada bidang kerja indra. Apakah sudah kalian pikirkan dari penjelasan di atas dengan judul yang saya sebutkan? jika belum mari kita gambling.
Mata adalah pintu syukur, dengan mata manusia melihat secara nyata proses terjadinya kerja-kerja alam, mata mempunyai bidang kerjanya yang sangat absurd, mata bisa menipu kita dangan hanya mengandalkan penglihatan. Jika manusia sebenarnya bisa benar-benar melihat lalu bagaimana jika kita melihat pada perspektif atomik partikel penyusun mata. Mata tidak pernah melihat dan mengenal warna sehingga dia menyimpan berjuta warna yang ada di dalamnya lalu yang menyimpan berjuta warna itu adalah atom jadi atom mempunyai kesadaran penuh dalam mengontrol penglihatan manusia yang jadi masalahnya, siapakah yang mempunyai penglihatan dan kesadaran? Manusia hanya benda mati yang digerakkan dan diperintah oleh kesadaran lain. Lalu apakah manusia itu sejatinya tidak pernah melihat? Iya, sebenarnya manusia tidak pernah melihat segala sesuatu yang melihat hal tersebut ialah atom dan kesadarannya yang menyimpan berjuta-juta warna sehingga manusia mengenal dan melihat segala sesuatu dari pandangan atom yang disalin lewat alat pengontrol yaitu otak.
Telinga adalah salah satu panca indera yang sangat penting dalam kehidupan karena manusia belajar paling banyak dengan mendengarkan dan merefleksi lewat tingkah laku yang dilakukan terus-menerus. Namun, apakah suara itu sebenarnya ada? Suara hanyalah getaran mekanis yang merambat melalui medium seperti udara atau air. Getaran itu ditangkap oleh gendang telinga yang juga tersusun dari atom-atom, lalu diteruskan ke saraf pendengaran yang juga merupakan kumpulan atom. Di sini pun, kita menemukan paradoks yang sama: telinga sendiri tidak “mendengar”. Atom-atom penyusun sel-sel rambut koklea dan saraf pendengaran hanya bergerak sesuai dengan hukum fisika. Lalu, siapa yang sebenarnya “mendengar” dan memberi makna pada getaran itu? Apakah kesadaran itu berasal dari atom itu sendiri, atau ada entitas di luar atom yang menterjemahkan getaran menjadi suara, nada, emosi, dan makna?
Begitu pula dengan kulit, indra peraba yang memberikan kita sensasi panas, dingin, lembut, kasar, dan nyeri. Kulit tersusun dari lapisan-lapisan sel yang masing-masing terdiri dari miliaran atom. Saat kita menyentuh sesuatu, yang terjadi adalah interaksi elektromagnetik antara atom-atom kulit kita dengan atom-atom benda yang disentuh. Tidak ada “rasa” dalam arti sejati pada level atomik yang ada hanya pertukaran energi dan sinyal listrik. Sinyal ini kemudian diantarkan ke otak, yang juga merupakan jaringan atom yang sangat kompleks. Jika seluruh sistem ini hanya materi yang bergerak secara deterministik, lalu dari manakah datangnya pengalaman subjektif seperti “nikmat”, “sakit”, atau “hangat”? Apakah atom-atom itu sendiri yang merasakan, atau ada “diri” di balik atom yang sedang mengalami?
Hidung dan lidah pun tak berbeda. Bau dan rasa adalah hasil dari interaksi molekul dengan reseptor kimiawi yang tersusun dari atom. Namun, aroma kopi yang harum atau pahitnya buah pare bukanlah sifat molekul itu sendiri, melainkan interpretasi dari suatu kesadaran. Atom-atom di reseptor hidung dan lidah hanya menerima dan mengirim sinyal. Mereka tidak memiliki konsep “harum” atau “pahit”. Lalu, siapa yang menikmati bau dan rasa? Apakah kita hanya robot biologis yang diprogram untuk merespons stimulus kimiawi, atau ada “penikmat” sejati di balik semua mekanisme material ini?
Jika kita tarik benang merah dari kelima indra, kita sampai pada pertanyaan mendasar: Apakah manusia hanya sekumpulan atom yang bergerak otomatis? Ilmu pengetahuan modern mampu mendeskripsikan proses material dari penginderaan dengan sangat detail, namun gagal menjawab mengapa semua proses material ini disertai dengan pengalaman subjektif mengapa ada “aku” yang melihat, mendengar, dan merasakan.
Dalam perspektif atomik, manusia memang tampak seperti mesin yang sangat rumit yang dijalankan oleh hukum fisika dan kimia. Namun, mesin tidak memiliki kesadaran. Mesin tidak bertanya tentang dirinya sendiri. Fakta bahwa kita bisa mempertanyakan hakikat penglihatan, pendengaran, dan keberadaan kita sendiri justru menunjukkan bahwa ada sesuatu di luar atau di dalam susunan atom yang memberi kita kesadaran.
Beberapa filsuf dan mistikus menyebut ini sebagai jiwa, roh, atau kesadaran murni. Dalam banyak tradisi spiritual, termasuk dalam Islam yang disinggung penulis, indra bukanlah sumber kesadaran, tetapi alat kesadaran. Mata bukanlah yang melihat, tetapi alat bagi sang diri untuk melihat. Telinga bukanlah yang mendengar, tetapi alat bagi sang diri untuk mendengar. Atom-atom adalah bahan dasar alat-alat tersebut, tetapi yang menggerakkan dan memberi makna adalah entitas non-material yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh mikroskop.
Persoalan ini membawa kita pada kontemplasi tentang “keteraturan yang cerdas”. Atom-atom di dalam retina mata tidak hanya bergerak acak, tetapi tersusun sedemikian rupa sehingga mampu menangkap foton cahaya dan mengubahnya menjadi informasi visual. Demikian pula, atom-atom di dalam koklea telinga tersusun dalam struktur yang mampu membedakan frekuensi suara dari desisan angin hingga simfoni Beethoven. Susunan yang begitu presisi dan fungsional ini memunculkan pertanyaan: apakah semua ini hasil dari kebetulan fisika semata, atau ada “prinsip pengorganisasian” yang bekerja di baliknya? Dalam bahasa agama, ini sering disebut sebagai tanda-tanda kebijaksanaan Ilahi; dalam bahasa filosofis, ini adalah bukti dari logos atau akal yang mengatur alam semesta.
Di sisi lain, kemajuan ilmu saraf dan mekanika kuantum telah memunculkan hipotesis yang lebih berani. Beberapa ilmuwan seperti Roger Penrose dan Stuart Hameroff mengajukan teori bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel saraf. Jika teori ini benar, maka atom-atom bukan sekadar “batu bata” pasif, tetapi mungkin memiliki dinamika kuantum yang memungkinkan munculnya kesadaran. Namun, bahkan hipotesis ini pun tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan mendasar: apakah dinamika kuantum itu sendiri adalah asal-usul kesadaran, atau hanya mekanisme yang digunakan oleh kesadaran yang lebih tinggi untuk berinteraksi dengan dunia materi?
Pada akhirnya, eksplorasi atomik terhadap pancaindra manusia justru mengungkap batas-batas pengetahuan materialistik. Mikroskop elektron bisa menunjukkan kepada kita struktur atomik retina, tetapi tidak bisa menunjukkan kepada kita pengalaman melihat warna merah. Sensor kimia bisa menganalisis komposisi molekul aroma bunga, tetapi tidak bisa menangkap nostalgia yang muncul saat kita menciumnya. Jurang antara deskripsi objektif dan pengalaman subjektif ini yang dalam filsafat mind disebut “the hard problem of consciousness” tetap menjadi misteri terbesar.
Mungkin, jawabannya terletak pada perubahan paradigma. Daripada memandang atom sebagai entitas terakhir dan kesadaran sebagai ilusi, kita bisa memandang kesadaran sebagai realitas primer, dan atom-atom sebagai manifestasi atau ekspresinya di level materi. Dalam perspektif ini, panca indra bukanlah pembatas, tetapi jembatan yang memungkinkan kesadaran yang tak terbatas untuk mengalami dunia yang terbatas, dan melalui pengalaman itulah kita diajak untuk mengenali hakikat kita yang sejati.
Kesimpulannya, manusia dan pancaindranya dalam perspektif atomik mengungkap dua lapisan realitas:
Menyadari hal ini bukanlah akhir dari pencarian, justru awal dari penghayatan yang lebih dalam. Rahmat terbesar mungkin bukan sekadar memiliki pancaindra, tetapi memiliki kemampuan untuk merenungkan siapa diri kita di balik semua mekanisme atomik ini. Sebab, sebagaimana atom-atom yang tak pernah lelah bergerak atas perintah yang tak kita ketahui, mungkin kita pun sedang menjalankan peran dalam skema kosmik yang jauh lebih agung.
Artikel ini mengajak kita untuk melihat kelima pancaindra bukan sebagai akhir dari pengalaman, tetapi sebagai jendela yang membimbing kita untuk bertanya lebih dalam: Jika atom butuh penggerak, maka siapakah penggerak di balik kesadaran kita? Mungkin di situlah letak pertemuan antara sains, filsafat, dan spiritualitas tempat di mana keajaiban material bertemu dengan misteri kesadaran yang tak tersentuh.
Daftar pustaka
Penrose, R. (1965). Keruntuhan gravitasi dan singularitas ruang-waktu. Physical Review Letters , 14 (3), 57.
Hameroff, SR (1994). Koherensi kuantum dalam mikrotubulus: Dasar saraf untuk kesadaran yang muncul?. Jurnal studi kesadaran , 1 (1), 91-118.
Al-Arabi, I. (1946). Fusus al-Hikam.
Capra, F. (2010). Tao Fisika: Sebuah Eksplorasi Paralel antara Fisika Modern dan Mistisisme Timur . Publikasi Shambhala.
Stock, ME (1960). Pierre Teilhard de Chardin, Fenomena Manusia.
Penulis: Gunawan Soamole
Editor: Apdoni Tukang
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…