Resensensi buku
LPM Mantra—Membaca memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans, membawa pembaca pada ruang yang sangat gersang. Pembaca akan dibuat marah, menangis dan merasakan luka yang begitu mendalam. Aurelie Moeremans tidak mengajak pembaca untuk masuk emosi, tetapi membawa pada kesadaran yang selama ini belum banyak diketahui. Bagaimana tidak, sebuah permasalahan yang ada lingkungan disekitar, tetapi masih banyak yang belum menyadari begitu mengerikan dampaknya bagi anak.
Buku ini menceritakan perjalanan panjang seorang anak gadis 15 tahun yang memiliki mimpi. Seorang anak ceria dan berpertasi memilih tanah kelahirannya untuk cita-citanya. Tujuanny adalah Indonesia, di mana negara ini yang membawa Aurelie untuk menjemput cita-citanya menjadi pemain senitron. Sesampai di Indonesia, ia mulai menjalani karirnya menjadi aktris. Di saat anak 15 tahun kebanyakan bermaian bersama teman-teman, berbeda dengan Aurelie yang sudah menghabiskan wakrunya untuk bekerja dan belajar di usia muda. Ia menghabiskan waktunya di lokasi syuting, belajar dan bersama keluarga. Ia anak yang ceria dan belum mengenal apa itu pacaran.
Namun keceriaan itu beruba saat ia mulai kenal dengan Bobby, pria dewasa berusia 29 tahun. Bobby datang kepada anak 15 tahun itu lalu menawarkan sebuah ruang yang anak usia 15 tahun tak tahu apa artinya “Kamu mau jadi pacarku?” hal 23. Pertanyaan ini diajukan oleh seorang laki-laki 29 tahun kepada anak perempuan yang masih sangat polos. Sebagai anak polos yang tak tahu apa-apa tentang apa itu pacara, walau sempat ragu tetapi tetap ia menjawab iya. Pertanda ia setuju menjalani hubungan.
Aurelie Moeremans tidak tahu bahwa dengan berkata iya, kehidupannya beruba. Walau masih di usia anak-anak, Bobby mulai mengenalkan pada Aurelie kecil pada hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak-anak salah satu berciuman. Lebih parah lagi, Bobby melakukan ini tidak hanya dalam keadaan berdua, tetapi di depan orang tua Aurelie kecil Bobyy mulai melakukannya.
Setelah mereka pacaran, Bobyy mulai bertingkah seanaknya kepada Aurelie. Aurelie tidak bisa berbuat apa-apa selain bisa patuh. Hubungan mereka terus berlanjut samapai tiba Bobyy meminta agar Aurelie mengirimkan foto-foto tanpa busana. Hal ini terus berlanjut sampai pada pengancaman kepada Aurelie, jika dia tidak mengirimkan lagi foto kepada Bobyy, maka foto-foto sebelumnya akan disebarkan. Mulai pada saat itu, Aurelie kecil hanya bisa patuh pada apa yang diminta Bobyy.
Memoar Aurelie Moeremans mengajak pembaca menyadari satu hal, yaitu jangan sampai anak-anak perepuan lain terjebak pada situasi yang sama, terjebak pada kenyamanan yang diberikan orang dewasa. Aurelie kecil menyadari hal ini salah setelah ia dewasa “Ia dijebak”. Aurelia memberikan cotoh lansung yang mana awalnya Bobyy datang membawa kenyamanan, rayuan juga pujian yang membuat Aurelie terjebak. Dan pada akhirnya sampai pada child groming. (Hardianti Fitri, 2023) child grooming merupakan proses mendekati anak dengan tujuan membujuk mereka agar mau melakukan aktivitas seksual.
Pesan lain yang ingin disampaikan Aurelie Moeremans kepada pembaca adalah agar anak-anak perempuan selalu diawasi, terkhususnya interaksi dengan orang dewasa yang sudah tidak sehat. Aurelie memperlihat bagaimana mengerikan jika seorang anak terjebak pada hubungan dengan orang dewasa. Awalnya begitu baik dilihat, karena ada perhatian dari orang lain, namun hal ini awal mula anak-anak mulai masuk parangkap.
Sebagai anak perempuan yang sudah terjebak pada permainan orang dewasa, yang terjadi mental dan masa depan anak akan dipertaruhkan. Hal ini Aurelie ceritakan dalam kisahnya. Setelah terjebak, anak-anak tidak bisa berbuat apa-apa selain hidup dalam ketakutan.
Berikut penggalan kisah yang dibagikan Aurelie dalam memoarnya Broken Strings “Papaku tinggal di Indonesia sebulan dan melihat sendiri bagaimana Bobby masih datang ke apartemen setiap hari, masih mengaturku, masih marah untuk hal-hal sepele, bahkan hanya karena aku menjawab pesan terlalu lama. Papaku melihat bagaimana aku terus menangis, bagaimana beban di pundakku tidak pernah hilang.” Broken Strings Aurelie Moeremans hal 48.
Kutipan ini memperlihatkan anak remaja 15 tahun harus menerima beban setelah menjalani hubungan dengan Bobyy pria 29 tahun.
Referensi
Hardianti Fitri, W. K. (2023). Sosialisasi Child Grooming : Cyber Crime yang Mengintai Anak-Anak di Era Digital. Jurnal Pengabdian Literasi Digital Indonesia, 90.
Artike ini telah tayang di Halmaherapedia.com dengan judul Mencegah Child Grooming Lewat Buku Memoar Broken Strings Karya Aurelie Moeremans
Penulis: Apdoni Tukang
Editor : Tim Redaksi
UKM Media-Jurnalistik
~ Ritual Bertutur Mahasiswa ~
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun
“Kebenaran tak bisa dibungkam dan Fakta adalah garis terakhir pertahanan”
Ada sesuatu yang selalu ditakuti sang penguasa, yakni warganya yang mulai saling menemukan. Bukan sekadar…
LPM Mantra-Pelataran jalan Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan begitu ramai, saat pagelaran nonton bareng…
LPMMantra—Nonton bareng (Nobar) film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono yang di gelar Unit Kegiatan Mahasiswa…
LPMMantra—Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun menggelar pelatihan menyusun outline.…
LPMMantra—Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di kawasan Benteng Oranje dibubarkan…
FotoLPM MANTRA_Sanggar Tomahotu Tubo menyelenggarakan acara nonton bareng (nobar) serta diskusi film dokumenter yang berjudul…