M. Tamhir Tamrin/Istimewa
LPM Mantra—Dinamika kampus di internal Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun akhir-akhir ini diwacanakan paska kehadiran Bupati Halmahera Tengah (Dr. Ir. Ikram Malan Sangadji, M.Si). Kedatangan Bupati Halmahera Tengah ini, tak lain dan tak bukan adalah mengisi agenda prioritas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya yaitu kuliah tamu. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya menghadirkan kegiatan kuliah tamu tentu menghadirkan banyak polemik di kalangan mahasiswa. Sebagian kelompok mengatakan bahwa ini adalah desain kepentingan oleh BEM FIB. Tentu mestinya kita telusuri sebuah problem biar analisis terkait kehadiran bapak Bupati tidak bias dalam pemaknaan.
Sebagian kelompok tentu mengatakan bahwa ini adalah kepentingan BEM FIB, tapi kehadiran bapak bupati merupakan apresiasi banyak kelompok di tengah situasi industrialisasi yang begitu masif di Halmahera Tengah. Banyak problem yang hadir di daerah Halmahera Tengah, dan kehadiran Bupati Halmahera Tengah justru menghadirkan ruang dialogis di tengah masifnya problem yang ada ” Geopolitik Dan Kebudayaan Lokal”. Tema ini sengaja didesain oleh BEM FIB tak lain hanya bagaimana melihat pandangan bupati dalam pandangannya terhadap Geopolitik dan Kebudayaan. Ruang ini di desain tidak hanya untuk bapak bupati justru ruang ini adalah ruang dialogis bagi seluruh mahasiswa sekalian. Toh undangan terbuka.
Pemaknaan memang luas dalam kode etik penulisan dan kita saling memahami terkait pandangan orang yang bagi saya sendiri agak subjektivitas. Tetapi bagi saya inilah dinamika. Justru ruang dialogis yang semacam ini harus dimasifkan di tengah situasi kampus hari ini di mana ruang literasinya semakin minim.
BEM FIB tentu bukan baru kali ini menghadirkan sebuah tokoh publik dikegiatannya, sebelumnya dalam kegiatan dialog BEM FIB juga pernah menghadirkan Wakil Ketua DPRD Kota Ternate Jamian Kolengsusu sebagai pembicara.
Mestinya kegiatan ini diapresiasi karena ruang dialogis semacam ini masih terbatas di kalangan mahasiswa. Soal idealisme, kami yakin dan percaya BEM FIB masih menjadi pilar. Terbukti di beberapa problem, BEM FIB selalu melibatkan diri dalam melakukan demonstrasi dan mengkritik beberapa kebijakan pemerintah.
Namun, saya yakin dan percaya pasti ada kelompok yang mengatakan toh kenapa mestinya Bupati Halmahera Tengah yang diundang? Pertanyaan ini pasti muncul di benak sebagian kelompok. Justru inilah ruang yang pas bagi kita untuk menyampaikan sebuah problem yang ada dan meminta sikap dan juga pemerintah Halmahera Tengah dalam melihatnya. Di lain sisi pemerintah punya kebijakan terkait hal yang demikian makanya ini adalah desain BEM FIB biar kita saling menyerang dalam sesi gagasan untuk melihat kebijakan. Lalu kenapa tidak mengundang akademisi atau yang lain? Tentu ini juga menjadi pertanyaan akademisi memang punya potensial secara gagasan dalam melihat situasi geopolitik dan kebudayaan tetapi kritikan kita akan terlihat cuman-cuma sebab akademisi tidak punya kebijakan dalam mengambil sebuah keputusan. Justru Bupati lah pengambil sebuah keputusan jadi ruang ini sangat tepat sekali di buat oleh BEM FIB
Penulis: Tamhier Tamrin (Sekertaris BEM FIB)
Editor: Apdoni Tukang
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…